#30HMBCM
Oleh: Siti Aisyah
CemerlangMedia.Com — Perjalanan dalam menjalankan amanah dakwah sering kali dihadapkan pada berbagai hambatan yang penuh dengan lika-likunya. Baik hambatan yang bersifat internal (dalam diri da’i itu sendiri) maupun faktor eksternal (lingkungan dan masyarakat). Tantangan ini telah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw. dan terus berkembang seiring perkembangan zaman, terutama di era modern dan digital saat ini.
Amanah dakwah adalah tugas suci untuk menyerukan kebaikan, mengajarkan nilai- nilai Islam, dan mengajak umat manusia menuju jalan yang benar sesuai syariat Allah Swt.. Perjalanan ini bersifat dinamis, membutuhkan kesabaran, keteguhan hati, dan strategi yang tepat.
Perjalanan dakwah Rasulullah saw., baik di Makkah maupun Madinah adalah contoh utama. Beliau menghadapi penolakan keras, penghinaan, ancaman, siksaan, dan bujukan harta maupun kedudukan, tetapi tetap teguh dan lembut dalam bersikap.
Dakwah diibaratkan air sungai yang harus mengalir terus-menerus, tidak boleh berhenti. Jika berhenti, itu berarti sedang mengumpulkan strategi baru untuk melanjutkan perjalanan dengan kekuatan yang lebih besar.
Hambatan dalam menjalankan amanah dakwah bisa berbagai faktor.
Faktor dalam Diri Da’i (Internal).
Pertama, kurang menguasai materi dakwah atau tidak memahami siapa yang kita ajak dalam amar makruf sehingga pesan tidak tersampaikan dengan efektif.
Kedua, penggunaan metode yang kaku atau tidak relevan dengan kondisi masyarakat dapat menyebabkan penolakan dan ketidakterikatan.
Ketiga, kurangnya minat generasi muda untuk terjun ke dunia dakwah, padahal merekalah yang banyak menguasai media. Sementara dunia digital, penting untuk dakwah saat ini.
Keempat, perilaku pengemban dakwah yang tidak mencerminkan ajaran Islam dapat merusak kepercayaan umat dan menjadi penghalang dakwah.
Faktor Lingkungan dan Masyarakat (Eksternal)
Pertama, penolakan, sebagaimana dialami Nabi di Makkah, penolakan dari kaum tertentu masih terjadi, terkadang berujung pada konflik.
Kedua, gaya hidup modern dan pengaruh budaya asing dapat mengikis nilai-nilai agama di masyarakat.
Ketiga, perbedaan kultur dan pemikiran-pemikiran kritis masyarakat, di mana pengemban dakwah (da’i) harus mampu beradaptasi dengan beragam latar belakang budaya serta menghadapi masyarakat yang makin kritis dan mudah mengakses informasi.
Keempat, kemudahan akses informasi juga membuka peluang penyebaran hoaks atau ajaran sesat, menuntut da’i untuk menerapkan prinsip tabayyun (klarifikasi).
Kelima, adanya tren Islamopobhia dan persepsi bahwa islam adalah agama konflik menjadi tantangan global yang nyata.
Menghadapi hambatan ini, seorang da’i perlu meneladani sikap Rasulullah saw., yaitu kesabaran dan keteguhan hati, tidak mudah menyerah, dan tetap teguh pada prinsip kebenaran. Penggunaan stategi yang tepat, seperti dakwah sembunyi-sembunyi di awal Islam untuk melindungi pengikutnya, strategi dakwah harus adaptasi terhadap situasi dan kondisi.
Memanfaatkan teknologi, yaitu menggunakan media digital secara bijak untuk menyebarkan konten dakwah yang valid dan sahih. Bahasa yang relevan, yaitu menggunakan bahasa agama yang dapat dipahami oleh generasi milenial tanpa melanggar norma. Berani dan penuh semangat, yakni menunjukan sikap tidak pantang menyerah dalam menghadapi tantangan, rintangan, hambatan, gangguan.
Pengemban dakwah (da’i) akan mendapatkan pahala besar, termasuk pahala jariyah, kebaikan yang berlipat ganda, dan menjadi bagian dari “umat terbaik” yang dijamin akan sukses. Selain itu, mereka akan didukung oleh Allah Swt., malaikat dan akan menerima pahala dari setiap kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang yang mereka bimbing.
Menjalankan amanah dakwah adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh liku. Namun, dengan pemahaman mendalam dan cemerlang akan tantangan dan sikap yang benar, tujuan mulia dakwah dapat tercapai. Allahu Akbar!
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 20






















