Oleh. HusnulKh, S.H.
(Kontributor CemerlangMedia.Com dan Intelektual Madura)
CemerlangMedia.Com — Perselingkuhan di negeri yang katanya menjunjung tinggi keadilan nampaknya belum usai. Dari adanya kasus orang ketiga hingga sehari menikah langsung cerai pun ada. Ibarat bunga mawar yang sudah menguning, arti kebahagiaan pernikahan terasa asing.
Terlebih lagi perselingkuhan kebijakan yang membingungkan makin menjadi. Kerancuan trias politica di dalam menentukan keadilan negara ibarat drama tak berujung. Ada kalanya rasa bahagia, tetapi berujung sulit dan adanya kesulitan yang makin pahit. Seperti bermimpi indah di atas sampah.
Potret Keluarga Saat Ini
Bangunan keluarga di negeri ini sungguh memprihatinkan. Bagaimana tidak, isu orang ketiga yang menimpa musisi setelah masa hijrahnya belum usai, kini isu perselingkuhan yang lebih mengerikan makin meluas. Mulai dari kasus pengantin yang kabur usai hari penikahannya dan ditemukan kembali ke mantan, hingga suaminya langsung tidak mau dan menjatuhkan talak setelah diketahui. (Viva.co.id, 14-07-2023)
Hingga baru-baru ini drama perselingkuhan kali ini dialami selebgram Tulungagung. Pasalnya, ia menjadi korban perselingkuhan suaminya yang diduga gay dengan laki-laki lain. Padahal usia pernikahannya sudah mencapai dua tahun dan baru ketahuan bahwa suaminya adalah seorang gay. Ditambah lagi korban telah mengalami KDRT setelah ia mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sesama jenis. (Detik.com, 15-072023).
Kasus perselingkuhan hingga berujung kekerasan makin menguat negeri ini. Padahal kita tahu ikatan pernikahan itu sangat mulia. Bahkan dijelaskan oleh Allah sebagai ikatan yang kokoh (mitsaqan ghalizhan). Dari ikatan inilah generasi penerus bangsa akan terlahir dan institusi negara terbentuk dari bagaimana kualitas keluarga.
Perselingkuhan Sistem
Pada 1801—1915, sebelum umat Islam kehilangan peradabannya yang mulia, Barat telah berupaya sedemikian rupa untuk menjauhkan Islam dari benak umat. Maka dari itu, di dalam kitab Daulah Islam karangan seorang mujtahid dan mujaddid Islam, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani telah menjelasan bahwa upaya Barat meracuni pemikiran umat tentang Islam adalah dengan masuknya undang-undang Barat ke dalam aturan pemerintahan. Mulai dari serangan misionaris hingga berkuasanya antek-antek barat di kancah pemerintahan.
Upaya itulah yang makin memperkeruh pemikiran umat. Sampai umat berat hati untuk mengusir sistem buatan Barat yang mulai mendominasi. Jika kita perhatikan, dari sinilah umat mulai teracuni dan terkungkung oleh sebuah aturan yang tidak sesuai dengan fitrah mereka.Ya, perselingkuhan antara yang haq dan yang batil, antara kapitalisme dengan asasnya pemisahan agama dari kehidupan dan sosialisme yang meniadakan tuhan untuk mengatur segala hal. Dari itu semua banyak individu yang terlahir dengan sempurna, tetap tidak paham tujuan Allah menciptakan dirinya. Hidupnya digunakan hanya untuk kesenangan dunia walau nir agama.
Jadi tidak cukup hanya menilai adanya perselingkuhan itu disebabkan akhlak pasangan tidak baik. Akan tetapi, apakah lingkungan dan kebijakan itu sudah memberikan pengaruh yang baik? Dari sinilah kita bisa mencari solusi dengan menemukan akar masalah bukan sekadar buahnya saja.
Teori Montesque yang kita tahu ada 3 yakni legislatif, yudikatif, dan eksekutif. Ketiganya ini sama-sama melibatkan bahkan memerlukan peran manusia, jika salah satunya tidak dilaksanakan maka tidak ada kebijakan. Sedangkan sebagai negara hukum, katanya rakyat harus diikat dengan aturan agar mendatangkan keadilan.
