Sangkar Burung

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Nurhy Niha

CemerlangMedia.Com — Setelah ayah dan ibu berpisah, aku hidup sebatang kara. Mereka telah memilliki keluarga baru yang membuat aku tak dianggap ada. Untung saja sekolahku sudah selesai. Aku ke luar dari rumah ayah dengan alasan bekerja. Bekerja serabutan. Pagi jadi ojek online dilanjut siang sampai malam, aku jadi pelayan di kafe.

Aku ingin sekali kuliah, tetapi untuk makan sehari-hari saja pontang-panting. Bisa bayar kost dan bayar cicilan motor sudah alhamdulilah. Terkadang aku nyambi menjadi calo tiket atau buruh bangunan proyek. Aku malu rasanya minta uang pada ayah, keadaan ekonominya tidak stabil ditambah ada adik-adik yang masih menjadi tanggungan. Kalau ibu tinggal di luar pulau, ikut suami barunya dan memang hubungan kami kurang baik.

Beberapa kali aku terkena orderan fiktif dan itu sungguh merugikan. Rugi waktu dan uang tentunya. Driver lain juga banyak yang mengalaminya. Beginikah nasib akar rumput yang selalu dipermainkan seenaknya?

Kami hanya mencari uang untuk bertahan hidup, bukan untuk memperkaya diri. “Mana keadailan untuk kami?” sambil menangis aku menggerutu dalam hati.

Tak punya tempat untuk pulang, harus bertahan dalam kerasnya hidup. Di jalanan, aku banyak melihat seorang ayah yang rela menahan lapar dan ngantuk demi bisa mengumpulkan uang lebih banyak. Ada juga beberapa pelayan wanita yang menahan malu dimarahi pelanggan hanya agar tidak dipecat.

Orang yang bekerja di bidang jasa seperti kami sering sekali diremehkan dan dianggap sepele oleh beberapa orang yang merasa di atas kami. Saat menjadi buruh bangunan, aku pernah kerja lembur selama hampir sebulan untuk mengejar waktu proyek. Kalau aku libur, maka akan banyak orang yang menggantikan posisiku. Selain tubuh yang rasanya hampir remuk, mental pun ikut hancur karena makian dari mandor kakau kami kerja lambat.

Usiaku belum 20 tahun, tetapi aku sudah merasakan kerasnya hidup. Berbagai pekerjaan pernah aku coba, dari yang santai sampai cukup menyiksa. Semua aku lakukan untuk bertahan hidup.

Suatu malam dalam perjalanan pulang, aku melihat seorang anak berlari minta tolong. Anak itu mengatakan bahwa dia harus kabur dari orang jahat. Tanpa pikir panjang, aku membawanya dalam motorku. Mencari kantor polisi terdekat agar bisa dicarikan orang tuanya. Saat menuju kantor polisi sebuah mobil mengikutiku sepertinya itu mobil penculik.

Kami kejar-kejaran sampai aku berhasil meloloskan diri dan berhasil membawanya ke kantor polisi. Ketika aku menceritakan kronologinya, datanglah beberapa orang laki-laki yang melaporkan penculikan. Betapa terkejutnya aku, ternyata anak yang aku tolong adalah anak yang mereka ceritakan. Bila disambungkan mereka bercerita seolah-olah aku penculiknya.

Anak yang aku tolong sedang ditenangkan Polwan. Beberapa lama kami menunggu sambil mencocokan cerita dari dua versi yang berbeda. Salah satu dari laki-laki tadi mengaku sebagai ayah dari anak kecil itu. Setelah keadaan tenang semua dipertemukan dan polwan bertanya,

“Via, apakah ada yang via kenal?” Anak itu melihat orang yang mengaku ayahnya sangat lama.

“Itu ayah….. ngeee….” sambil menangis menunjuk orang tadi.

Orang tadi mendekati anak itu kemudian mengendongnya seolah sedang mengatakan sesuatu.

“Kakak itu penculik… ngeee…” ucap anak itu menunjukku.

Semua mata tertuju padaku. Alangkah kagetnya aku, berniat menolong malah dituduh penculik.

Aku langsung ditahan berdasarkan keterangan orang tua anak itu dan pengakuan langsung anak itu.

Mimpi buruk apa ini? Apaku belum tidur tapi sudah bermimpi seburuk ini.

Aku terjaga sepanjang malam. Mempertanyakan penculik mana yang mengantarkan korbannya ke kantor polisi? Logikanya, bagaimana tolong jelaskan padaku? Apakah hukum di negeri ini serusak itu?

Keesokan harinya, ayah datang. Ayah marah dan menuduhku sebagai penculik anak. Aku kecewa, belum mendengar penjelasanku, ayah sudah menghakimiku. Seburuk itukah aku? Bahkan, ayah bilang malu punya anak seperti aku. Kata-kata ayah lebih menyakitkan dibandingkan aku dituduh sebagai penculik.

Ayah yang aku harapkan menolongku, malah ikut menuduhku. Ayah pergi dengan kemarahan dan bilang tidak akan mengurusiku, membiarkanku di penjara tanpa pembelaan.

Proses demi proses berlalu dan aku terbukti bersalah dalam kasus penculikan anak. Aku divonis lima tahun penjara dari tuntutan 12 tahun penjara. Masa depanku hancur sembelum aku sempat membangunnya.

Aku menjalani masa tahanan dengan ikhlas, mau bagimana lagi. Bebas pun aku sebatang kara dan tetap harus berjuang. Lebih baik aku seperti burung yang ditahan dalam sangkar. Aku tidak peduli orang di luar sana menganggapku apa. Mereka tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan.

Setahun berlalu, tak ada satu orang pun yang menjengukku. Jangankan teman, keluarga saja tak ada yang datang. Katanya ibu kota lebih kejam, ternyata ibuku yang tak peduli nasib anaknya lebih kejam.

Tahun kedua menjalani masa tahanan, aku dibebaskan. Tenyata orang tua yang mengaku anaknya diculik adalah sindikan perdagangan anak. Jujur, aku tak menyangka bagaimana bisa seorang ayah menjual anaknya sendiri. Aku pikir orang tuaku yang paling kejam, ternyata ada yang lebih kejam. Anak sekecil itu harus menjadi korban perdagangan manusia.

Aku tahu, kesulitan ekonomi pasti menjadi alasan mereka melakukannya. Di mana hati nurani mereka? Di luar sana ada banyak ayah yang berjuang mati-matian agar anaknya tetap hidup, tetapi apa ini? Seorang ayah menjual anaknya sendiri?

Pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat makin menyuburkan tindakan pidana seperti ini. Aku kaget saat aku tahu ada aparat yang terlibat dalam tindakan ini. Tidak heran, aku bisa berakhir di sini. Mana ditahan pula selama hampir dua tahun. Sungguh, kezaliman yang terorganisir.

Kejadian di dunia ini penuh misteri dan teka-teki. Selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Misalnya kenapa aku ada di penjara? Setelah hampir 2 tahun aku sadar banyak sekali cerita dan pelajaran yang aku ambil. Penjara tak seseram yang dibayangkan, bahkan aku merasa ini adalah rumahku. Memiliki keluarga baru yang nasibnya hampir sama. Mereka masuk memang karena tindakan kriminal, tetapi saat di sana mereka manusia biasa yang punya sisi rapuh dan sisi manusiawi.

Beberapa dari mereka ada yang terpaksa melakukannya seperti ada yang terpaksa mencuri untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ada yang melakukan tindakan kekerasan dalam rangka mempertahankan diri. Semua punya cerita dan punya alasan untuk ceritanya.

Aku tahu hidup di negeri ini sungguh sulit, bahkan katanya ada yang masuk surga jalur jadi warga +62. Alangkah lucunya negeriku ini.

Saking lucunya, sepertinya aku lebih memilih di penjara saja daripada harus bebas. Terkadang hidup dalam sangkar burung lebih baik daripada hidup bebas dalam hutan belantara.

Saat aku diberitahu akan bebas sesungguhnya aku bingung. Akan ke mana aku saat bebas nanti? Aku bahkan minta penjaga penjaga untuk memperlama masa tahananku. Aku berseloroh, “Pak, bagaimana kalau aku melakukan pencurian saja saat bebas nanti biar aku bisa masuk lagi?”

“Langit, usiamu masih muda. Kamu masih punya masa depan dan bekal hidupmu sudah lebih dari cukup,” nasihat Pak Joko

“Kalau kamu rindu dengan kami di sini, kamu bisa berkunjung ke sini,” lanjut Pak Joko, penjaga yang sudah aku anggap kakak.

Haru rasanya mendengar ucapan Pak Joko. Aku harus semangat dan aku akan memanfaatkan kebebasanku dengan baik. Menjalani kehidupan yang lebih baik dengan bekal keahlian yang aku dapatkan selama di penjara.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 11

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *