#30HMBCM
Oleh: Fila KA
Pada hadits yang Abu Hurairah riwayatkan, Rasulullah bersabda:
“أقرب ما يكون العبد من ربه و هو ساجد, فأكثروا الدعاء” [رواه مسلم].
Aqrabu maa yakuunul ‘abdu min rabbihi wahuwa saajidun, fa aktsaruud du’aa-a
“Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-Nya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah berdoa.” (HR Muslim)
Doa adalah anugerah yang diberikan oleh Alllah untuk hamba-Nya. Gimana tidak, dari segalanya tentang Allah yang gaib dan mustahil kita indera, Allah memberi ruang khusus melalui jalur doa, tempat berkoneksi langsung antar hamba kepada Pencipta. Maka doa adalah salah satu anugerah dari-Nya yang sangat perlu kita syukuri.
Ketika berdoa, kita tidak pernah tahu kapan pinta itu dikabulkan, hanya Allah yang tahu waktu terkabulnya doa tersebut. Akan tetapi kita tetap berdoa, tersebab hanya ingin berdialog dengan Pencipta dari sesaknya dunia. Setinggi itu keyakinan bahwa keluhan seberat apa pun, kita yakin Allah dengar.
Dunia memang tidak di-setting untuk bahagia dan bukan pula tempat bermain. Oleh karenanya, Allah ciptakan ruang ketenangan jiwa, sujud, ruang bebas mengeluh atas semua hal yang coba kita jalani di kehidupan ini. Ruang yang hanya Allah ciptakan spesial untuk hamba-Nya. Ia berbisik di tanah dan terdengar hingga ke langit tertinggi. Ruang di mana hanya ada dia dan Allah saja yang mengetahuinya.
Dahulu aku pernah dalam kondisi rumit, ya, kita semua pasti pernah berada di posisi itu. Dan pada keadaan tersebut, terasa tidak ada ruang untuk kita menangis dan bersedih, sendirian, tertinggal. Hanya Allah yang mengulurkan tangan, menyediakan tempat untuk kita memulangkan lelah.
2024, tahun teraneh untuk perasaanku. Tahun hilang arah, berhenti menyukai hobi yang dahulu kuperjuangkan, menghapus naskah yang sudah susah payah kubuat, mebuang postingan, menghapus file dan aplikasi penting yang biasanya untuk menyalurkan hobi dan masih banyak kekosongan lainnya. Semangat hilang begitu saja, dan aku tahu sebabnya, hanya masalah sepele perihal perasaan yang kurang terkontrol.
Masa gelap itu kuhabiskan dengan bengong, merenung, dan menangis. Lucu memang, hanya satu masalah sepele membuat seluruh rencana hidupku setahun itu berantakan. Poin positif dari keadaan tersebut yang kusadari sekarang adalah, itu momen terdekatku pada Pencipta. Malam-malam yang biasa kusia-siakan, justru habis dengan menangis di tiap sujud. Tahajud yang biasa kulakukan mepet subuh, mendadak dikerjakan dua jam sebelum subuh, menangis sendirian di masa hening itu.
Seiring berjalannya waktu yang terus maju, aku mulai kembali memberanikan diri untuk meluruskan niat, merapikan yang kemarin sangat berantakan. Menyusun apa yang salah, yang perlu kuperbaiki dan apa gerak yang harus kulakukan. Note di handpone itu penuh dengan langkah-langkah kecil yang perlu kuambil.
Aku tahu, momen luka tersebut adalah kasih sayang Allah, menjauhkan aku dari kemaksiatan yang mulai kuanggap normal. Aku sadar, Allah menegurku, menarik untuk kembali, menunduk dan berharap hanya pada Allah.
Sujudku panjang sekali, berisi tangis, aduan, sesak dan permohonan panjang, untuk menghapus sedih yang terus merayap di hati. Aku sadar, setelah membuat Allah marah, Dia mengajari aku satu pelajaran penting dalam hidup dan sujudku itu berisi pertaubatan hamba-Nya ini yang sangat keluar jalur-Nya.
Di situ aku menyadari bahwa sujud benar-benar sebagai tempat terkoneksinya hati hamba langsung kepada Pencipta. Dan aku bersyukur, Allah menyediakan ruang indah itu, tempat di mana hanya Allah saja yang tahu dan mendengarkan.
Makna hadits di atas bukan hanya menunjukkan ruang khalwat atau berduaan bersama Allah saja, melainkan sujud adalah ruang terendah seorang hamba yang sangat membutuhkan Penciptanya. Tempat di mana seorang hamba meletakkan kepala —bagian terhormatnya, di tanah —tempat terendah, ini bentuk penyerahan diri dan ketaatan kepada Pencipta.
Rasul di hadits lainnya juga mengatakan bahwa beliau lebih sering berdoa ketika sujud. Mengartikan bahwa berdoa sambil sujud itu lebih utama dari pada dengan berdiri atau duduk. Akan tetapi, Rasul juga menganjurkan kita untuk berdoa di keadaan apa pun, sebab Allah tetap mendengar di mana pun hamba berada dan dalam kondisi apa pun.
Terkhususnya doa-doa baik, untuk keadaan yang berat. Allah menemani kita di kala bahagia dan duka dan Allah sangat suka mendengar seorang hamba berdoa, mengeluh pada-Nya. Karena keadaan tersebut menandakan seorang hamba membutuhkan Tuhannya.
Kadang kala Allah sengaja memberi hambanya ujian supaya kita sadar dan pulang kembali menyandarkan keletihannya di dunia hanya untuk dibagi dengan Allah Taala. Alamiah manusia sangat suka dan butuh untuk didengarkan bukan? Maka Allah sediakan ruang khusus untuk kita karena hanya Allah saja yang paling tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya.
Dunia sengaja tidak Allah ciptakan sebagai tempat bahagia, melainkan sebagai medan pejuangan yang di dalamnya kita tertatih-tatih, luka, sakit dan menemui banyak rintangan lainnya karena Allah tidak pernah menjanjikan kita hidup abadi di dunia. Allah sudah menyediakan tempat abadi yang lebih indah, kita hanya perlu selalu merasa butuh Allah, senantiasan taat untuk mendapat ridho-Nya dan kemudian pulang pada tempat abadi yang lebih indah dari dunia.
Manfaatkan doa, ruang spesial yang Allah beri untuk tiap hamba. Ruang permohonan dan pertaubatan manusia.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 26






















