Oleh. Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
CemerlangMedia.Com — Film Gita Cinta dari SMA dengan tokoh sentralnya bernama Galih & Ratna, dibintangi Rano Karno dan Yessy Gusman, diproduksi tahun 1979, adalah sebuah film drama remaja Indonesia, yang kemudian diremaks ulang tahun 2017 disutradarai oleh Lucky Kuswandi. Bukan hendak mengupas atau meriview kembali isi film, zaman telah berubah, bisa jadi penontonnya dulu sudah menua, namun kisah cinta anak muda tak pernah menemukan kata tua, usia mereka yang dimabuk cinta menjadi di bawah angka belasan tahun.
Berita dalam media sosial kembali diisi dengan kasus pembunuhan, kali ini korbannya sesosok remaja perempuan berusia sekitar 15 tahunan ditemukan dalam kondisi tewas mengenaskan di Gudang Peluru Kedung Cowek Surabaya, Minggu (7/5/2023) malam. Jenazah tersebut, diduga kuat adalah N, remaja asal Kenjeran yang sempat dilaporkan hilang oleh keluarga sejak 16 April 2023 lalu ke Radio Suara Surabaya.
Setiawan Adi, kakak korban N, menyebut kalau adiknya bertemu dengan dua pria sebelum hilang. Dua pria itu adalah Y (16) dan satu pria lagi yang dari info terakhir berinisial R, keduanya masih berstatus pelajar. Kedua pelajar ini akhirnya sudah diamankan. AKP Arief Ryzki Wicaksana Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menyatakan saat ini jenazah sedang diautopsi di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, karena ditemukan beberapa hal tak wajar. Selain kondisi jenazah yang membusuk dan berumur sekitar dua minggu, terdapat luka dan bekas lakban di kaki korban (Suarasurabaya.net, 9/5/2023).
Jika benar dugaan polisi ada sesuatu yang tidak biasa dari hasil outopsi jenazah N, dengan motif pembunuhan berlatar asmara, maka makin panjang saja daftar pelaku kriminal remaja di negeri ini. Persoalan yang menjadi pemicu tak jauh dari asmara, rebutan pacar, pamer kelompok dan kekayaan, dan yang lebih parah, demi konten. Tak peduli apakah berakhir dengan penghilangan nyawa, yang penting nafsu sumbu pendek sudah bisa diledakkan. Kepuasan tercapai, bahagia didapat meski hanya sesaat.
Kapitalisme Racuni Kaum Muda Potensial
Jelas ada yang tidak beres dengan generasi muda kita, usia muda sudah begitu sadis dan tak pandang bulu berani main bunuh. Seolah tokoh Hero atau Avatar dalam permainan game mereka, tindakan brutal dan agresif menjadi afirmasi kekuatan dan eksistensi mereka. Tuhan, hari akhir, akidah, pahala dan dosa, bertakwa, saleh salihah? Adalah slogan usang yang tak pantas diperjuangkan. Tak ada beda muslim nonmuslim, tak ada beda berpendidikan tinggi atau putus sekolah.
Ada sebuah artikel tentang parenting di sebuah web berjudul, “Penyebab Anak Pintar Saat SD Namun Tidak Ketika SMP-SMA”. Dimuat di dalamnya pendapat seorang pakar pendidikan sekaligus Ketua Yayasan Guru Belajar, Bukik Setiawan, menyebutkan riset turut menunjukkan fenomena ini, semakin tinggi tingkat pendidikan, siswa yang mengalami kebosanan akan berjumlah semakin banyak. Selain itu, mereka yang putus sekolah juga semakin banyak. “Jadi kalau anak-anak Indonesia itu 100 persen lulus SD, tapi untuk mencapai SMA itu hanya di sekitar angka 75 persen. Ada banyak yang tidak melanjutkan ke pendidikan menengah. Ada juga yang melanjutkan, tapi terjun bebas prestasinya.” (haibunda.com, 4/5/2023).
Masih dalam bahasan artikel di atas, bahwa anak usia SMP-SMA akan bertanya-tanya untuk apa menghafalkan rumus, mengerjakan latihan soal, dan sebagainya. Mereka cenderung mencari kegiatan seru dengan mengikuti berbagai aktivitas. Kebutuhan anak ketika SMP-SMA akan berkembang menjadi bersosialisasi, membangun identitas, dan berinteraksi dengan komunitas yang lebih luas. Kemudian, banyak dari mereka yang juga mulai mendekati lawan jenis di sekolah.
