Sederhana Bersamamu

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

# 30HMBCM

Penulis: Khadijah Azzahra
Bab 1 Mengerti Tentang Kesederhanaan Dari Suamiku

CemerlangMedia.Com — Banyak hal yang kupelajari darimu tentang makna sederhana. Jujur, awal pernikahan aku tak seberapa menganggap serius apa yang sedang kau kritik.

Waktu itu kita sekeluarga besar diundang ke pernikahan teman dari orang tuamu. Di situ aku menggunakan pakaian yang serba glamor menurut pandanganmu.

Mulai dari baju yang tampak mewah dengan dipenuhi payet menyala seperti berlian. Tak cukup dari baju sampai sepatu hak tinggi pun juga dipenuhi dengan payet yang terlihat mewah.

Ditambah dengan menggunakan perhiasan yang cukup lengkap yang tampak di tangan mulai dari beberapa cincin dan gelang. Untuk anting dan kalung tertutupi oleh kerudung.

Tak lupa kupakai tas yang menjadi ciri khas orang-orang yang datang ke kondangan. Bagiku hal demikian umum dilakukan setiap orang yang datang ke kondangan.

Saat itu suamiku hanya bilang, “Dik, adakah baju dan sepatu yang polos?” lhaa… Pikirku ke kondangan kenapa pakai yang polos dan sederhana? Bagiku, pakaian itu adalah cerminan style yang aku pilih.

Jujur, aku belom paham apa yang dimaksud polos dan sederhana itu. Karena belom paham tentang hal tersebut, aku pun tetap menggunakan kebiasaanku dalam berpenampilan ke dalam kehidupanku sehari-hari.

Sampai akhirnya aku mulai paham apa yang dimaksud oleh suamiku tentang kesederhanaan. Diawali dengan kebiasaanku mendengarkan ceramah ustadz-ustadz yang sedang viral, mulai dari Ustdz Oemar mita, Ustadz Hanan Ataki, Ustadz Felix Siau, Ustadz Adi Hidayat dan sampai akhirnya ke Gus Baha.

Sosok beliau yang membuatku kagum dari kesederhanaan cara beliau berpakaian, menggunakan hape jadul yang hanya bisa kirim pesan dan telepon, sepeda motor yang digunakan juga sederhana.

Tapi masyaAllah, sedekahnya, bisa berangkat umroh dan tetap sederhana menjadikan saya berpikir kembali terkait apa yang ingin diajarkan oleh suamiku.

Dari sini awal aku mulai mengkaitkan antara apa yang dimaksud suamiku dengan kondisi bahwa Islam mengajarkan tentang kesederhanaan. Di sini aku mengambil gambaran sahabat Umar bin Khattab yang pakaiannya sangat sederhana dan tidak banyak.

Aku baru menyadari arti kesederhanaan, dan aku malu dengan semua pilihanku selama ini. Ya Allah, ampuni aku jika gaya berpenampilanku telah menjadi contoh adik-adikku atau orang lain yang mengenalku.

Dari sini aku mengubah cara berpenampilanku, meski tidak terkesan mewah dengan manik-manik. Tapi tetap elegan. Kupilih pakaian gamis berwana polos dengan kerudung yang bermotif menyerupai warna gamis.

Kulepas gelang, kalung, dan anting dan kupakai, hanya 2 cincin di tangan untuk hari-hari. Aku ingin ketika ada teman atau tetangga yang bertamu. Ketika beliau wanita, dapat dipastikan bahwa apa yang ia lihat adalah kesederhanaanku.

Di mana aku pakai pakaian rumahan dan tanpa menggunakan perhiasan lengkap, hanya 2 cincin sebagai pemenuhan keinginanku yang menyukai perhiasan. Selain itu, aku pun tak menggunakan make-up lain selain suncreen dan lotion.

Selain perhiasan dan penampilan mewah yang aku sukai, akupun juga menyukai make-up lengkap. Bukan hanya sekadar lipstik atau pensil alis, melainkan sampai pemerah pipi dan teman-temannya.

Dari sekian banyak alat make-up aku berhasil menghilangkan kebiasaanku untuk sederhana, tak berani menggunakan semua itu ataupun salah satu dari itu saat di luar rumah. Meski aku bercadar, sedang Islam mengajarkanku untuk tidak tabbaruj.

