#30HMBCM
Oleh: Yulianaturrahmah AY
CemerlangMedia.Com — Pagi itu, kota tempatku menumpang harap terasa seperti baru saja terbangun dari mimpi buruk yang enggan ia ceritakan. Debu menggantung di udara, menempel pada rambut, kulit, dan mungkin juga hati orang-orang yang sudah terlalu sering terluka oleh hidup.
Dan di antara bising motor, teriakan pedagang, dan langkah manusia yang tak pernah benar-benar sampai ke tujuannya, aku melihatnya. Sebuah titik biru muda yang memecah kabut.
Anak kecil itu. Kausnya lusuh, tapi senyumnya terang. Senyum yang tampak seperti tambalan kecil bagi dunia yang bolong di banyak tempat.
Rafi. Usianya baru sepuluh tahun, tapi hidup telah memaksanya menjadi dewasa dengan cara yang paling kejam.
Setiap kali aku lewat menuju Rumah Baca Al Mustanir, ia mengangguk kecil kepadaku, seolah kami punya bahasa rahasia: bahasa harapan yang tidak pernah ia ucapkan, tetapi semesta selalu tahu.
Aku masih ingat sore itu ketika ia bertanya dengan mata sebening hujan yang dirindukan semesta:
“Bu Ustadzah … kalau Rafi rajin ngaji, nanti bisa ketemu Ibu di surga, kan?”
Kata-katanya jatuh seperti batu kecil ke dalam danau bening yang selama ini kutata di dadaku. Gelombangnya tidak berhenti, bahkan sampai hari ini.
Rafi kehilangan ibunya dua tahun lalu. Ayahnya pergi … atau mungkin hilang dalam rimba dunia yang tak lagi mengenal arah pulang. Ia tinggal bersama nenek tua yang batuknya lebih sering terdengar daripada suaranya.
Di malam-malam yang dingin, ketika anak seusianya pulang ke rumah dengan seragam sekolah terlipat rapi, Rafi duduk di bawah lampu jalan yang redup, menulis huruf-huruf hijaiyah di kertas bekas bungkus nasi. Ditemani onggokan tisu yang berdebu, terlihat usang hingga tak menggugah pembeli.
Suatu malam aku menemukan ia mengusap matanya, menahan kantuk, menahan dingin, menahan lapar. Tapi tidak menahan semangat.
Ia menunjukkan secarik kertas lusuh padaku. Tulisan tangannya goyah, tapi hatinya tidak:
“Untuk Ibu di Surga.”
“Tulisannya dari mana, Rafi?” tanyaku.
Ia menjawab dengan tawa kecil yang mengandung banyak hal yang tak ia ceritakan:
“Dulu, ibu sering ngajarin Rafi membaca dan menulis….” Mata beningnya menerawang, menembus jantungku. Seolah sedang mengutarakan seonggok rasa yang entah.
Tiba-tiba aku merasa udara malam itu terasa lebih pengap dan lembab. Oksigen seolah menghilang dari kami, meninggalkan sesak. Bagi Rafi, juga aku. Sebuah kata yang kadang susah untuk digambarkan, tapi menyesak saat hadirnya sudah tak lagi terkatakan. Rindu.
“Aku juga sering nyontek tulisan dari bungkus roti ini,” Rafi melanjutkan kata-katanya, sekarang jauh lebih semangat, atau dari situ ….” tangannya terangkat menunjuk baliho raksasa tepat dihadapan kami. Di sana tertulis, “Mau Jadi Apa Yang Penting Sekolah Dulu!”
Selamat Hari Pendidikan Nasional, mari bergerak bersama. Menuju Indonesia Emas!”
Ironis.
Ada anak-anak yang belajar dari guru terbaik. Ada pula anak-anak yang terpaksa belajar dari kehidupan. Rafi berasal dari jenis yang kedua.
Hari-harinya terus bersama kami di rumah baca. Jika hujan turun, ia datang basah kuyup, menenteng plastik kecil berisi tisu yang belum laku.
“Rafi takut uangnya basah, Bu,” katanya sambil menunduk malu.
Tapi matanya … mata itu memantulkan semangat yang tidak dimiliki banyak orang dewasa.
Ia kadang lapar. Kadang menggigil. Kadang kelelahan. Tapi ia tidak pernah absen.
Sore itu langit mendung. Mendung dengan cara yang membuat dada terasa sesak tanpa sebab.
Rumah baca sepi. Tempat duduk Rafi kosong.
Biasanya ia datang terlambat.Tapi ia selalu datang. Matahari turun. Adzan bergema.
Rumah baca tetap sunyi.
Ada sesuatu di dalam dadaku yang runtuh perlahan. Entahlah.
Aku menutup pintu, melangkah pulang dengan perasaan yang tak bisa kuterjemahkan dengan kata-kata. Dan ketika aku berbelok ke arah pasar, dunia tiba-tiba berubah warna.
Orang-orang berkerumun.
Suara panik saling bertumpuk.
Sirene ambulans meraung, memecahkan senja yang baru saja turun.
“Astaghfirullah.”
“Anaknya masih kecil.”
“Cuma jual tisu buat makan neneknya.”
“Anak itu ditendang, Bu … dikeroyok … uang jualannya dirampas.”
Kalimat-kalimat itu seperti anak panah, melesat tanpa sempat kuhindari.
Aku memaksa menembus kerumunan. Dan di tengah lingkaran manusia yang membatu, aku melihatnya. Tubuh kecil dengan kaus biru yang kukenal, darah dan kain putih.
Waktu berhenti. Langit runtuh. Dan aku … aku tidak sanggup memanggil namanya.
Lututku goyah. Napas tercekat. Hidup seperti menutup pintu di wajahku.
Seseorang menutup wajah kecil itu dengan kain putih. Tapi kain itu tidak menutup luka dunia. Tidak menutup luka di hatiku.
Malam itu aku duduk lama di serambi masjid. Hujan turun lagi, seolah langit pun kehilangan kata. Di pangkuanku ada secarik kertas yang sempat Rafi titipkan sore sebelumnya. Surat yang tidak sempat kubaca sampai akhir.
Hurufnya miring. Kertasnya basah.Tapi isinya tidak akan pernah pudar:
“Bu Ustadzah … kalau Rafi udah hafal Qur’an,
Rafi mau ajak Nenek tinggal di rumah yang nggak bocor.
Rafi mau ajarin anak-anak lain ngaji juga.
Nanti Ibu boleh datang, ya?”
Kertas itu menggigil di tanganku.
Atau mungkin aku yang menggigil.
Ada anak-anak yang memimpikan mainan.
Ada anak-anak yang memimpikan sepatu baru.
Rafi memimpikan surga untuk neneknya.
Aku menangis. Bukan hanya untuk Rafi. Tapi untuk negeri yang membuat anak kecil harus bermimpi terlalu berat.
Aku menulis di buku harianku:
“Rafi bukan sekadar korban. Ia adalah wajah negeri ini. Negeri yang membiarkan anak kecil berkreasi di antara suara cacing perutnya yang bernyanyi, menciptakan anak lain yang menjelma predator yang siap mencabik-cabik, karena juga menahan lapar pemikiran dan dadanya oleh miskin nurani.
Sementara orang dewasa berpesta. Negeri yang membiarkan kemiskinan tumbuh, sementara kekuasaan mengeringkan hati manusia.”
Allah telah berfirman:
“Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32)
Dan ketika satu nyawa kecil dibiarkan melayang sia-sia … maka ada peradaban yang sedang runtuh.
Aku menatap langit malam yang masih menangis. Mungkin di atas sana, Rafi sedang menulis surat lain. Bukan lagi untuk ibunya, bukan untukku, tapi untuk Rabb-nya:
“Ya Allah … Rafi sudah nggak lapar lagi. Rumah Rafi nggak bocor lagi. Rafi sudah pulang.”
Aku menutup diari itu sambil berdoa diam-diam. Semoga suatu hari, ketika negeri ini kembali diatur dengan hukum-Nya, tak ada lagi anak kecil yang harus menulis surat dengan air mata. Yang tersisa hanyalah senyum. Dan negeri yang dirahmati.
Tamat.
(*Naskah ini original, tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 42






