Ada benarnya hasil riset di atas, sayangnya dunia pendidikan kita mengambil asas yang rapuh dalam menyusun kurikulum pendidikannya. Disebutkan hari ini kita memakai kurikulum merdeka, merdeka belajar yang sama sekali tidak menggunakan akidah (Islam) sebagai landasan. Akibatnya, mereka tumbuh cerdas, kreatif, canggih teknologi, namun kering dalam adab, kepekaan, tanggung jawab, moral, dan bahkan tak tahu misi visi mengapa mereka ada di dunia ini.
Padahal ketika kita buta akan misi dan visi hidup di dunia ini, bak layang-layang putus dan berakhir dalam kerugian yang besar disebabkan dunia adalah tempat berbekal ketika semua nanti diharuskan kembali ke akhirat oleh Sang Empunya alam semesta beserta isinya, Allah Swt..
Pendidikan hari ini hanya menempatkan individu sebagai pencari materi, sukses adalah jika memiliki banyak harta, populer, pekerjaan mapan, dan segala yang diinginkan oleh jasad terpenuhi. Oleh karenanya, gempuran kapitalisme yang beracun benar-benar menjadikan manusia sebagai budaknya, terlebih generasi muda yang sedang gencar-gencarnya mencari jati diri. Mereka setiap hari disuguhi tontonan tak layak, kepribadian mereka dikoyak dengan gender nongender, seks bebas, narkoba, miras, perzinahan, dan sebagainya.
Islam Kawah Candradimuka Generasi Rabbani
Miris bukan? Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar kedua di dunia, namun tanda-tanda keislamannya tenggelam tertelan bumi. Apakah kita masih berani berharap generasi hari ini sebagai penerus keluarga, bangsa, negara, dan agama?
Namun kita tak boleh menyerah, sebagaimana Allah Swt. berfirman yang artinya,“Wahai anak-anakku, pergilah kamu, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya. Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusuf 12: 87). Artinya kita tetap harus tegak berdiri memperjuangkan perubahan, meski hari ini seolah utopis, namun justru berhenti berharap rahmat Allah adalah sifat kaum kafir.
Tidak ada jalan lain, selain kita mengupayakan sistem pengaturan masyarakat adalah syariat Islam bukan yang lain. Dalam Islam, anak adalah aset berharga, dan memerintahkan negara menjamin tumbuh kembangnya secara total, bukan hanya kepada keluarga atau masyarakat. Negara akan membuka lapangan pekerjaan seluas mungkin bagi para pria yang sudah baligh dan mampu agar mereka mampu menafkahi keluarga maupun orang-orang yang berada dalam tanggungan mereka.
Jaminan ini agar para perempuan bisa menjalankan kewajibannya sebagai ummu wa rabbatul bayit (ibu dan pengatur rumah tangga). Inilah kunci keberhasilan Islam dalam membangun peradaban cemerlang melampaui masanya, sebab setiap orang mengambil bagiannya termasuk negara. Bagi yang lemah karena sesuatu hal, maka negara akan memberi santunan dari baitulmal. Di sisi lain, kebutuhan komunal masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, sandang, pangan, dan papan tidak dibebankan kepada individu masyarakat.
Melainkan dijamin oleh negara penyelenggaraannya, hingga rakyat bisa mengakses dengan mudah dan murah. Kebutuhan komunal inilah yang jika tidak terlaksana dengan baik akan mengakibatkan kekacauan. Tak sedikit kasus kriminal terjadi karena salah satu dari kebutuhan komunal tak terpenuhi, semisal pangan yang dikapitalisasi, mahalnya kebutuhan pokok, memunculkan tindak kriminal penimbunan, pematokan harga, pencurian, dan lain sebagainya.
Negara akan menyusun kurikulum pendidikan berdasar akidah Islam, yang tak hanya mendidik manusia menjadi cerdas, kreatif namun juga berkepribadian Islam yang beradab. Output pendidikan berbasis akidah Islam sangat paham untuk apa ia diciptakan di dunia, yaitu untuk menjadi hamba Allah Swt.. Sehingga ia akan berjalan di dunia dengan penuh perhitungan agar di akhirat tak mengalami kerugian. Wallahu a’lam bishshowab. [CM/NA]
Views: 61






















