Krisis Gaza: Pelaparan Sistemis dan Momentum Kebangkitan Umat

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Tati Pranita

CemerlangMedia.Com — Krisis Gaza yang umat saksikan hari ini telah berlangsung bertahun-tahun dengan dampak yang sangat parah pada penduduk Palestina. Salah satu aspek yang paling memprihatinkan adalah pelaparan sistemis yang dialami warga Gaza.

Menurut laporan terbaru dari international.sindonews.com (24-07-2025), otoritas Mesir telah menekan Imam Besar Al Azhar Ahmad Al Tayeb untuk mencabut pernyataan yang mengecam terkait pengepungan oleh Isra3l sehingga menyebabkan kelaparan massal penduduk Gaza. Ia pun mengutuk keheningan internasional atas penderitaan warga sipil. Namun, pernyataan imam besar tersebut kini telah dihapus atas tekanan Mesir.

Infrastruktur runtuh, pembatasan akses bantuan, penghancuran lahan pertanian, blokade total, serta serangan ke fasilitas kesehatan bukanlah tindakan sporadis, melainkan bagian dari rencana yang terstruktur. Kelaparan dijadikan sebagai alat tekanan, bukan akibat perang. Ini adalah bentuk genosida. Sementara dunia menyaksikan dengan tatapan kosong. Respons politik dan militer dari negara-negara muslim tidak ada.

Bagi umat Islam, peristiwa ini tidak sekadar tragedi kemanusiaan, tetapi juga merupakan ujian terhadap keimanan. Apakah akan tetap diam atau menjadikannya momentum untuk bangkit sebagai satu tubuh?

Solidaritas Umat dan Peran Islam dalam Mengatasi Krisis

Tindakan pelaparan ini jelas masuk dalam kategori “starvation as a method of warfare” yang dilarang oleh hukum humaniter internasional. Namun, sistem global yang dikuasai negara-negara besar justru melindungi Isra3l dari hukuman.

Lebih dari itu, lemahnya kesatuan umat Islam membuat penderitaan Gaza berlarut-larut. Fragmentasi politik berbasis nasionalisme membuat umat kehilangan kekuatan kolektif yang dahulu menjadi ciri khas.

Islam mengajarkan bahwa penderitaan yang dialami sebagian umat adalah penderitaan seluruh umat. Rasulullah ﷺ bersabda,

“Kaum mukmin diibaratkan sebagai satu tubuh, ketika satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh tubuh ikut mengalami panas dan demam.” (HR Muslim).

Oleh karena itu, diamnya umat di tengah pelaparan Gaza bukan sekadar masalah kemanusiaan, tetapi juga kemunduran dalam menjalankan perintah agama. Sementara di dalam Islam, kehidupan manusia memiliki nilai yang sangat tinggi. Al-Qur’an menyatakan,

“Barang siapa membunuh satu jiwa, seakan-akan ia telah membunuh seluruh manusia.” (QS Al-Maidah: 32).

Pelaparan sistemis terhadap Gaza merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip hifz an nafs (menjaga nyawa) dan hifz al irdh (menjaga kehormatan). Dalam konteks ini, masalah Gaza bukan hanya isu kemanusiaan, melainkan masalah umat yang harus disikapi secara kolektif.

Solusi Islam

Islam mengajarkan bahwa ketika salah satu wilayah muslim diserang, seluruh negeri muslim lainnya memiliki kewajiban untuk membelanya, baik melalui pengiriman bantuan logistik maupun kekuatan militer. Islam tidak sekadar mendorong empati, tetapi juga memberikan solusi yang menyeluruh, di antaranya dalam hal menyelamatkan nyawa sebagai kewajiban syar’i. Artinya, penyelamatan rakyat Gaza bukan pilihan moral, tetapi kewajiban hukum syarak.

Hal ini telah dipraktkkan pada masa Khil4f4h Islam, penderitaan satu wilayah muslim otomatis menjadi urusan seluruh wilayah kekuasaaan Islam. Negara memastikan satu wilayah muslim tidak akan dibiarkan terisolasi. Pasukan dan bantuan segera dikirim sebagaimana Khalifah Al Mu’tashim mengerahkan armada besar hanya untuk membela seorang wanita muslim yang teraniaya.

Khalifah juga melakukan kebijakan politik yang terpadu. Tujuannya supaya umat bisa bersatu di bawah kepemimpinan yang menerapkan syariat Islam secara kafah (menyeluruh) karena fragmentasi dan batas negara buatan hanya melemahkan respons terhadap krisis.

Tidak hanya itu, khalifah juga melakukan langkah nyata, bukan simbolik, seperti mengirim bantuan pangan, obat, dan tenaga medis tanpa hambatan politik, serta memberikan tekanan diplomatik dan memutus hubungan dengan negara pendukung penjajah. Negara menggunakan kekuatan militer untuk menghentikan agresi dan genosida, sebagaimana dicontohkan para khalifah dalam membela wilayah muslim melalui jihad fii sabilillah.

Sejarah membuktikan bahwa ketika Khil4f4h berdiri, wilayah muslim terlindungi dari agresi luar. Imbas dari ketiadaan Khil4f4h, Gaza dan Palestina akan selalu menjadi sasaran penindasan karena umat kehilangan payung kepemimpinan global.

Oleh karena itu, umat harus menyadari bahwa pelaparan sistematis di Gaza menunjukkan bahwa dunia saat ini tidak memiliki mekanisme yang efektif untuk melindungi kaum lemah dari tirani penjajah. Sistem internasional saat ini gagal karena dibangun di atas kepentingan.

Oleh sebab itu, hanya sistem Islam satu-satunya yang bisa memberikan solusi menyeluruh atas kepemimpinan politik karena bersumber dari hukum Allah. Khalifah akan menyatukan wilayah muslim, memobilisasi sumber daya tanpa adanya sekat nasionalisme, serta memiliki keberanian untuk menghentikan kezaliman secara langsung.

Khatimah

Penderitaan yang dialami Gaza adalah cermin dari rapuhnya posisi umat Islam di panggung dunia. Setiap anak yang meninggal karena kelaparan adalah seruan agar kita sadar dan bangkit. Krisis ini bukan hanya tragedi bagi Gaza Palestina, melainkan juga menjadi momen ujian bagi kaum muslim, apakah terus terpecah atau bersatu untuk mengembalikan kemuliaan dan kehormatan umat di bawah kepemimpinan yang melindungi seluruh kaum muslim.
Wallahu a’lam bisshawab [CM/Na]

Views: 53

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *