#30HMBCM2
Oleh: Lailatul Maulina
CemerlangMedia.Com — Semua orang punya pilihan. Akan tetapi, setiap pilihan masing-masing orang pasti punya standar yang berbeda. Jika standar orang yang punya value, tentu tidak sekadar mengukur pilihannya dari segi kuantitas saja. Namun, pilihan orang bernilai adalah mementingkan kualitas dan konsekuensi yang ditimbulkan.
Kualitas dan konsekuensi baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Orang bernilai, tidak akan cenderung pada kehidupan pribadinya saja. Tidak sekadar bersimpati pada orang lain, tetapi juga berempati terhadap orang di sekitarnya. Kepeduliannya tulus dan cenderung tidak memedulikan balasan dari siapa yang ia mudahkan urusannya.
Berbeda halnya dengan orang yang tidak punya value di dalam dirinya, akan cenderung sekadar mementingkan kuantitas dan egonya saja. Tidak peduli konsekuensi apa yang akan ditimbulkan dari setiap pilihannya. Ia akan cenderung melihat sesuatu berdasarkan kacamata dan pandangannya belaka.
Selama dirinya tidak dirugikan, tidak peduli dengan konsekuensi yang ditimbulkan atas pilihannya terhadap orang lain. Ia pun akan cenderung acuh jika orang yang telah mendapat uluran tangan darinya justru tidak mampu memberi balasan apa pun atau parahnya, hal itu hanya menuntut ketundukan tanpa batas.
Standar orang yang ber-value tinggi bukan karena mereka picky atau suka pilih-pilih. Namun, semua itu disebabkan dirinya yang bernilai, tentu memerlukan segala sesuatu yang setara dengan kualitas dirinya yang tentu sangat ia butuhkan. Bahkan ia akan cenderung terlihat tidak mudah menerima dan percaya, sebab tidak semua hal bisa masuk dalam hidup dan mempengaruhi mindsetnya.
Ia paham dengan dirinya, maka wajar jika segala sesuatu, baik ide, rekan, teman, atau pasangan butuh scanning yang ketat untuk bisa ia terima di dalam hidupnya. Sering kali segala sesuatu yang tidak sesuai dengan standarnya, orang yang bernilai akan lebih membuat lelah atau bahkan menghambat ritme kehidupannya. Wajar saja jika tidak semua orang bisa memenuhi stndarnya atau cenderung dinilai punya standar tinggi.
Siapa pun yang punya standar tinggi tidak perlu menurunkan standar karena menyesuaikan dengan standar yang biasanya. Walaupun ada atau banyak orang yang bersorak untuk membujuk si standar tinggi untuk menurunkan standarnya pada standar yang rendah, ia tidak asal memenuhi.
Sadarlah, mereka hanya ingin mempengaruhi dirimu agar tidak terus naik dan lebih maju dari mereka. Mereka yang paling teriak seolah hidup harus mengalir atau menerima apa adanya adalah mereka yang sudah pupus dengan mimpi dan pencapaian mereka sendiri. Pengaruh dan bujuk rayu yang begitu manis adalah senjata mereka agar orang yang telah punya value dengan standar tingginya bisa tumbang setara dengan mereka yang punya low-standards.
Orang yang punya standar tinggi dengan value dirinya yang juga tinggi akan cenderung lebih bisa bergaul dengan siapa pun. Hal itu karena tidak ada orang yang ia istimewakan, sebab jarang sekali orang bervalue dengan standar manusia yang masuk dalam penjaringan standar yang dia buat.
Saat standar kaya, jabatan tinggi, kulit putih, good-looking menjadi hal yang wah dan begitu dipuja, bahkan orangnya diperlakukan berbeda oleh orang kebanyakan, orang ber-value akan cenderung tidak terpengaruh dengan semua itu. Orang dengan kriteria-kriteria tersebut akan cenderung dinilai dan diperlakukan sama oleh orang yang benar-benar punya value.
Punya value artinya punya standar hidup yang tinggi. Tentunya standar tinggi dalam hidup itu ia realisasikan dengan kesiapan diri dengan integritas, saling menghargai, kerja keras, mandiri, dan penuh tanggung jawab. Ia paham bahwa standar tinggi tidak dapat diraih dengan kepalsuan, merendahkan, ketergantungan, malas yang berkepanjangan, dan lari dari tanggung jawab.
Pemilik value dengan standar tinggi:
Sadar dengan kualitas dirinya.
Orang yang sadar dengan kualitas dirinya, tentu akan lebih mempercayai pertimbangan dirinya dibanding siapa pun. Dirinya tidak akan mudah tertarik dengan hal yang bersifat remeh-temeh. Semua itu adalah keasadaran bahwa dirinya hanya akan menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang penting. Tidak semua hal cocok dengan kualitas dirinya sehingga ada hal-hal tertentu yang ia sadari tidak perlu untuk ditanggapi dan mendapat perhatiannya.
Selektif bukan pemilih.
Punya value tentu akan lebih selektif, tentunya memutuskan segala hal berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya yang sangat berkualitas. Beda halnya dengan si pemilih yang cenderung memutuskan segala sesuatu hanya dengan keinginannya saja tanpa pertimbangan pemikiran atau pun hanya bermodal pengalaman yang standar.
Menilai secara keseluruhan.
Orang yang punya standar tinggi akan cenderung kompleks dalam menilai, artinya tidak cukup menilai baik atau benar hanya dari satu sisi. Pandangannya fokus, setiap sisi ia telusuri dengan jeli tanpa sedikit pun hal ia lewatkan. Dari sanalah penilainnya utuh dan lebih valid dibanding penilaian orang pada umumnya.
Siapa pun yang punya standar tinggi, jangan pernah menurunkan standar menjadi rendah hanya demi meraih tujuan dengan cepat. Jika standarmu tinggi, maka bersiaplah ketika orang lain akan memaksamu untuk menyamakannya dengan standar mereka yang rendah. (L. Maulina).
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 28






