Kesederhanaan urusan makanan juga menjadi pelajaran baru dariku. Suamiku mengingatkanku terkait menu makanan harian. Jadi mulai dari belanja sayur dan lauk biasanya tetangga pasti melihat atau menyoroti, kok banyak Mb atau Bu.

Di sini aku memberi jawaban iya, ini untuk beberapa hari ke depan, untuk stok dikulkas. Jawaban yang masuk akal hingga membuat tetanggaku mengangguk.

Tidak cukup di situ, aku pun belajar dari tetanggaku yang belanjanya lebih sedikit dari total belanjaku selama ini. Di mana aku pun ingin mencontohnya, hal ini kuceritakan kepada suamiku sebagai bahan diskusi.

Ternyata ada pelajaran baru yang ingin aku terapkan dari pendapat suamiku. Jadi dalam diskusi, suamiku menggambarkan bahwa dalam kondisi seperti tadi, “Aku khawatir tetangga kita ingin makan apa yang kita belanja hari ini, karena keterbatasan uang mungkin beliau tidak mampu belanja sepertimu.”

“Oh iya juga ya, hampir sama dengan menu masakan atau makanan yang kita beli lalu kita posting, ia kalau yang lihat kepengen dan mampu beli, lhaa kalau tidak bagaimana?” Jawaban suamiku, “Tentu mereka akan membayangkan sembari menelan ludahnya.”

Dari diskusi ini aku lebih memilih belanja tahu dan tempe atau kentang untuk harian, kalau ingin masak ayam, aku beli di toko penjual ayam langsung. Sehingga dari sini tidak menimbulkan kekhawatiran seperti di atas.

Hal yang menarik juga terjadi di sekolah tempat putraku belajar dan bermain. Hari itu kondisi tubuh sangat lemes, tapi kupaksakan untuk mengantar anak kesekolah.

Setibanya disekolah benar-benar lemas dan kupaksakan makan dari bekal nasi yang kutaruh dicangkir plastik dengan lauk tahu dan tempe, sedikit dada ayam filet yang tampak seperti tahu.

Dan posisi saat makan tadi sempet dicuri pandang oleh salah satu ustazah, dalam hati untung aku tidak memakai kotak makan yang seharusnya, dan tidak membawa lauk yang terkesan mewah.

Jadi ketika ditanya masak apa oleh ustadzah, ternyata masakan rumahanku sama dengan mereka. Rasa lega mulai menyelimuti hati dan hal ini aku ceritakan ke suami.

Dengan mengatakan ternyata benar apa yang suamiku ajarkan selama ini berbuah manis dan saya pun bisa merasakannya.

Hal ini yang ingin saya ajarkan kepada buah hati yang sedang berproses mempelajari apa dan mencontoh apa saja yang dilakukan umma dan abinya.

Jika aku tak segera mengambil langkah perubahan ini, tentu sederhana bukan merupakan pilihanku. Dan semua pilihan untuk memilih hidup sederhana itu tidak mudah, saya terus berlatih agar bisa hidup sederhana.

Sampai saya merasa tidak lagi terpengaruh ketika melihat orang lain menggunakan banyak perhiasan, menggunakan make up, atau baju dan sepatu yang mahal dan bermerk terkenal.

Tapi jujur kebiasaan sederhana itu masih belum sepenuhnya terbentuk dan butuh dilatih, sebab masalah casing hp dengan pilihan pink bertabur gliter dan hitam polos membuatku lebih memilih warna pink tersebut.

Alhasil suamiku berkata “terlalu mewah”, dari sini aku berusaha melepas gliter casing warna pink dan memindahnya ke casing hitam agar tampak sedikit menyala tapi tidak terkesan mewah.

Dan dari kedua casing ini saya gunakan bergantian agar, atau dipakai salah satu sampai rusak baru pakai satunya dengan tujuan agar tidak mubazir. Keduanya terbeli tanpa sengaja, sebab salah persepsi dari suamiku. Beliau kira aku belom beli casing hape.

Belajar sederhana itu indah, sebab dalam Islam juga ada pelajarnnya. Hanya saja kita mau mengambil pilihan yang mana, setiap apa yang dapat kita pilih merupakan hal yang nantinya dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Semoga kita semua mampu mengambil pilihan-pilihan yang terbaik untuk kehidupan kita dengan bersandar pada Al-Qur’an dan hadis, dimana semuanya sudah dicontohkan oleh Rasulullah.

(*Naskah ini original, tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 19

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *