#30HMBCM
Oleh: Lailatul Maulina
CemerlangMedia.Com — Kita tentunya sebelum melakukan suatu hal, pasti akan menimbang terlebih dahulu akibatnya. Jika dilakukan akan menguntungkan, mungkin kita akan lebih tertarik untuk melakukannya. Sebaiknya, justru jika dampak yang mungkin ada setelah kita melakukan suatu hal lebih banyak merugikan kita, pasti kita akan lebih memilih untuk tidak melakukannya. Apalagi jika perbuatan itu berisiko tinggi hingga berakibat pada kerusakan fisik hingga psikis.
Banyak yang memilih menghindari konflik dengan sesama karena jelas itu akan menimbulkan risiko kepada kedua belah pihak atau salah satu dari keduanya. Jika berkepanjangan terjadi, justru akan membuat yang terkena risiko konflik tadi merasa dirugikan atau merasa terancam.
Risiko itu mungkin yang akan membersamai kita saat melakukan atau memilih suatu hal. Bahkan, bisa saja sudah terbayang risiko dalam benak saat masih dalam tahap merencanakan tindakan dari berbagai pilihan. Memilih yang orang lain suka, tidak akan menjamin tidak akan ada risiko. Sebaliknya, memilih yang berbeda dari pilihan orang lain juga belum tentu berisiko.
Mungkin jika dipandang dari sudut pandang manusia bisa saja baik dan benar. Akan tetapi, berbeda lagi jika suatu hal itu datang dari Yang Maha Benar. Walaupun seluruh dunia menolak atau mencitraburukkan, maka tidak akan mampu menutupi kebenaran itu. Sekalipun mereka berupaya memoles dengan kata-kata yang menakutkan dan seakan membahayakan.
Risiko akan memberikan dampak yang tidak menyenangkan hingga membahayakan. Pantas saja banyak yang memilih mundur dari suatu hal karena merasa dirinya tidak akan mampu dan sanggup menghadapinya. Ini justru mencerminkan kurangnya kesiapan mental seseorang untuk bertempur mempertahankan prinsipnya.
Jika kita sekarang seperti itu, maka akan lebih mudah kita melepaskan prinsip dibandingkan teguh dalam pendirian. Seseorang akan berusaha mngendalikan dan mengatur siapa pun yang dia rasa mudah goyah. Oleh karena itu, pastikan kita sudah siap dengan pemahaman yang kuat di saat bertemu dengan siapa pun.
Tidak menjamin pula orang dengan pemahaman yang kokoh akan sulit dikelabuhi dan dipengaruhi oleh orang lain. Hal ini karena pemahaman bisa berubah seiring berjalannya waktu jika tidak dipupuk dengan kedekatan pada Allah dan keistikamahan tunduk pada syariat-Nya.
Risiko harus dihadapi jika itu sudah berkaitan dengan prinsip hidup kita. Mungkin risiko terasa di saat kita sebagai seorang muslimah mendapat perlakuan yang tidak adil dalam masyarakat, seperti dengan memakai pakaian yang menutup aurat mulai dari gamis longgar, kerudung yang menutup dada, bahkan lengkap dengan kaos kaki, justru akan dinilai negatif.
Ada yang menjuluki kuno hingga ibu-ibu, padahal sudah tampak jelas kita muslimah yang masih imut dan menggemaskan, walau sih, memang kita calon ibu. Apakah dengan pakaian akan menjadi tolok ukur usia? Jika benar begitu, maka seorang nenek dengan pakaian “you can see” dan “serba mini”, lantas bisakah berubah menjadi terlihat seperti anak gadis nan belia? Silakan dijawab sendiri dengan akal sehat.
Di saat seorang muslim dan muslimah menjaga batasan interaksi (tidak ikhtilat dan khalwat) dengan lawan jenis yang bukan mahram dianggap kuper (kurang pergaulan), laper (kurang makan), kudet (kurang update), eksklusif (terpisah dari yang lain), bahkan, sombong hingga aneh menjadi gelar yang tersemat tanpa perlu lulus pendidikan di universitas. Bahaya jika kita menelan itu mentah-mentah hingga membuat kita salah arah.
Sementara kita sudah menancapkan tujuan kita di awal. Hidup untuk ibadah demi menggapai rida Allah, tidak butuh sedikitpun persetujuan apalagi evaluasi manusia. Selama yang kita lakukan benar menurut-Nya, tidak perlu lagi takut akan risiko yang datang membersamai.
Jangan sampai karena ada isu miring tentang kita, lantas membuat kita melepas apa yang sudah kita yakini. Kita mungkin akan sampai di suatu titik merasa tidak kuat menghadapi, terasa diri sudah terhimpit dengan sikap tidak mengenakan atau bahkan ocehan negatif yang memekakkan telinga.
Akan tetapi, sadarlah segera bahwa kita butuh menguatkan diri dengan lafaz “lā hawla walā quwwata illā billahil ‘aliyyil ‘azdzim”, bahwa “Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”. Selama kita selalu mengingat-Nya, kita tidak akan pernah merasa kacau pikiran dan hati. Memahami bahwa kekuatan terbesar hanyalah dari-Nya akan menenangkan hati dan jiwa dari kekhawatiran akan setiap risiko.
Risiko itu pasti ada, tetapi sudut pandang kitalah yang akan membuatnya makin berkobar atau padam.
Risiko itu membahayakan, bukan di saat fisik terancam, tetapi ketika jiwa mulai jauh dari Allah demi mengais tepuk tangan manusia.
Risiko terbesar bukanlah datang dari orang lain, tetapi datang dari diri sendiri yang mulai abai akan ketakwaan.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 17






















