Suara Hati Seorang Ibu

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Habib Syahriadi
Santri MA Basma Darul’ilmi Wassaa’dah

CemerlangMedia.Com — “Kalau begini terus kehidupan, Rudi tak tahan lagi, Bu. Mohon maaf sebelumnya, Bu, Rudi mau pergi dari rumah ini. Rudi ingin merantau, Bu. Tolong beri izin padaku, Bu.” Aku bersujud di bawah kaki Ibu, bermohon-mohon seperti waktu aku kecil dulu.

“Jangan, Nak, kita tidak punya famili di luar sana. Lagi pula, Ibu hidup sendiri di rumah ini jika kau pergi. Apa kau tidak kasihan melihat ibumu yang tua renta ini?” Ibu menampakkan wajah sedih.

Dalam hatiku berkata, “Karena aku kasihan melihatmu, Bu, makanya aku ingin merantau.” Airmataku yang hampir titik kutahan. Aku paksakan diriku tegar, seolah tak menghiraukan ucapan Ibu.

Aku langsung mengambil tas dan baju secukupnya, lalu pergi menuruni tangga dengan hati yang pilu tanpa menghiraukan panggilan Ibu yang membuat hatiku tersayat, rasa sakitnya seperti digores pedang.

“Nak, jangan pergi. Siapa kawan Ibu di rumah, Nak?” panggil ibu yang berdiri lemas di bibir pintu. Suara itu menusuk-nusuk jantungku.
* * *
Hari mulai gelap. Aku sampai di Jakarta.

“Ah, perutku lapar,” ucapku sambil memegang perut yang kosong. Mataku langsung terfokus pada sebuah kedai bertulisan, kedai Cik Maklimak. Aku memutuskan meminta nasi saja untuk mengirit uangku, siapa tahu ada. Biar saja aku dianggap pengemis.

“Kak, apakah ada nasi sisa?” tanyaku menampakkan wajah iba. Ia memperhatikanku seperti menyelidik. Mungkin ia curiga, aku orang jahat. Caraku meminta ia pikir hanya modus agar aku bisa beraksi mencuri.

“Kalau ada, boleh aku minta nasinya sedikit, Kak?” tanyaku sekali lagi, tak peduli dengan tatapannya yang jelas mencurigaiku.

“Tidak, pergi kau dari sini! Kau kira di sini ada nasi gratis,” ucap penjual itu marah. Aku buru-buru kabur setelah mendengar teriakan yang membentakku itu.

“Susah juga ya, hidup di kota,” ucapku pada diri sendiri setelah masuk gang, sambil mengusap wajah yang gelisah.

Aku melihat jam tanganku, pukul 23.00 wib. Toko-toko sudah banyak yang tutup. Kendaraan yang lalu lalang tidak berapa lagi, seakan dapat dihitung dengan jari sekali memutar kepala.

Aku terus berjalan disaksikan lampu jalanan kota yang bersinar terang. Kepalaku mulai berdenyut-denyut. Perutku yang lapar terus bernyanyi minta diisi. Untung saja ada seseorang lewat yang kasihan, lalu memberiku makanan. Ia tidak bertanya tentangku. Mungkin orang jalanan yang kelaparan sepertiku sudah terlalu banyak di Jakarta.

Setelah merasa kenyang, aku memutuskan untuk tidur di depan salah satu toko yang sudah tutup. Aku menyandarkan tubuhku yang capek dan lelah.

“Hamba menyesal, Ya Tuhan, dengan keputusanku yang gegabah. Ampuni aku, Ya Tuhan. Maafkan aku, Ibu.” Tanganku menengadah ke langit, diringi kepala yang mendongak, seolah-olah Tuhan ada di sana.

“Sedang apa Ibu sekarang ini? Baru terasa tanpa Ibu di sisiku. Rudi telah berdosa Tuhan. Hamba durhaka kepada Ibu,” air mataku menitik penuh penyesalan sampai aku benar-benar tertidur.
* * *
“Nak, pulanglah, Nak. Sudah seharian kamu di luar sana, Nak. Kamu di mana tinggal? Apakah kamu sudah makan? Kamu ngapain aja tadi malam, Nak? Pulanglah, Nak,” tiba-tiba Ibu terjatuh di bibir pintu. Seorang pemuda yang berhati malaikat kebetulan lewat. Ia segera mengejar Ibu yang butuh pertolongan.

“Ya Allah, Buk…Buk…bangun, Buk,” ucap seseorang yang datang menolong.

“Dek, tolong cariin anak saya,” ucap Ibu yang tiba-tiba memaksa dirinya yang lemas bicara dengan napas yang lelah seperti dengusan.

“Tolong berikan surat ini kepada anakku. Kau kan kenal dia?” lelaki itu mengangguk.

“Di mana dia, Bu?”

“Hatiku berkata, ia pergi ke kota.”

“Laa ilaahaillallah,” lafaz terakhir yang diucapkan ibuku.

“Tolong… tolong,” teriakan pemuda tersebut membuat warga berbondong-bondong datang dan membopong ibuku.

“Ibu kenapa, Dek?” tanya seorang warga.

“Langsung saja kita bawa ke rumah sakit, Pak,” akhirnya ibuku dilarikan ke rumah sakit terdekat.
* * *
Aku terbangun dari tidurku. Awan gelap dan suara gemuruh yang sangat kuat seperti memberi tanda buruk untukku. Aku memutuskan pulang menjumpai ibuku. Aku menggunakan alat tranportasi yang sederhana dikarenakan murah ongkosnya.

Di dalam bus, aku melihat seorang anak bersama ibunya begitu akrab. Aku yang sudah melawan ibuku merasa cemburu. Aku berpikir, kenapa aku tidak bisa seperti anak-anak lainnya yang patuh pada perintah ibunya.

Beberapa jam setelah berada dalam bus, aku mendengar suara ambulans. Suaranya membuat pikiranku kacau.

“Jangan-jangan itu,” lirihku dalam hati yang pilu. “Ibu…,” teriakku menggerutu.

Aku tersadar dari lamunanku. Orang-orang melihatku. Aku terus melihat ambulans itu dengan hati yang hancur. Ambulans itu meliuk ke arah simpang gang rumahku, hatiku mulai retak. Apa yang sebenarnya terjadi? Hatiku yang perih bertanya-tanya.

“Pak, berhenti!” Aku suruh sopir berhenti. Aku turun dari mobil secepat kilat, terus berlari menuju rumahku. Aku tersentak di bibir pintu, dan aku terjatuh lemas. Bayangan masa lalu terkumpul dalam kepalaku. Di bibir pintu inilah aku dan ibuku sering duduk berdua, sambil bercerita tentang apa saja.

Aku mengumpulkan tenaga kembali dan pelan-pelan berdiri. Aku berteriak hingga tenggorokanku terasa sakit. Rasa sakit di hatiku seperti dikuliti hidup-hidup. Aku mulai kehabisan tenaga lagi.

“Kenapa ini semua harus terjadi?” Aku lemas bertambah lemas setelah melihat mayat Ibu. Aku terjatuh lagi.

“Nak, kenapa kau tega melakukan ini. Kau tahu apa hukumnya membuat hati orang tua tersiksa? Apalagi ia seorang Ibu. Benar-benar kau anak yang tak mengerti jeritan hati perih orang tua,” suara itu terdengar jelas di telingaku, entah dari mana datangnya. Seolah-olah Ibu yang bersuara, berbisik langsung ke telingaku.

Aku berusaha bangkit dari jatuhku, dibantu orang-orang yang hadir. Air mataku keluar tanpa hentinya, memenuhi pipiku. Aku mencoba kembali memanggil ibuku dengan suaraku yang serak. Aku melihat warga yang diam seolah-olah tidak mendengar suaraku.

“Buuu…, Rudi di sini, Bu. Ini seperti mimpi,” ucapku sedih.

Aku meraba-raba pipiku, melihat sekeliling rumah untuk memastikan apakah ini mimpi atau nyata. Tangisanku makin pecah, rasa sakit makin mengimpit dadaku. [CM/Na]

Views: 141

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *