Wajah yang Tidak Dikenal

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM2

Oleh: Fitri Sumantri

CemerlangMedia.Com, STORYTELLING — “Terkadang dalam keramaian, wajah asing bisa terasa lebih dekat, lebih jujur dari pada wajah yang sudah lama kita kenal. Karena kadangkala, wajah asing itu menyimpan misteri yang tak semua orang berani memahaminya.”

Di rumah sakit yang ramai, banyak orang berjalan mondar-mandir dengan keperluannya masing-masing, tidak hanya untuk pergi berobat, tetapi ada juga yang menjadikan rumah sakit sebagai tempat usaha, tempat di mana pundi-pundi uang bisa di dapat, bahkan badan wakaf saja ada di sana, seolah rumah sakit adalah tempat uang bisa berserakan di segala sudut. Atau barang kali rumah sakit adalah tempat dimana do’a terasa lebih jujur sehingga bersedekah di sana dirasa lebih tulus.

Namun, dalam kerumunan itu, aku seperti seolah merasa ada satu wajah yang selalu terlihat. Dia sering kali berdiri di meja itu, sesekali duduk karena letih. Akan tetapi tak pernah teringat, entah siapa namanya, di mana rumahnya, seperti apa orangnya, bahkan wajahnya saja sering kali lupa.

Penampilannya itu biasa-biasa saja, tidak ada yang begitu mencolok, tampangnya tidak terlalu jelek dan juga tidak begitu cantik, biasa saja. Dia tidak punya ciri khas yang bisa melekat di ingatan. Orang-orang melewatinya setiap hari. Ada yang bertanya kepadanya kapan jadwal dokter datang, di mana arah suatu ruangan, di mana tempat nomor antrean berikutnya di ambil, atau sekadar bertanya tempat fotokopi.

Bahkan, ada yang berdiam diri sekadar melihat atau mungkin menatapnya beberapa detik lebih lama, setelah itu berlalu dan melupakannya begitu saja. Aneh! Ya, ia selalu sadar bahwa dirinya memang di tempat yang selalu berpotensi untuk di lihat, tetapi tidak selalu teringat.

Suatu hari, tampaknya ia tengah mencoba sesuatu yang baru. Baru kulihat dari dirinya setelah beberapa kali aku bolak-balik ke tempat ini. Penampilannya mulai berubah, ada sesuatu yang terlihat mencolok dari dirinya. Bukan lipstik di bibirnya yang merah merona, juga bukan sepatu heelsnya terlalu tinggi, atau kerudung yang melilit di lehernya membuatku merasa tercekik, tetapi sesuatu yang lebih dari itu, seperti senyum yang lebih ramah dari biasanya, berbicara lebih banyak dari biasa, ia mencoba memahami orang-orang lebih dekat.
Hari itu, aku merasa dia seolah benar-benar berubah dan tampaknya orang-orang juga merasa begitu sehingga orang-orang mulai mengernyitkan dahi seperti merasa pernah melihatnya, tetapi entah di mana. Baru mulai mencoba membiarkan otak bekerja sedikit lebih keras untuk sekadar menginggat di mana ia pernah berjumpa, tetapi beberapa langkah kemudian, ekspresi itu hilang, kosong. Buyar karena suara mikrofon yang saling bersahut-sahutan dari meja antrean obat dan meja antrean surat rujukan. Akhirnya, pertemuan singkat itu seolah tidak pernah terjadi, sebab hanya sebentar saja, tak ada yang berkesan.

Untuk terakhir kalinya aku mencoba tersenyum padanya sebagai ucapan selamat tinggal. Sebab, segala urusan sudah selesai, tetapi senyum itu tidak pernah sampai karena mejanya selalu dikerumuni banyak orang. Hal itu membuat ia tak sempat menatap pengunjung satu-persatu.

Pernah ia mencoba berbicara, tetapi suaranya seperti tidak sampai karena suasana di tempat itu sering kali ribut. Suara langkah kaki orang-orang yang berlalu lalang, anak-anak yang berlarian di taman bawah lift, suara mikrofon yang saling bersahutan, suara kursi roda yang saling tabrakan, suara penjual asongan yang tiap sebentar menjajakan makanannya di lorong-lorong rumah sakit, maupun suara penjual pulsa yang selalu berteriak di setiap lantai rumah sakit terdengar riuh sehingga sering kali tak tahu suara mana yang benar-benar harus didengar.

Kucoba menyentuh orang-orang dengan harapan ada yang akan menoleh, lalu bersedia bercerita tentang dia yang yang selalu terlihat ada, tetapi terlupa yang pada akhirnya ia jadi wajah yang tidak pernah dikenal. Namun, aku merasa suara itu hilang, seperti tertiup angin, tak pernah sampai. Mungkin karena suara kipas angin yang besar itu terlalu dekat dengan tempat dudukku atau barangkali di antara batas kursi-kursi memang tak lagi ada ruang untuk saling mengenal.

Pada malam hari waktu sedikit bersahabat, sedikit lebih santai karena jadwal berobat sudah selesai. Hanya ada beberapa orang yang datang untuk membesuk sanak saudara yang sedang dirawat di rumah sakit, itu pun di gedung yang berbeda. Tidak ada yang perlu ditanya lagi padanya sehingga tak ada yang perlu lagi penjelasan atau sekadar petunjuk darinya.

Waktu terasa lebih ramah untuk sekadar merapikan diri di depan cermin. Melihat wajah letihnya yang mungkin saja sesuatu yang terlihat berbeda dari wajahnya tadi pagi atau barangkali sebuah tanda untuk meyakinkan pada diri bahwa ia benar-benar ada. Namun, sering kali wajah di cermin itu mulai terasa asing. Ia coba menyentuh pipinya sendiri, mencoba menghaal bentuk alisnya tadi pagi, warna lipstik, aisedo, blush on, tetapi setiap kali ia berpaling, ingatan tentang wajahnya memudar.

Ya, riasan wajah yang ia pakai dengan cantik dan rapi tadi pagi sudah mulai memudar. Tersisa lipstik tipis pada bibir, blush on yang terhapus keringat, bentuk alis setengah dengan garis putus-putus, serta aisedo yang entah hapus di jam keberapa. Meski wajah di cermin itu kini terasa asing, tetapi ia mencoba menghafal bentuk wajahnya tadi pagi, lama kelamaan dia mulai lupa dan perlahan bukan hanya orang-orang yang tidak mengenalnya, ia pun tidak lagi mengenal dirinya sendiri. Mungkin efek dari terlalu lelah atau barangkali dunia membuatnya makin hari makin begitu ambisius sehingga ia mulai asing pada wajahnya sendiri.

Di hari-hari berikutnya aku melihat ia mulai berhenti mencoba, ia berjalan seperti biasa, seperti sediakala, waktu pertama kali aku berpapasan dengannya. Dia melewati orang-orang yang tidak pernah benar-benar melihatnya. Mungkin ia lelah mencoba. Sebab, setiap kali ia mencoba, ia selalu gagal, ia tetap menjadi wajah yang asing di mata orang-orang.

Namun mau bagaimana, dunia terus bergerak dan dia ada di dalamnya tanpa pernah menjadi bagian darinya. Mungkin di sudut tempat atau bahkan di sudut kota yang lain, seseorang pernah merasa ada yang kurang atau bahkan terasa asing bagi diri sendiri, atau bisa jadi menjadi asing dari kebanyakan orang. Seperti baru saja kehilangan sesuatu tanpa tahu itu apa. Dan barangkali itu dia, wajah yang tak pernah dikenal.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 30

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *