Oleh: Neti E
(Ibu Rumah Tangga)
“Halal dan haramnya segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh manusia adalah perkara yang sangat penting, terutama bagi umat muslim. Mengonsumsi makanan yang haram cenderung membuat seseorang melakukan maksiat.”
CemerlangMedia.Com — Berita yang cukup memprihatinkan. Sekitar 60 anak menjalani terapi pengganti ginjal di RS Cipto Mangunkusumo. 30 anak di antaranya bahkan menjalani hemodialisis secara rutin.
Disebutkan bahwa penyebab gagal ginjal biasanya dari kelainan bawaan, sindrom nefrotik, dan lupus nefritis (merdeka.com, 05-08-2024). Namun, ada juga penyebab lain yang mampu meningkatkan risiko munculnya penyakit gagal ginjal, di antaranya adalah kebiasaan mengonsumsi minuman dan makanan yang tinggi gula. Begitu pula dengan pola hidup yang tidak sehat dan obesitas, juga berisiko sekali menurunkan fungsi dari ginjal (cnnindonesia.com, 26-07-24).
Meskipun secara perhitungan memang dinyatakan tidak ada lonjakan kasus anak yang mengalami gagal ginjal, kondisi ini sepatutnya tetap diwaspadai. Pasalnya, sebagian kasus gagal ginjal pada anak memiliki kaitan yang erat dengan pola konsumsi yang salah atau tidak sehat, terutama asupan gula tambahan atau sukrosa. Asupan inilah yang apabila masuk ke dalam tubuh secara berlebihan akan membebani kinerja ginjal.
Realitanya, banyak sekali produk makanan dan minuman berpemanis yang beredar bebas di pasaran. Dari mulai produk lokal UMKM, seperti es teh yang saat ini sedang ramai dan sangat mudah dijumpai hampir di setiap sudut jalan sampai produk dari industri yang dipasarkan ke toko dan warung hingga pelosok desa. Produk-produk berpemanis ini sangat mudah didapat.
Sekalipun untuk produk yang berasal dari industri telah disertakan label takaran kandungan gizinya, tetapi orang awam tidak begitu mengerti batas wajar konsumsi bahan-bahan kandungan tersebut bagi tubuh. Apalagi disinyalir, banyak produk yang menggunakan pemanis dengan takaran yang tidak sesuai dengan ukuran yang ditentukan. Kondisi ini sungguh memprihatinkan.
Harga yang murah, produk yang variatif, rasa yang enak, didukung dengan pemasaran yang menarik, sepatutnya diwaspadai. Tidak wajar apabila makanan atau minuman dengan kualitas baik, tetapi dijual dengan harga murah. Wajar apabila kemudian masyarakat berpikir jika pedagang atau pelaku industri menggunakan tambahan pemanis yang berlebihan untuk meraup untung yang besar.
Cara Salah dalam Memperoleh Keuntungan
Kebebasan telah membuat para penjual dan pelaku industri makanan dan minuman tidak merasa takut melakukan berbagai cara untuk memperoleh keuntungan, termasuk dengan menyajikan produk yang dapat memberi dampak buruk terhadap kesehatan. Kebebasan ini sesungguhnya pengaruh dari sistem kapitalisme dan sekularisme.
Kapitalisme mendorong setiap pengusaha makanan dan minuman mengejar keuntungan. Sesuai dengan prinsip ekonomi, mereka pun berupaya mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya.
Sekularisme atau pemisahan aturan agama dari kehidupan turut andil sehingga masyarakat lepas kontrol dari tatanan syariat. Tidak lagi memandang aspek halal dan tayib dalam pengolahan minuman dan makanan.
Kebebasan individu juga telah membuat konsumen bebas makan dan minum sekehendak hati. Terlebih untuk kondisi perekonomian saat ini, produk yang murah, tetapi enak jelas laris manis. Tanpa mengindahkan halal haram atau kandungan pemanis dan bahan pengawet yang terkandung di dalam produk yang dibeli.
Sayangnya, negara sebagai pemegang kekuasaan dalam tata kelola kehidupan seolah abai. Memang benar, BPOM hadir melakukan sidak terhadap makanan dan minuman yang dinilai berbahaya. Akan tetapi, itu hanya sebagian dari banyaknya produk yang beredar di pasaran.
Pentingnya Nilai Halal dalam Islam
Islam sangat memperhatikan kehalalan makanan karena akan berpengaruh pada peribadatan. Halal dan haramnya segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh manusia adalah perkara yang sangat penting, terutama bagi umat muslim. Mengonsumsi makanan yang haram cenderung membuat seseorang melakukan maksiat.
Bahkan, memasukkan satu suap makanan haram ke dalam perut, tidak akan diterima amalannya selama 40 hari. Disebutkan pula, makanan haram yang dikonsumsi akan menghalangi terkabulnya doa, sedangkan makanan halal membuat doanya mustajab.
Oleh karena itu, sistem pemerintahan Islam akan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh, termasuk memastikan semua makanan yang dikonsumsi masyarakat adalah halal. Tidak hanya itu, sistem pendidikan Islam akan mengajarkan kaidah makanan halal dan tayib sejak dini sehingga masyarakat akan paham dan mampu membedakan mana yang halal atau haram. Bukan hanya dari segi zat yang terkandung, tetapi juga dari segi perolehannya.
Sistem Islam menerapkan sanksi tegas kepada siapa pun yang melanggar aturan. Apabila ada bahan makanan baru, Islam menyerahkan pada mujtahid untuk menggali hukumnya sehingga dapat ditentukan kehalalannya.
Sebagai pengatur tatanan perekonomian negara, penguasa dengan sistem Islam akan menjamin makanan dan minuman yang beredar di pasaran adalah barang yang halal dan tayib. Semua pengaturan itu dilaksanakan bukan untuk keuntungan, tetapi semata-mata demi rida Allah Swt.. [CM/NA]
Views: 57






