Namun, kadangkala teori tersebut sangat ambigu bahkan seperti drama. Kalau kita perhatikan saat menjelang pemilu, maka yang paling sibuk adalah legislatornya. Ketika semua sudah selesai dan jadi, maka keterlibatan suara rakyat yang berkeadlilan sudah tidak diperlukan lagi. Lihat saja para legislator, mensahkan UU kesehatan dalam waktu singkat dengan draf sampai ratusan. Meski IDI demo hanyalah aspirasi yang hanya didengar bukan untuk dituruti karena teori trias ini pengaruhnya sangat kuat.
Selama asas kebebasan yang dijadikan fondasi regulasi, maka kebahagiaan hanyalah cerita tidak pernah menjadi nyata. Asas kebebasan berpendapat dan memilih hak sendiri yang juga dijadikan prinsip ketika keluarga mulai tidak harmonis. Akibatnya, lupa akan prinsip menikah sebelumnya untuk ibadah, menjadi yang penting hidup tidak susah. Untung dan rugi, ketika sudah tidak cocok tinggal ganti lagi.
Keluarga Bahagia Hanya dengan Islam
Kejumudan menghadapi kehidupan saat ini akan selalu menjadi pemicu perpecahan hubungan keluarga. Ditambah lagi iman pada diri manusia selalu naik turun. Hal ini berdampak ke rumah tangga yang merupakan miniatur perubahan suatu bangsa. Jadi, ia harus jelas dan kokoh mau dibawa ke mana.
Berita media sosial akhir-akhir ini memang kerap dipenuhi isu perselingkuhan, mulai dari artis sampai pengusaha. Inilah yang harus kita selesaikan secara tuntas dan sesuai dengan fitrah. Satu-satunya untuk menyelesaikan permasalahan secara tuntas adalah menyadarkan umat pada syariat Islam. Sebab Islam adalah aturan dari Allah Sang Pecipta dan mengatur hidup manusia.
Ujian dalam rumah tangga itu memang selalu ada, tetapi yakin kita pasti mampu menghadapinya. Semuanya sudah ada takarannya karena di dalam QS Al-Baqarah ayat 28 telah dijelaskan bahwa Allah tidak membebani suatu kaum melainkan kita mampu menghadapinya. Setelah itu tinggal bagaimana manusia mencari cara.
Pertama, kokohkan akidah dan penghambaan hanya kepada Allah. Ini yang akan menjaga antara suami dan isteri dari perkara kemaksiatan. Iman yang kokoh akan selalu menjadi perisai kapan pun dan di manapun manusia berada.
Kedua, membangun keluarga karena Allah. Rasa mencintai adalah fitrah. Oleh karenanya, Allah kasih potensi kepada manusia untuk melestarikan keturunan. Cara menyalurkan naluri ini harus disesuaikan dengan ketentuan Allah. Baik sebelum menikah, akan menikah, dan setelah menikah.
Pernikahan yang dilandasi niat karena Allah akan mudah mengarungi setiap badai rumah tangga. Mudah bangkit dan tidak akan terbuai dengan drama perselingkuhan.
Ketiga, cobalah selesaikan masalah bukan hanya melupakan. Ustaz Bendry Jaysurrahman —disalah satu media dakwah— pernah menjelaskan bahwa keluarga saat ini ketika ada masalah bukan diselesaikan, tetapi hanya dilupakan. Alhasil, ketika masalahnya bertumpuk dan ada pemicunya, keluarga akan menjadi pelampiasannya.
Dari itu semua, yang terpenting adalah penyelesaian struktural yakni keterlibatan negara. Ketika negara berasaskan Islam dan landasannya Al-Qur’an, maka semua permasalahan akan diselesaikan dengan tuntas. Ini karena semua hal sudah ada solusinya di dalam Al-Qur’an. Semua ini tidak akan terwujud jika landasan negara adalah pemisahan agama dari kehidupan. Melainkan harus dengan penerapan Islam secara kafah yang berdasar kitab ulama Imam al-Mawardi disebut dengan Khil4f4h ‘ala Minhajin Nubuwwah. [CM/NA]
Views: 18






















