#30HMBCM
Oleh: Eyi Ummu Saif
CemerlangMedia.Com — Istilah sefrekuensi sering dijadikan alasan mengapa kita memilih dia sebagai sahabat. Umumnya, sefrekuensi dimaknai sebagai kata yang pas ketika memilih sahabat yang memiliki kebiasaan, hobby, dan kesukaan yang sama. Sahabat juga terkadang menjadi tempat untuk berbagi, berbagi kebahagiaan atau kesedihan.
Seorang sahabat dapat menjadi sosok yang berpengaruh. Sebab, ketika merasa didekatnya, hadir perasaan nyaman dan senang. Akan tetapi, apa jadinya jika sahabat yang selama ini berarti dalam hidup kita justru di akhirat malah menjadi musuh. Untuk itulah, Islam memiliki panduan dalam memilih seorang sahabat.
Rasulullah saw. bersabda,
“Perumpamaan teman yang baik dan yang buruk adalah seperti penjual minyak kasturi dan pandai besi. Penjual minyak kasturi memberimu minyak wangi, lalu kamu membelinya atau kamu mencium bau yang harum. Sedangkan pandai besi, ia membakar pakaianmu atau kamu mencium bau yang tidak sedap.” (HR Muslim, dari Abu Musa).
Kisah dari teman/sahabat atau saudara yang menjerumuskan pada kerugian, bisa kita lihat dari kisah Nabi Adam as. yang pernah terbujuk rayuan setan hingga melakukan perbuatan yang Allah Swt. larang. Atau kisah paman Rasulullah saw., Abu Thalib yang tidak mau mengucapkan kalimat syahadat saat sakaratul maut karena merasa tidak enak pada teman-temanya, yaitu Abu Lahab dan kawan-kawannya.
Itu artinya, teman/sahabat bisa memberikan dampak baik atau buruk, tergantung dari sosok sahabatnya, apakah orang yang saleh/salihah atau sebaliknya. Maka dari itu, betapa pentingnya seorang muslim memilah-milih, mana di antara lingkaran pertemanan yang yang bisa dijadikan teman/sahabat karib.
Perhatikan sabda Rasullullah saw. di bawah ini,
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, dari Abu Hurairah).
Bukan berarti, ketika pilih-pilih teman, itu artinya diri merasa lebih baik dari orang lain. Namun, hal itu dilakukan karena menyadari bahwa menjaga circle pertemanan, menjaga jarak dengan teman-teman yang memiliki kebiasaan yang buruk adalah salah satu cara untuk mengokohkan iman yang dimiliki. Akan tetapi jika seiring berjalannya waktu sudah merasa bahwa diri merasa mampu menyampaikan kebenaran, maka silahkan ajak teman yang dahulu kepada kebaikan.
Bukankah bukti dari ketulusan rasa sayang pada sahabat kita adalah dengan saling mengingatkan pada kebenaran dan keburukan. Allah Swt. sangat mencintai jika ada hamba-Nya yang saling menyayangi karena-Nya. Rasulullah saw. bersabda, “Mereka (orang-orang yang bersahabat karena Allah) adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah.” (HR Tirmidzi).
Oleh karenanya, jika saat ini kita memiliki sahabat taat, pertahankanlah persahabatan itu. Sebab, memilikinya adalah rezeki yang tidak semua orang mau memilihnya. Istimewanya agama Islam, aturan di dalamnya juga memuat panduan bagaimana cara memiliki seorang teman/sahabat.
Islam adalah agama yang memiliki solusi atas semua permasalahan hidup manusia, termasuk ketika merasa ingin memiliki seseorang yang sefrekuensi dengan kita. Begitulah, bukti cinta dan kasih sayang Allah Swt., tidak menginginkan sesama manusia kelak di akhirat akan bermusuhan hanya karena ketika di dunia mereka bekerja sama dalam keburukan.
Allah Swt. berfirman, yang artinya, “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku), sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Alquran) ketika (Alquran) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia.” (QS Al-Furqan ayat 27-29).
Wallahu a’lam bisshawab
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 19






















