#30HMBCM
Oleh: Eyi Ummu Saif
CemerlangMedia.Com — Alhamdulillah, saya dikaruniai oleh Allah Taala, tiga orang anak laki-laki dengan jarak usia yang berdekatan. Anak saya yang sulung berumur 10 tahun, yang tengah 7 tahun, dan yang bungsu umur 5 tahun. Entahlah, jika mereka tidak hadir dalam keluarga kami, hidupku dan suami mungkin tidak akan seperti saat ini.
Bagi kami, anak adalah amanah yang Allah Swt. titipkan untuk dibesarkan dengan hati yang lapang disertai ilmu agama, skill mendidik, dan doa. Keempat hal tersebut harus saling beriringan dan tidak bisa dikerjakan sendirian. Jika masih ada ayahnya anak-anak, maka posisi ayah sebagai kepala keluarga sekaligus kepala sekolah dalam sebuah keluarga. Ayah harus selalu memastikan bahwa asistennya, yakni istri yang merangkap sebagai ibu dari anak-anaknya selalu dalam keadaan baik-baik saja.
Mengapa ayah/suami harus turut andil berperan dalam mendidik? Karena hubungan yang terjalin antara istri dan suami dalam mendidik anak adalah kerja tim, bukan perorangan. Maka dari itu, butuh tim yang kompak dalam mengatur strategi supaya target capaian yang ingin ditanamkan pada kepribadian anak dapat terwujud.
Ada istilah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Istilah tersebut bisa jadi sesuai jika buah tersebut ketika jatuh tidak tertendang orang hingga menjauh dari pohon tempat buah tumbuh, tidak dimakan oleh hewan, dan tidak diambil oleh orang yang lewat. Maka dari itu, membentuk kepribadian anak butuh usaha yang serius dan tidak sekadar hadir secara fisik sebagai seorang ibu dan ayah yang hanya bisa memberi petunjuk arah. Akan tetapi, juga sebagai tim yang selalu berusaha menjadi rumah sebagai tempat mereka pulang dan berkeluh kesah.
Kelak, ketika anak merasa sudah bisa melakukan semuanya sendiri, anak akan memilih jalan hidupnya sendiri dan orang tua hanya bisa membersamai setiap pilihan yang diambil. Di sinilah hati yang lapang mulai menjalankan perannya, sebab mungkin ada keputusan yang anak ambil dan itu bertentangan dengan maunya orang tua.
Selama pilihan yang anak ambil tidak bertentangan dengan hukum syarak, maka orang tua harus mendukung dan legowo menurunkan ego sebagai orang tua. Namun, bagiamana ketika pilihan yang anak ambil ternyata adalah sebuah pelanggaran hukum syarak, apakah orang tua boleh menentang dengan marah dan menghalangi paksa? Ketika dalam keadaan demikian, ilmu agama dan skill dalam mendidik harus selalu menyertai.
Mendidik tanpa ilmu agama, orang tua tidak akan tahu mana perbuatan yang baik dan buruk sesuai dengan syariat. Begitu juga jika tidak memiliki skill mendidik anak, bisa jadi anak salah paham ketika semisal ingin menasihati anak, justru anak malah menangkap apa yang dilakukan orang tuanya sebagai sesuatu yang menyebalkan. Padahal, orang tua menasihati anak sebagai bentuk cinta dan sayang, ingin anaknya selalu dalam keadaan aman.
Oleh karenanya, ilmu agama dan skill mendidik anak harus selalu disertakan dalam memberikan pembelajaran kepada anak guna membantu orang tua dalam menyampaikan pesan yang diberikan tanpa terkesan didakwahi atau doktrin. Zaman sekarang, begitu banyak ilmu parenting yang bisa dicari dan diikuti di medsos ataupun secara langsung dalam kajian-kajian parenting.
Maka, belajarlah dan saring setiap ilmu dan skill yang didapat. Mengapa harus disaring? Sebab, skill mendidik anak tidak hanya bersumber dari pemahaman Islam, terkadang juga dari pemahaman di luar Islam, maka ambilah yang menurut kita tidak bertentangan dengan syariat dan sesuai dengan kemampuan serta cocok untuk anak kita.
