#30HMBCM
Oleh: Eyi Ummu Saif
CemerlangMedia.Com — Hidup yang dijalani sejatinya adalah ujian. Ujian menghadapi berbagai macam masalah yang pasti akan menyapa setiap hari. Terkadang, ujian yang terasa berat membuat diri memilih perpisahan sebagai satu-satunya jalan terakhir yang bisa menjadi solusi.
Bagi para pengemban dakwah, dakwah adalah poros hidup yang akan selalu menjadi salah satu prioritas dari semua aktivitas yang dilakukan. Dakwah bagaikan napas yang jika terhenti, membuat hati menjadi mati dan pikiran pun jadi tidak karuan.
Namun, apakah salah apabila seorang pengemban dakwah memilih untuk berpisah? Berpisah dari jemaah yang selama ini menjadi jalan tempat menuntut ilmu dan bercengkerama dengan orang-orang yang selalu mengajak kebaikan dan saling mengingatkan akan keburukan.
Ketika dakwah dijadikan alasan, bahkan kambing hitam atas masalah yang terjadi dalam kehidupan, maka perasaan ingin terlepas dari ikatan dakwah bagaikan pilihan yang benar hingga menganggap dakwah sebagai beban. Padahal, dakwah adalah kewajiban yang Allah Swt. berikan kepada hamba-Nya yang beriman. Allah Taala berfirman
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran:104).
Allah Swt. yang paling Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya. Itu artinya, Allah Taala memberikan semua kewajiban kepada manusia karena tahu, manusia mampu memikulnya. Lantas atas dasar apa merasa benar dan memilih untuk meninggalkan dakwah?
Untuk itulah, untukmu yang memilih meninggalkan jemaah dakwah, setiap pilihan yang berada dalam kendali manusia, pasti akan menetap di hari penghisaban. Allah Swt. akan meminta pertanggungjawaban atas setiap pilihan yang diambil.
Semua akan ada balasan atas perbuatan yang berada di area yang dikuasai manusia. Jika raga sudah tak bernyawa dan menunggu pengadilan akhirat, maka diri takkan bisa beralasan atau mencari zona nyaman.
Ketika berbaris menunggu giliran untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan, barulah nanti sadar, yang selama ini dibela mati-matian, harta, keluarga, jabatan yang dianggap lebih penting dari dakwah hingga menjadi alasan untuk meninggalkan dakwah, akan menjadi musuh yang ternyata menjerumuskan pada jurang derita abadi di tempat yang dulu ditakuti saat hidup di dunia.
Padahal, kehidupan dunia hanyalah sementara. Itu artinya, dunia memanglah tempat untuk berlelah, berjuang, dan beramal, yang ke semuanya itu haruslah diniatkan untuk beribadah serta mengharap rids Allah Swt.. Toh, hanya sementara, hanya sebentar, gak selamanya, kan?
Oleh karenanya sebelum terlambat, cobalah ingat-ingat, masa-masa dahulu ketika awal hijrah. Saat rasa ingin tahu mempelajari ilmu agama lebih dalam, saat menjalani hari-hari yang penuh pengorbanan dakwah, saat dikelilingi oleh orang-orang saleh yang saling mengajak pada kebaikan dan mengingatkan ketika salah, saat diri merasa begitu lemah dihadapan Allah, hingga selalu memohon pada-Nya untuk memberi kemudahan setiap urusan.
Tidakkah menyesal jika memilih untuk meninggalkan? Jikapun sudah memutuskan untuk berpisah, tidakkah merindukan bercengkerama dengan ilmu agama dan berbincang seputar Islam dengan sahabat taat? Sekiranya memang menganggap berpisah sebagai satu-satunya jalan, alangkah baiknya, pemahaman dan tsaqafah Islam yang selama ini dimiliki, tetaplah menjadi senjata yang membersamai melawan ancaman dari sistem yang memisahkan agama dengan kehidupan.
Jika tetap memilih berpisah, mohon ampunlah selalu kepada Allah Swt. yang Maha Pemaaf, tetapi juga keras siksa-Nya. Janganlah menjadi penghalang dakwah dan jangan pula balik membenci dakwah yang selama ini menuntun pada kebenaran. Ingatlah bahwa setiap perbuatan baik dan buruk, sekecil apa pun akan ada perhitungan-Nya. Atas setiap ilmu agama yang sudah diketahui, tetapi tidak diamalkan atau yang belum tahu karena enggan menuntut ilmu, Allah Taala pasti akan mempertanyakannya di akhirat kelak.
Wallahu a’lam bisshawab
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 23






















