#30HNBCM
Oleh: Purwanti
CemerlangMedia.Com, FABEL — Di sebuah taman yang penuh dengan bunga warna-warni, hiduplah berbagai hewan yang selalu sibuk dengan kegiatan mereka. Ada kupu-kupu yang cantik, burung yang bersuara merdu, lebah yang rajin, dan semut yang kuat meski kecil.
Di tengah hewan-hewan itu, ada seekor nyamuk kecil bernama Mumu. Bentuknya sangat kecil, suaranya hampir tak terdengar, dan banyak hewan tidak memperhatikannya.
Suatu hari, saat Mumu terbang mencari tempat berteduh, ia mendengar beberapa hewan tertawa.
“Lihat Mumu!” kata kupu-kupu.
“Dia kecil sekali, apa sih gunanya?”
“Yes, benar,” tambah belalang. “Tidak ada yang bisa dilakukan makhluk sekecil itu.”
Mumu berhenti terbang. Hatinya sedih.
Ia bertanya dalam hati, “Benarkah aku makhluk yang tidak berguna? Mengapa Allah menciptakanku sekecil ini?”
Dengan hati murung, Mumu terbang menjauh dan duduk di atas sehelai daun. Air mata kecilnya jatuh, meski hampir tak terlihat.
Di tengah kesedihan itu, datanglah Kiko, seekor burung kecil yang terkenal bijak.
“Mumu, kenapa bersedih?” tanya Kiko lembut.
Mumu mengusap matanya sembari bercerita,
“Mereka bilang, aku tidak berguna. Mereka menertawakanku karena aku kecil.”
Kiko tersenyum dan berkata,
“Mumu, tahukah kamu? Dalam Al-Qur’an, Allah mengajarkan kita bahwa bahkan seekor nyamuk adalah pelajaran. Allah tidak malu menggunakan makhluk kecil untuk menunjukkan kebesaran-Nya.”
Mumu mengangkat kepalanya. “Benarkah Allah menyebut makhluk kecil seperti aku?”
“Tentu!” jawab Kiko.
“Itu berarti, kamu juga ciptaan Allah yang bernilai. Tidak ada yang sia-sia dari apa yang Allah ciptakan.”
Mumu kembali tersenyum, meski masih ada rasa bingung dalam hatinya.
Tak lama kemudian, suara gemuruh datang. Mendung tebal menggelayut di langit. Angin mulai berhembus kencang. “Badai! Badai datang!” teriak hewan-hewan.
Semua hewan berlarian mencari tempat berteduh. Namun tiba-tiba, terdengar suara panik dari lebah-lebah.
“Telur-telur kami! Mereka tertinggal di ujung daun tinggi! Kami tak bisa terbang melawan angin!”
Semua hewan melihat ke atas daun itu. Benar, ada telur-telur kecil yang hampir terjatuh. Tapi siapa yang bisa mencapainya?
Burung terlalu besar, kupu-kupu terlalu ringan, tetapi tak mampu melawan angin, dan semut-semut tak bisa memanjat setinggi itu.
Kiko menatap Mumu.
“Mumu, tubuhmu kecil dan ringan. Kamulah yang bisa melewati celah angin dan naik ke ujung daun itu.”
Mumu terkejut.
“Aku? Mas… masih bisakah aku melakukannya?”
“Kamu bisa,” kata Kiko, “karena Allah menciptakanmu dengan kemampuan itu.”
Mumu merasa semangat dan keberanian tumbuh dalam hatinya. Ia mengepakkan sayapnya dan terbang perlahan, melewati angin yang berputar-putar, masuk ke celah-celah kecil yang tidak bisa dilalui hewan lain.
Walaupun kecil, Mumu lincah dan cepat. Ia berhasil mencapai daun tinggi itu.
Dengan hati-hati, ia memanggil semut-semut yang kemudian membantu mengangkat telur-telur itu ke tempat aman.
Saat badai mereda, hewan-hewan berkumpul.
“Terima kasih, Mumu!” teriak lebah-lebah.
“Kau menyelamatkan keturunan kami.”
Kupu-kupu dan belalang mendekat dengan wajah menyesal.
“Mumu… maafkan kami. Kami salah menilai. Kamu kecil, tetapi ternyata memiliki keberanian besar.”
Mumu tersenyum bahagia. Untuk pertama kalinya, ia merasa bangga menjadi dirinya sendiri.
Kiko kemudian berkata kepada semua hewan:
“Anak-anak, dengarkan baik-baik.
Allah mengajarkan dalam Al-Qur’an bahwa makhluk sekecil nyamuk pun bisa menjadi pelajaran bagi manusia. Jadi jangan pernah meremehkan ciptaan Allah karena setiap makhluk punya hikmah dan manfaatnya.”
Semua hewan mengangguk mengerti.
Di antara mereka, Mumu si nyamuk kecil berdiri paling bangga karena kini ia tahu bahwa tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 14






















