Seblak dan Es Teh

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Nurhy Niha

CemerlangMedia.Com — Aku teringat pembicaraan dengan ibu tentang Nami. Ibu yang makin tua khawatir karena Nami menolak untuk dikenalkan dengan laki-laki pilihan ibu. Sebenarnya ibu tidak masalah kalau Nami punya pilihan sendiri, yang terpenting ibu ingin Nami memiliki pasangan.

Aku dan Nami sering sekali menghabiskan waktu bersama. Seperti yang kami lakukan sekarang, pergi makan seblak di dekat sekolah anakku. Kami pesan seblak dengan topping pilihan kami masing-masing dan minuman wajib kami, es teh dengan banyak es. Sebenarnya aku dapat misi penting dari ibu untuk membujuk Nami menikah.

Usia Nami sudah lebih dari cukup menikah 27 tahun. Sejak lulus kuliah, lalu melanjutkan bekerja, Nami seperti sibuk dengan dunianya. Ibu sudah membujuk Nami dengan berbagai cara, bahkan menjadikan penyakitnya alasan. Semua tidak berhasil dan aku dapat misi ini, siapa tahu kali ini aku berhasil. Walau aku tahu alasan Nami belum mau menikah.

Nami melihat aku yang kerepotan di awal pernikahan membuatnya takut untuk menikah. Aku dulu sering mengeluh dan mewanti-wanti Nami agar tidak cepat menikah. Aku takut Nami merasakan apa yang aku rasakan.

Nami memiliki pekerjaan yang bagus dan sangat menikmati masa kesendiriannya. Overload informasi di media sosial menjadikan orang seperti Nami beranggapan, pernikahan bukan hal yang penting.

Standar kehidupan pernikahan ala tikt** yang sulit digapai membuat mereka semakin berangan-angan tinggi. Lebih baik sendiri daripada harus menderita dalam pernikahan.

Terlebih lagi angka percerian yang tinggi dan makin meningkat setiap waktu. Pemikiran ala feminis yang menjangkiti generasi muda. Kasus perselingkuhan dan KDRT makin membuat pernikahan bagai mimpi buruk.

“Nam, kamu lihat anak-anak itu lucu, ya?” Aku memulai pembicaraan.

“Aku tahu arah pembicaraan teteh kemana,” jawab Nami ketus.

“Iya, coba kamu jelaskan alasan kamu belum siap untuk menikah,” sambungku.

“Teteh liat penjual seblak itu, dia adalah adik kelasku.” Tunjuk Nami dengan ekor matanya.

“Dia menikah muda seperti teteh. Hanya saja dia tidak seberuntung teteh, suaminya hanya satpam sekolah, jadi dia harus bantu cari uang dengan jualan seblak dan es teh.”

“Teteh liat dia memasak seblak sambil menggendong anaknya,” lanjut Nami menjelaskan.

“Teteh yang full jadi IRT tanpa harus bantu suami cari uang saja selalu mengeluh tentang pernikahan. Bagaimana bisa aku tertarik untuk menikah?”

“Mungkin orang lain hanya melihat di media sosial contoh pernikahan yang tidak bahagia, tetapi aku melihat contoh nyata, Teteh dan ibu kita sendiri,” skakmat Nami.

Aku dan Nami memang tidak terlalu dekat dengan ayah karena ayah bekerja di luar kota. Kami punya ayah, tetapi tidak merasakan kehadirannya. Salah satu alasan aku menikah muda adalah karena aku merindukan sosok laki-laki pelindung. Sayangnya, aku tidak menemukan itu dalam suamiku.

Nami adalah saksi jatuh bangun aku bertahan dalam pernikahan ini. Semenjak menikah, Nami adalah tempatku mengadu. Jadi, dia sangat tahu bagaimana aku hampir menyerah pada keadaan. Ada andil aku dalam ketidaksiapan Nami untuk menikah.

“Nami, kamu ingat Tama dan Rama saat bayi sering sakit?” Coba mengalihkan.

Nami diam, sepertinya masih kesal. Dia fokus menikmati seblak. Saat hati penuh amarah, seblak adalah peredanya.

“Tapi Kama tumbuh sehat, padahal mereka adik kakak. Teteh tahu nasib mereka beda, itu pasti. Kama lahir saat Teteh siap menjadi ibu dan sudah berpengalaman.”

“Kalau kamu belum siap, Teteh ngerti, tetapi menjadikan Teteh atau Ibu sebagai alasan kamu tidak menginginkan pernikahan, itu salah.”

“Pernikahan tidak melulu soal bahagia, ada juga pertengkaran dan berbagai rasa di dalamnya.”

“Jadikanlah cerita pernikahan kami bekal agar kamu bisa lebih baik. Dan kamu bukan kami. Cerita Ibu berbeda dengan cerita Teteh, dan ceritamu juga berbeda.”

“Buang jauh semua cerita buruk dalam pernikahan. Kalau kamu terfokus pada hal buruk, maka yang kamu temui adalah hal buruk.” Penjelasanku pada Nami.

“Teteh tidak akan memaksa Nami, hanya Teteh minta Nami mau menuruti Ibu untuk berkenalan dengan laki-laki pilihan Ibu. Kalau tidak cocok, Ibu tidak memaksa” pintaku pada Nami.

Nami hanya diam, aku tau dia mendengarkanku.

Warung seblak ini sangat ramai, selain karena tempatnya dekat sekolah, rasanya juga enak serta murah. Mungkin karena pembelinya anak sekolah, jadi disesuaikan.

Seblak dan es teh telah habis dan kami kekenyangan. Belum siap rasanya harus melangkah pulang. Kami duduk santai menikmati angin. Tiba-tiba tanpa kami sadari, penjual seblaknya mendatangi kami.

“Teh Nami, maaf ganggu,” ucap penjual seblak.

“Iya, ada apa? Tempatnya mau dipakai, ya? Ada yang mau makan di sini?” Tanya Nami.

“Oh bukan, mau tanya sesuatu. Kalau rumah yang dekat pertigaan itu mau dijual ya, Teh? Saya berminat, Teh,” ucap penjual seblak.

“Oh iya punya teman saya. Iya, bagus rumahnya, strategis. Bisa dijadikan tempat usaha juga,” jawab Nami.

“Alhamdulillah, saya ada rezeki hasil jualan seblak dan es teh ini. Padahal dulu jualan buat ngisi waktu karena belum punya anak. Eh, malah keterusan dan dan saya keteteran karena udah punya anak,” cerita penjual seblak semangat.

“Rencananya, suami saya mau berhenti jadi satpam dan ngawasin jualan seblak di sini. Saya mau jadikan rumah itu tempat jualan seblak kemasan, jadi bisa usaha dari rumah seperti yang lagi viral sekarang,” tutup penjual seblak.

“Baik, Teh, nanti kita janjian aja kalau mau lihat rumahnya,” jawab Nami.

Di perjalalanan pulang ke rumahku, Nami diam saja.

Esoknya, Nami menelepon dan memintaku untuk menemaninya bertemu laki-laki pilihan ibu. Aku kaget sekaligus senang, tak tau apa yang membuatnya setuju.

Saat Nami datang ke rumahku, dia cerita kalau bertemu penjual seblak ketika melihat rumah yang akan dijual. Mereka saling bercerita dan dari cerita itu membuka hati Nami tentang pernikahan.

“Teh, aku pikir jualan seblak dan es teh itu adalah bentuk penderitaan dalam pernikahan. Tak disangka, uang malah mengejar mereka,” Nami bercerita.

“Terkadang kita salah sangka menganggap mereka menderita, ternyata mereka menikmatinya. Ya, seperti yang Teteh bilang, kalau aku hanya terfokus pada hal buruk, maka yang aku temui hanya buruknya saja,” lanjut Nami.

Aku senang mendengarnya. Semoga Allah memudahkan semuanya. Apa pun hasilnya, Nami nikmati setiap prosesnya.

Pernikahan adalah kata kerja yang memerlukan aksi nyata. Jadi, Nami harus berusaha untuk mewujudkannya.

Kita terkadang tidak sadar menjadi inspirasi dari keputusan orang lain. Saat aku bercerita tentang pernikahanku, tak terbayang akan membuat Nami berpikir sejauh itu.

Namun, Allah dengan kuasa mempertemukan penjual seblak dan Nami. Pikiran Nami terbuka karena mendengar cerita bahagia penjual seblak yang ingin membeli rumah. Pekerjaan yang sebagian orang meremehkannya, malah menjadi sumber inspirasi.

Aku curiga, Nami akan jualan seblak dan es teh setelah menikah nanti. Aduh, kejauhan mikirnya. Ayo fokus agar pertemuan Nami dan laki-laki itu berjalan lancar. Penasaran, siapa yang akan ibu kenalkan pada Nami.

“Teh, ayo berangkat,” suara Nami menyadarkanku.

“Ayo, bismillah, lancar.”

Kami pun berangkat untuk memulai langkah baru yang diambil Nami.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 42

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *