#30HMBCM
Oleh: Linda Ariyanti
“Sayangilah siapa yang ada di muka bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh siapa saja yang ada di langit.” (HR At-Tirmidzi).
***
CemerlangMedia.Com — Rasa sayang adalah fitrah bagi setiap insan, tetapi ketulusan tidak semua orang memilikinya. Ada orang yang menyayangi karena syarat, tetapi ada yang dilakukan semata karena tuntunan syariat. Apalagi saat ada pengorbanan yang harus diberikan, rasanya berat. Terutama bagi generasi muda yang mudah sekali memberi predikat toxic terhadap sesuatu yang mengganggunya, pengorbanan hanyalah mimpi belaka.
Ini adalah kisah kebaikan kakak perempuanku yang berhasil menginspirasi seorang anak kecil sejak masih ingusan sampai bisa menjadi sarjana pendidikan. Dia adalah Devi Saraswati, keponakan sekaligus adik susuan kami berdua. Kebaikan dan ketulusan kakak perempuanku telah mendorongnya keluar dari zona nyaman kehidupan di pedesaan.
Devi adalah orang ke sekian yang telah ditolong oleh kakak perempuanku untuk melanjutkan pendidikan. Aku dahulu juga terus didorong olehnya agar melanjutkan kuliah, meski saat itu kami tidak memiliki cukup rupiah. Tekad kuat dan tentu pertolongan dari Allah Swt., membuatku dan Devi berhasil mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Akhirnya, Devi kini telah menjadi seorang guru. Namun, bagaimana kisah kakak perempuanku yang bisa menginspirasi Devi? Mari kita simak kisahnya berikut ini!
Jadi Ojek Pribadi
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan jalan tanah berdebu, aku lahir dan tumbuh di sana. Sejak kecil, Aku menyimpan rasa ingin tahu yang sangat besar. Sebab, aku memiliki bibi yang sangat berpengaruh bagi hidupku, Riswati namanya, seorang guru di tempat tinggalku. Meski dia bibiku, tetapi dia tidak mau dipanggil bibi sehingga aku memanggilnya “Mbak Ris”.
Sejak berada di bangku sekolah dasar, aku sering memperhatikan kehidupannya. Bahkan, aku juga terlibat dalam aktivitasnya. Sejak beliau kuliah sampai sudah menjadi guru, tidak satu pun luput dari panca inderaku. Anehnya, respons tubuhku seolah ingin meniru apa yang beliau lakukan. Aku ingin kuliah seperti beliau, tetapi aku sadar bahwa perjalananku masih sangat panjang.
Terkadang, aku berguman sendirian, “Masih SD, kok aku pengen cepet kuliah, sih.” Bahkan, ketika seorang guru bertanya tentang cita-citaku, dengan penuh percaya diri aku menjawab, “Devi ingin menjadi seorang guru seperti Mbak Ris.”
Aku juga begitu dekat dengannya. Sejak SD, aku sudah terbiasa mengantar jemputnya untuk mengajar di desa tetangga. Aku bahagia bisa menjadi ojek pribadinya karena ada semangat yang hidup bersama motorku saat melaju ke desa tetangga.
Hal yang tidak terlupakan saat antar jemput beliau adalah perjalanan yang sangat menguji kesabaran karena jalan yang kami lewati cukup terjal. Jalan tanah yang becek saat musim hujan. Bahkan, motorku sering mogok karena terjebak di dalam lumpur. Duh! Hari sial emang gak ada di kalender, ya!
Saat pulang sekolah, beliau selalu mengajakku makan pecel di warung pinggir jalan. Setelah selesai makan, beliau juga selalu bertanya, “Mau pecel lagi gak, Vi, dibungkus?
Aku pun menjawab. “Iya mau, Mbak. Nanti pecelnya buat ibu di rumah.”
Saat berkumpul dengan keluarga, aku sering di-roasting olehnya, “Devi ini jadi ojek pribadiku, model bayarannya double. Bayaran uang sendiri, makanan pun juga sendiri.” Tuturnya sambil tertawa sampai terlihat giginya. Ah, rindu senyum cantikmu, Mbak.
Headset yang Tertinggal
Tahun demi tahun telah berlalu, aku pun sudah lulus SMA. Dua bibiku memboyongku ke Jambi untuk melanjutkan kuliah di UIN STS Jambi. Satu pesan yang sering Mbak Ris sampaikan kepadaku adalah, “Aku cuma bisa ngasih tempat tinggal dan makan, aku gak bisa ngasih uang. Namun, mbak Linda bisa ngasih kamu uang. Jadi, kamu harus nurut sama mbak Linda.”
Hidup bersama dengannya memberiku arti kebersamaan. Banyak kisah dan kenangan yang kurasakan. Satu hal yang tidak bisa kulupakan adalah masakannya yang begitu enak dan nikmat. Aku sangat bersyukur sekali mempunyai bibi yang baik dan sangat menyayangiku, seperti anaknya sendiri.
Singkat cerita, aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman (akhir tahun 2022) dan mengabdi menjadi seorang guru. Dengan senyum yang sama seperti yang kulihat pada Mbak Ris, aku berdiri di depan kelas, mengajar anak-anak dengan penuh kasih dan kesabaran. Bagiku, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati, sebuah perjalanan panjang yang berawal dari keteladanan seorang wanita yang sederhana, tetapi penuh makna, mendiang Riswati.
Namun, ada kisah pilu yang menyayat hatiku. Ternyata beliau begitu kehilangan atas kepulanganku. Masih tersimpan pesannya di ponselku. Pada 9 Januari 2023, beliau mengirimiku pesan,
“Vie, headset kamu tinggal to, ini aku baru pake, koq sedih. Bayanganku, kamu tu masih belum pulang gitu, bentar. Kaya tahun kemaren, kan, pulang terakhiran, gitu. Tadi Mbak Linda pulang cepet. Jadi, kami berdua lagi cerita-cerita. Baru sadar, oh, si Devi udah gak di Jambi lagi.”
Namun, tidak lama sejak pesan tersebut terkirim kepadaku, beliau masuk rumah sakit dan menghembuskan napas terakhirnya 15 Januari 2023. Aku menyesal tidak berada di sampingnya dan tidak bisa melihatnya untuk terakhir kalinya. Namun, rangkaian doa untuknya tak pernah kulupakan.
Selamat jalan Mbak Ris. Allah Swt. begitu menyayangimu. Terima kasih sudah memberiku inspirasi, kasih sayang, dan kebaikan yang belum sempat kubalas. Aku bersaksi bahwa engkau adalah orang yang sangat baik, wanita saliha yang selalu taat kepada suami. Bahkan, saat rasa sakit terus menemani hari-harimu, engkau tak pernah berisik dan mengeluh.
Sungguh benar sabda Rasulullah saw., siapa saja yang menyayangi makhluk di bumi, dia akan disayangi oleh siapa saja yang ada di langit. Aku yakin, malaikat menjemputmu bukan dalam keadaan yang menyeramkan sehingga engkau bisa pulang dengan membawa senyuman.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 9






