Selain itu, sebagai seorang muslim yang mengaku umat Nabi Muhammad saw., tentunya kepribadian yang ingin dibentuk pada anak hanyalah kepribadian Islam. Akan tetapi, saat ini umat Islam hidup di bawah sistem sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan sehingga mendidik anak dalam sistem saat ini menjadi tidak mudah karena generasi muslim dikungkung oleh berbagai tsaqafah Barat yang dapat meracuni generasi hingga memiliki pemahaman yang jauh dari Islam.
Ketika seorang anak sudah berhasil dirusak oleh sistem sekuler, maka orang tua akan makin sulit mengarahkan dan membimbing anak memiliki kepribadian Islam. Untuk itulah, sejak usia dini, seluruh keluarga muslim harus menanamkan akidah yang kokoh serta kebiasaan dan gaya hidup islami dalam keluarga mereka supaya anak tidak merasa asing dengan pemahaman Islam dan mampu membentengi diri dari berbagai bentuk pemahaman yang merusak akal dan pikiran.
Namun jika anak terlanjur bablas keluar dari koridor syariat, maka di sini orang tua butuh usaha keras yang lebih untuk dapat menarik anak dengan lembut, manjauhi segala macam perbuatan buruk, serta menyiapkan hati dan pikiran yang tenang agar tetap bijaksana menghadapi anak yang kasarnya sulit dibimbing. Untuk itu, menjadi tugas orang tua agar selalu mendoakan anak tanpa henti dengan penuh tawakal dan hindari memberikan label buruk pada anak, separah apa pun anak melakukan pelanggaran syariat.
Orang tua pun harus memantaskan diri, cita-cita memiliki anak yang memiliki kepribadian Islam tidaklah terlahir secara instan. Sejak dalam kandungan, bahkan ketika menjadi sepasang suami istri, sebelumnya harus sudah tertanam visi misi keluarga islami. Dengan begitu, setiap masalah yang dihadapi dalam keluarga akan selalu mengambil Islam sebagai solusi.
Selain itu, orang tua juga harus ingat bahwa menjadi pendakwah dan pejuang Islam adalah hal yang tidak ujug-ujug dengan mudah diwariskan kepada anak. Orang tua tidak boleh menyerah dan teruslah berikhtiar dengan cara —anak dari dalam kandungan diajak ke acara majelis ilmu dan berdakwah (jika kondisi kesehatan mendukung). Lalu, ketika anak terlahir, selalu berikan kesan positif yang bisa membangkitkan kesadaran pada anak bahwa mengkaji Islam dan berdakwah adalah hal yang menyenangkan dan disukai oleh Allah Swt..
Tentu hal tersebut bisa anak lihat dari bagaimana orang tuanya saat melakukan aktivitas keduanya hingga anak mencontoh dan menjadikan orang tuanya teladan. Orang tua juga mengarahkan supaya anak memiliki circle pertemanan yang mendukung dan memudahkan demi mencapai target terbentuknya kepribadian Islam.
Saat anak menghadapi masalah, tugas orang tua bukan langsung membantu menyelesaikan, tetapi membimbing supaya anak memiliki solusi yang seusia dengan Islam sehingga anak pun dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dan mandiri. Jadi, tetap semangat untuk semua orang tua yang sedang berjuang dan berhuznuzan kepada Allah Swt., Allah memberikan amanah dan ujian karena tahu hamba-Nya mampu memikul dan menjaganya.
ingatlah dua hadis Rasulullah saw. di bawah ini, semoga bisa menjadi amunisi dalam menjalankan tugas mendidik. Rasulullah saw. bersabda,
“Rasulullah saw. bersabda, ‘Seseorang mendidik anaknya itu lebih baik baginya daripada ia mensedekahkan (setiap hari) satu sha’.” (HR At-Tirmidzi).
Dan satu hadis lagi, “Didiklah anak-anak kamu pada tiga perkara: mencintai Nabi kamu, mencintai ahli baitnya, dan membaca Al-Qur’an. Sebab, orang-orang yang mengemban tugas Al-Qur’an itu berada dalam lindungan singgasana Allah pada hari yang tidak ada perlindungan selain dari pada perlindungan-Nya beserta para nabi-Nya dan orang-orang yang suci.” (HR Thabrani).
Wallahu a’lam bisshawab
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 20






















