#30HMBCM
Oleh: Vivi Nurwida
CemerlangMedia.Com — Ada satu kalimat yang terasa menampar umat Islam ketika beredar pernyataan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, saat ia bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Washington D.C. Dengan nada yang diplomatis, tetapi penuh pesan politik, ia berkata,
“Kami ingin menjadi bagian dari Perjanjian Abraham, tetapi kami ingin memastikan bahwa kami mengamankan jalan yang jelas menuju solusi dua negara… Kami menginginkan perdamaian bagi Israel, kami menginginkan perdamaian bagi Palestina.” (19-11-2025)
Kalimat itu mungkin terdengar manis, rapi, dan diplomatis bagi sebagian orang. Akan tetapi, bagi umat Islam yang memahami luka panjang Palestina, kata-kata itu justru terasa pahit. Pahit karena Arab merupakan tanah kelahiran Rasulullah saw., pusat kiblat umat Islam, sedang melangkah menuju normalisasi, menuju hubungan hangat dengan penjajah yang telah menumpahkan darah ribuan muslim selama puluhan tahun.
Dan kita bertanya dalam hati, di mana peran mereka sebagai penjaga dua tanah suci? Sebagai saudara bagi kaum muslim? Sebagai “ayah” yang seharusnya melindungi keluarga besar umat?
Normalisasi ini bukan sekadar kesepakatan politik. Ia adalah pukulan terhadap harga diri umat Islam.
Normalisasi Bukan Perdamaian, tetapi Pengkhianatan
Ketika pemimpin Arab berkata bahwa mereka ingin “perdamaian bagi Palestina”, pertanyaannya sederhana, perdamaian seperti apa yang dimaksud?
Apakah perdamaian yang mengabaikan,
– Tanah yang dicaplok?
– Masjid yang dinodai?
– Anak-anak yang syahid?
– Blokade yang tidak pernah berhenti?
– Jutaan manusia yang terusir dari rumahnya?
Perjanjian Abraham yang kini ingin diikuti Arab Saudi bukanlah perdamaian, tetapi proyek besar normalisasi. Sebuah paket politik yang mengajak negara-negara Arab berdamai bukan dengan rakyat Palestina, tetapi dengan penjajah yang masih terus membantai mereka.
Di atas kertas, normalisasi ini dikemas sebagai kerja sama ekonomi, stabilitas regional, dan “solusi dua negara”. Namun di lapangan, faktanya,
– Penjajahan tidak berhenti
– Pembangunan permukiman ilegal justru semakin meluas
– Warga Palestina masih hidup di bawah todongan senjata
– Masjid Al-Aqsa makin sering dinistakan
– Blokade Gaza tetap menutup akses makanan, listrik, obat-obatan
Lalu, apakah ini yang disebut “jalan menuju perdamaian”? Atau sebenarnya jalan menuju keuntungan politik dan ekonomi, sementara rakyat Palestina kembali menjadi korban?
Arab Seharusnya Menjadi Pelindung, Bukan Penonton
Ada beban moral yang besar pada dunia Arab, terutama mereka yang memiliki sejarah, budaya, dan kedekatan emosional dengan Palestina. Terlebih Saudi, negeri yang Allah muliakan dengan Ka’bah dan Masjid Nabawi. Dunia menghormati mereka bukan karena kaya minyak, tetapi karena kedudukan spiritual itu.
Karena itu dunia pun berharap, jika ada yang akan melindungi Palestina, seharusnya Arab-lah yang berdiri paling depan. Tetapi apa yang kita lihat?
Ketika Gaza dibombardir, sebagian negara Arab hanya berkata “kami prihatin”.
Ketika anak-anak Palestina diseret tentara, mereka hanya menuntut “penahanan diri”.
Ketika Masjid Al-Aqsa dijadikan sasaran provokasi, mereka justru membahas kerja sama ekonomi dengan Israel.
Inilah tragedi. Umat Islam menanti pelindung, tetapi yang muncul justru pembuka jalan bagi penjajah.
Bagaimana mungkin sebuah bangsa yang seharusnya menjadi saudara malah memilih menandatangani normalisasi?
Bagaimana mungkin negara-negara muslim lebih sibuk menjaga kepentingan ekonomi daripada menjaga kehormatan umat?
Solusi Dua Negara: Janji Lama yang Tak Pernah Nyata
Setiap kali Israel menambah kekerasannya, dunia menawarkan solusi yang sama, “Dua negara”. Namun pertanyaannya, selama lebih dari 30 tahun gagasan ini didengungkan, apa yang berubah? Tidak ada.
Yang ada justru wilayah Palestina makin kecil, permukiman ilegal makin banyak, kekerasan makin brutal, dan masa depan rakyat Palestina makin suram.
Solusi dua negara bukan solusi. Ia adalah pengalih fokus agar penjajahan bisa berjalan tanpa hambatan. Israel tidak pernah benar-benar serius mewujudkannya. Mereka mengulur waktu, membangun permukiman, dan memperluas kontrol mereka.
Tetapi mengapa negara-negara Arab tetap menjadikan ini sebagai alasan untuk normalisasi? Jawabannya sederhana, yaitu karena normalisasi menguntungkan mereka, baik secara ekonomi, politik, dan hubungan dengan Barat. Karena alasan itulah, harga sebuah nyawa Palestina menjadi murah di meja perundingan internasional.
Umat Islam Harus Berhenti Tertipu Narasi “Damai”
Ada hal yang harus kita sadari sebagai umat, yaitu narasi damai yang digaungkan dunia hanyalah ilusi.
Israel tidak ingin perdamaian sejati.
Barat tidak ingin Palestina merdeka.
Dan sebagian penguasa Arab lebih takut kehilangan dukungan politik daripada kehilangan kehormatan umat.
Maka bagi umat Islam, saatnya berhenti menelan cerita manis yang ditawarkan politik dunia.
Yang dibutuhkan Gaza bukan normalisasi.
Yang dibutuhkan Palestina bukan “dua negara”.
Yang dibutuhkan umat bukan “hubungan hangat” dengan penjajah.
Yang dibutuhkan adalah keberanian politik, solidaritas ideologis, kepemimpinan yang benar-benar memihak umat dan kekuatan riil yang mampu melindungi tanah kaum muslim.
Seperti sabda Rasulullah saw.,
“Imam (khalifah) adalah perisai; umat berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR Muslim).
Tanpa perisai itu, umat hari ini terpecah, lemah, dan mudah ditekan.
Penutup
Normalisasi Arab–Isra3l mungkin tampak sebagai kemenangan diplomasi, tetapi bagi umat Islam, itu adalah luka di hati. Ia adalah bukti bahwa sebagian pemimpin muslim telah menukar kehormatan umat dengan kesepakatan politik.
Tapi umat tidak boleh menyerah.
Kita tidak boleh membiarkan Palestina menjadi komoditas diplomasi.
Dan kita tidak boleh membiarkan penjajahan dinormalisasi.
Umat Islam harus terus bersuara, terus menyadarkan, dan terus memperjuangkan solusi hakiki, sebuah kekuatan politik yang mampu melindungi umat dan menghentikan penjajahan dari akarnya.
Sebab, selama penjajah diberi panggung, selama normalisasi dipromosikan, dan selama harga nyawa rakyat Palestina bisa dinegosiasikan, maka perdamaian yang sejati tidak akan pernah datang.
Wallahu a‘lam.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 31






















