#30HMBCM
Oleh: Yuli Ummu Raihan
Muslimah Peduli Generasi
CemerlangMedia.Com — Generation Gap menurut Wikipedia adalah perbedaan nilai, keyakinan, cara pandang, kebiasaan, dan gaya komunikasi antara kelompok usia atau generasi yang berbeda (seperti Baby Boomers, Gen X, Millennial, Gen Z) yang memicu konflik atau kesalahpahaman, terutama di tempat kerja atau keluarga. Namun, juga bisa menjadi kekuatan jika dikelola dengan baik melalui komunikasi dan pemahaman lintas generasi.
Generation Gap ini terjadi karena setiap generasi muncul dalam kondisi sosial, budaya, dah perkembangan teknologi yang berbeda. Mereka dibentuk oleh peristiwa sejarah, peraturan, gaya hidup, dan budaya yang khas pada masanya.
Misalnya perkembangan teknologi, generasi muda lebih mahir dalam menguasai teknologi digital, sementara generasi yang lebih tua masih nyaman dengan cara konvensional. Begitupun dengan cara pandang terhadap kehidupan. Perbedaan ini sering kali menimbulkan gesekan. Muncul istilah kolot vs. nyolot, Gen Z fragile, Millennial cupu, kudet, gaptek, childfree, parenting voc, dan lainnya.
Dampak Kapitalisme
Generasi muda dan generasi tua telah hidup bersama dalam penerapan sistem kapitalis sekuler. Akan tetapi, mereka menampilkan karakter sosial, psikologis dan spiritual yang berbeda. Semua ini terjadi akibat adanya perubahan besar dunia seperti reformasi, war on terrorism, deradikalisasi, krisis ekonomi, pandemi, kecanggihan teknologi digital, medsos, dan lainnya.
Barat berupaya menjadikan generasi muda sesuai dengan target mereka, yaitu sekuler dan materialistis. Sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini telah merusak generasi dengan kerusakan yang sangat parah. Sistem kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan telah menjadikan pandangan hidup berpusat pada akal, nafsu, kebebasan individu, dan kemajuan duniawi, bukan lagi berdasarkan tuntunan agama. Agama dianggap tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini dan terlalu mengekang.
Generasi muda merasa memiliki kebebasan untuk berekspresi dan cenderung realistis dan pragmatis. Sementara generasi tua masih memegang nilai-nilai agama, norma, dan moral melihat sikap generasi muda sebagai penurunan moral.
Kapitalisme menjadikan standar keberhasilan dinilai dari capaian angka. Seseorang dinilai sukses jika memiliki harta melimpah, jabatan mentereng, update dengan perkembangan zaman, dan terkenal. Generasi muda yang tumbuh bersama kemajuan digital menjadikan media sosial sebagai bagian dari hidup mereka. Hal ini dimanfaatkan oleh kapitalisme untuk memasarkan ideologi mereka. Generasi terjebak oleh algoritma digital, mereka diarahkan oleh algoritma. Setiap ketikan jemari di media sosial dijadikan data untuk mengarahkan individu pada topik tertentu. Mereka digiring untuk mengonsumsi produk tertentu, gaya hidup tertentu, dan opini tertentu.
Lahirlah influencer bayaran dan algoritma yang dibentuk oleh media sekuler kapitalisme yang menjual opini kesenjangan generasi ini. Mereka dibuat seolah-olah alami, nyata, dan tidak bisa dihindari. Setiap level generasi diarahkan dan dibentuk sebagai target pasar potensial produk mereka.
Generation gap juga menjadikan individu lebih individual. Dibuatlah jurang pemisah antar generasi. Ini sangat berbahaya karena akan menjadikan generasi krisis identitas dan tidak mengetahui makna hidup. Hal ini merusak akidah dan agama. Standar kebenaran menjadi relatif sehingga ada narasi saat ini zaman sudah modern, harus jadi diri sendiri, yang penting tidak merugikan orang lain, self reward, dan lainnya.
Padahal narasi ini sangat berbahaya jika tidak dibenarkan. Islam adalah agama yang sempurna, yang memiliki standar yang baku sepanjang masa. Hukum syarak tidak akan berubah hanya karena perubahan waktu dan tempat. Standar halal haram, serta hak dan batil tetap sama. Tidak ada istilah jadi diri sendiri, tetapi harus menjadi apa yang Allah perintahkan. Tidak ada kebebasan mutlak karena semua perbuatan harus terikat pada hukum syarak.
Generation gap juga akan memutuskan rantai pewarisan perjuangan penegakan syariat Islam. Serta menghilangkan keteladanan antargenerasi. Perjuangan yang menuntut kesinambungan pemahaman Islam antargenerasi, baik melalui institusi keluarga (antara anak dan orang tua), sekolah (guru ke murid), serta jamaah. Orang tua tidak lagi dianggap teladan, guru dianggap tidak up to date, lebih miris lagi ketika ulama dianggap tidak paham zaman. Akhirnya, generasi tua kesulitan untuk berdiskusi, membimbing, memberikan teladan pada generasi muda. Mereka justru disibukkan dengan teknis untuk terjun ke generasi muda. Sementara mereka minim dari esensi tsaqafah Islam.
Sementara generasi muda makin jauh dari pemahaman tentang syariat Islam. Mereka tidak mengetahui hakikat hidup dan orientasi serta makin terjerumus dalam lubang kerusakan.
Generation gap menjadikan generasi lebih konsumtif dan hedonis. Laporan We Are Social 2025 menunjukkan bahwa Gen Z di Indonesia menghabiskan waktu untuk media sosial rata-rata 4-5 jam per hari. Tentu ini membutuhkan kuota dan uang lebih untuk gaya hidup mereka. Ada banyak godaan diskon, promo, dan sejenisnya untuk berbagi produk dan jasa yang akhirnya menguras isi kantong mereka. Apalagi semua lebih mudah hanya dengan gerakan jari. Belum lagi tawaran pinjaman online yang mengandung riba.
Lebih mirisnya, generation gap ini akan menjauhkan generasi dari kebangkitan Islam. Generasi muda yang pragmatis menjadi anti dengan ajaran Islam, terutama khilafah. Dakwah dianggap sesuatu yang kuno, pengembannya dianggap fanatik, bahkan ekstrem. Kondisi ini terkadang membuat pengemban dakwah terjebak pada pengemasan dakwah agar lebih cair, tidak kaku, dan mudah diterima generasi muda. Alhasil, terkadang uslub dakwah melanggar syariat Islam dan keluar dari thariqah yang benar. Kreativitas dalam mengemas dakwah cenderung reaksioner, pragmatis, dan sering kali terwarnai oleh sistem kapitalisme.
Karakter perjuangan mereka memiliki pengaruh luas dan cepat. Apalagi dengan adanya kemajuan digital, aktivitas generasi muda makin menjadi sorotan dunia. Hal ini bisa kita lihat dari kejadian pergerakan generasi muda di Indonesia, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka, Filipina, dan negara lain. Mereka bergerak melawan ketidakadilan penguasa, mengkritik kegagalan sistem, meskipun belum menyentuh akar masalah dan solusi sistemis. Gerakan mereka masih pragmatis.
Upaya Membangkitkan Generasi Islam
Islam tidak mengenal istilah generation gap atau kesenjangan generasi. Justru Islam mendorong agar terjadi pewarisan Islam antargenerasi. Antargenerasi harus saling menasihati dalam kebaikan untuk mewujudkan amal saleh. Perbedaan generasi bukan jurang pemisah, tetapi untuk saling melengkapi dan berbagi pengalaman. Rasulullah saw. memberikan teladan bagaimana hubungan antargenerasi. Beliau membangun kelompok dakwah yang solid antargenerasi tanpa ada gesekan. Beliau menanamkan akidah dan syariat Islam untuk menyatukan pandangan, menyamakan solusi, dan tujuan yang sama. Setiap generasi di masa Rasulullah memiliki iman yang kuat, memberikan kontribusi yang besar untuk Islam.
Rasulullah saw. tidak pernah membeda-bedakan seseorang karena usianya, semua diberdayakan sesuai potensi dan kemampuan masing-masing. Beliau membina setiap generasi dengan pemikiran yang membangkitkan sehingga mereka menjadi pengemban dakwah yang militan. Sebab, pada dasarnya, Allah memberikan potensi dan naluri yang sama pada semua manusia. Allah juga membuat aturan yang relevan untuk masa dulu, sekarang, atau di masa yang akan datang. Syariat Islam itu pasti mengandung maslahat untuk manusia, kewajiban yang dibebankan Allah pada manusia pasti sesuai dengan kemampuan manusia pada setiap masanya. Metode dakwah harus dilakukan dengan sekreatif mungkin tanpa keluar dari aturan syariat. Dengan bahasa yang mudah dipahami, hujjah yang kuat, dan diskusi yang disertai argumentasi yang kuat. Serta dengan suasana keimanan.
Rasulullah saw. pernah menasihati Abdullah bin Abbas (generasi muda pada saat itu),
“Wahai anak muda, sesungguhnya Aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR at-Tirmidzi).
Kita juga bisa membaca dari Sirah Nabawiyah, bagaimana para sahabat bersinergi dalam melakukan aktivitas dakwah, padahal mereka berasal dari lintas generasi. Wallahu a’lam bisshawab.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 72






















