#30HMBCM
Oleh: Eyi Ummu Saif
CemerlangMedia.Com — Siapa pun yang memutuskan untuk hijrah, pasti akan melewati fase ujian. Entah ujiannya itu berasal dari teman, keluarga, atau diri sendiri. Proses menuju hijrah menjadi penentu, apakah seseorang bisa bertahan sampai ujung, hanya separuh jalan, atau bahkan berakhir tumbang.
Tentu Allah akan memberikan ujian sesuai dengan kesanggupan hamba-Nya. Maka ketika Dia, Allah Swt.memilihmu untuk mendapatkan hidayahnya, hal demikian adalah sebuah kado anugerah yang tidak semua orang memilikinya. Hidayah adalah hak Allah Taala yang memberi. Akan tetapi, tergantung pilihan hamba-Nya, apakah langsung mau menerimanya, mempertimbangkan, atau menolaknya.
Benarlah apa yang dikatakan Allah Swt. dalam firman-Nya:
…اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS Ar-Rad: 11).
Seseorang yang ketika ia mendapatkan hidayah dan mau menerimanya, lalu ia berusaha untuk memperbaiki diri, adalah hal yang pasti didamba oleh orang-orang yang sadar berlumur dosa dan meyakini hari penghisaban. Namun ada juga, ketika hidayah Allah beri, ia malah menunda-nunda taubat atau mencari pembenaran atas maksiat yang diperbuat, hingga ia memilih untuk menolak kado hidayah pemberian Nya.
Begitulah hidayah, hanya akan hadir pada hati yang mempersilahkannya masuk. Setelah menerima hidayah, proses selanjutnya adalah hijrah. Biasanya, jika seseorang sudah memutuskan untuk hijrah, maka ia akan berusaha untuk memperbaiki diri. Disinilah, niat dan pengorbanan mulai diperjuangkan.
Niat ikhlas hanya untuk mendapat ridha Allah akan selalu menguatkan, di saat perjalanan hijrah melewati jalanan penuh baru kerikil atau bertemu dengan kenikmatan duniawi yang merayu. Selain niat, seseorang yang memutuskan untuk hijrah juga membutuhkan senjata untuk melawan pemahaman salah yang menjerumuskan pada dosa.
Senjata nya itu adalah ilmu agama. Ilmu adalah cahaya yang menerangi kegelapan hati dan pikiran. Tanpa ilmu, seseorang akan berada pada jalan yang benar dan menyebabkan terserer ke dalam neraka. Untuk itulah, belajar dan mengkaji ilmu agama adalah sebuah kewajiban mutlak bagi seluruh muslim dan muslimah dan bisa menjadi jalan seseorang masuk surga.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw.,
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim no. 2699).
Namun, ilmu yang dimiliki pun bisa menjadi senjata makan tuan jika tidak diamalkan. Ilmu dan amal ini akan selalu beriringan dan dapat menjadi pemberat amal kebaikan di akhirat. Selain niat yang lurus, ilmu agama sesuai Al-Qur’an dan as-Sunah, dan amal kebaikan, seseorang dalam keadaan hijrah akan membutuhkan lingkaran pertemanan yang mendukung pada kebaikan dan saling mencegah pada keburukan.
Bukan hanya itu, hijrah juga akan mendorong seseorang untuk melakukan amal kebaikan disertai kesadaran iman. Ketika iman berperan, hawa nafsu yang dimililk tak akan sulit diatur dan setiap prasangka buruk pada manusia atau pada Allah akan terusir.
Untuk semua yang saat ini sedang menapaki proses hijrah. Seberapapun beratnya ujian di dalamnya, jadikanlah sebagai sesuatu yang menjadinya diri lebih baik di mata-Nya. Cukuplah, masa lalu kelam saat diri mabuk dalam kemaksiatan menjadi pelajaran untuk tidak mengulanginya.
Allah Taala yang Maha Baik akan selalu membuka pintu maaf untuk hamba-hamba-Nya yang memohon ampun. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dan petiklah pelajaran atas setiap kejadian.
Waullahua’lam bisshawab
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 35






















