Marriage is Scary, Benarkah?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Dewi Putri Handayani, S.Pd.

“Kewajiban seorang istri adalah menjadi ibu dan pengatur rumah tangga (ummun wa rabbatul bayit) serta menjadi madrasatul ula untuk anak-anaknya. Ini merupakan konsep pendidikan akidah di dalam keluarga yang jika dijalankan oleh suami istri, tentunya akan melahirkan pernikahan yang menyenangkan serta generasi saleh dan salihah yang akan melanjutkan estafet perjuangan.”


CemerlangMedia.Com — Belakangan ini, istilah ‘marriage is scary’ menjadi tren baru yang berseliweran di media sosial. Para pengikut tren ini berbondong-bondong mengunggah alasan mereka mengapa rasa takut untuk menikah menghantui mereka. Mulai dari alasan sepele, seperti setelah menikah tidak bisa lagi berkumpul dengan teman-teman hingga alasan besar, seperti takut diselingkuhi atau bahkan takut terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Benarkah pernikahan itu menakutkan?

Sebenarnya, tren marriage is scary ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, tren ini menjadi sebuah peringatan sekaligus pelajaran bagi mereka yang belum menikah untuk lebih berhati-hati dalam memilih pasangan, tetapi di sisi lain, tren ini justru membuat sebagian wanita menjadi takut untuk menikah, bahkan ada yang bertekad untuk tidak akan menikah. Nauzubillah.

Istilah marriage is scary ini makin booming setelah munculnya video KDRT yang dialami oleh selebgram Indonesia, IN, yang dilakukan oleh suaminya sendiri, AT. Dalam video yang terekam CCTV dan diunggah di akun Instagram-nya, terlihat suaminya melakukan kekerasan kepada IN yang baru melahirkan. Bahkan, dalam video tersebut juga terlihat jelas anak mereka yang baru lahir terkena kaki sang suami.

Pemikiran wanita tentang marriage is scary juga makin didukung dengan adanya kasus hilangnya suami AM selama satu tahun hingga akhirnya ditemukan di Bali bersama dengan wanita lain. Tidak cukup sampai di situ, pemikiran tentang marriage is scary ini juga makin didukung dengan banyaknya kasus perselingkuhan yang dilakukan oleh beberapa figur publik. Patriarki pun menjadi alasan sebagian wanita takut untuk menikah. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Marriage is Scary, Buah dari Sistem Kapitalisme Sekuler

Istilah marriage is scary ini menjadi tren di media sosial dipengaruhi oleh banyak faktor. Dimulai dari seorang istri yang mendapatkan perlakuan KDRT dari suaminya, suami yang lembut, tetapi selingkuh hingga suami yang baik, perhatian, dan setia, tetapi memiliki mertua dan ipar yang ingin mengatur segalanya. Faktor ekonomi, kerusakan moral, hingga kelemahan iman juga turut berperan. Semua faktor tersebut sejatinya telah menunjukkan potret buruknya sistem kapitalisme sekuler saat ini.

Sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan telah menjadikan keluarga muslim jauh dari pemahaman Islam yang benar. Tidak heran jika syariat Islam yang memiliki aturan komprehensif dalam keluarga tidak lagi dijadikan pedoman bagi keluarga muslim. Akibatnya, nilai-nilai Islam pun terkikis di tengah keluarga.

Hal ini mengakibatkan terganggunya hubungan antara suami dan istri. Hak dan kewajiban suami-istri terabaikan begitu saja. Akibatnya, muncul segudang masalah keluarga yang tidak dapat dihindarkan, seperti perselingkuhan, KDRT, perceraian, dan ketidakharmonisan anggota keluarga.

Ironisnya, istilah marriage is scary seolah diangkat sebagai pukulan terhadap syariat Islam tentang kepemimpinan laki-laki dalam kehidupan rumah tangga. Sementara syariat Islam telah menetapkan bahwa rumah tangga adalah kehidupan yang penuh dengan persahabatan, saling membantu, saling percaya, serta saling ikhlas dan rida dengan seluruh kelebihan dan kekurangan pasangan. Selain itu, syariat Islam juga menetapkan bahwa kehidupan masyarakat harus dihindarkan dari aktivitas ghibah dan fitnah sehingga terbentuk keluarga dan masyarakat yang bersih dan sehat.

Marriage is Fun Hanya Akan Terwujud dalam Sistem Islam

Marriage is fun sejatinya tidak akan pernah terwujud dalam sistem kapitalisme sekuler. Konsep pernikahan yang menyenangkan hanya akan ditemukan dalam sistem Islam. Hanya sistem Islamlah satu-satunya konsep kehidupan yang sahih sehingga semua konsep kehidupannya, termasuk berkeluarga akan benar.

Dalam Islam, pernikahan memiliki kedudukan yang sangat penting dan sakral. Bahkan, pernikahan merupakan ibadah terpanjang dalam kehidupan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Jika seseorang telah menikah, berarti ia telah menyempurnakan separuh agama. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh sisanya.” (HR Baihaqi).

Tidak main-main, di dalam Al-Qur’an, pernikahan disebut sebagai sebuah perjanjian yang kuat dan kukuh (mitsaaqan ghaliidzan). Hal inilah yang mendorong setiap pasangan untuk berupaya menjaga keutuhan rumah tangganya semaksimal mungkin. Ini karena akad pernikahan tersebut tidak hanya antara laki-laki dan perempuan maupun keluarganya, tetapi juga dengan Allah Swt.. Kelak hal ini akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt..

Kehidupan setelah pernikahan yang terjadi antara dua insan yang memiliki karakter dan latar belakang berbeda harus mampu mewujudkan ketenangan, kenyamanan, serta cinta dan kasih sayang. Dalam pernikahan, kedua pasangan dituntut untuk saling memahami dan menerima kekurangan dan kelebihan, serta menjalankan hak dan kewajiban masing-masing, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS Ar-Rum ayat 21 bahwa kepemimpinan (qawwam) dalam keluarga berada di tangan suami.

Tugas ini adalah kewajiban yang Allah berikan kepada laki-laki. Kepemimpinan di sini bukan bermakna diktator, tetapi kepemimpinan yang membawa kebaikan dan maslahat dalam hubungan suami-istri. Pada dasarnya, kewajiban suami juga merupakan hak istri sehingga jika berbicara tentang kewajiban suami terhadap istri, maka bisa juga berarti hak istri atas suami, yakni laki-laki bertugas memberi rasa aman dan membimbing istrinya, baik di dunia maupun akhirat. Hal ini juga ditegaskan dalam QS At-Tahrim ayat 6 yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (TQS At-Tahrim: 6).

Andaikan seorang istri melakukan nusyuz, maka seorang suami harus menasihati istrinya terlebih dahulu. Jika tidak berubah, pisah ranjang, dan cara terakhir adalah dengan memukulnya dengan pukulan yang tidak menyakitkan, sebagaimana dijelaskan dalam QS An-Nisa ayat 34. Seorang suami juga dilarang untuk berlaku kasar terhadap istrinya. Sebaik-baik suami adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istrinya.

Selain itu, suami juga diwajibkan untuk menafkahi istri dan anak-anaknya, baik secara lahir maupun batin. Hal ini dijelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 233,

“… Kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani kecuali sesuai dengan kemampuannya. Janganlah seorang ibu dibuat menderita karena anaknya dan jangan pula ayahnya dibuat menderita karena anaknya…”

Sementara kewajiban seorang istri adalah menjadi ibu dan pengatur rumah tangga (ummun wa rabbatul bayit) serta menjadi madrasatul ula untuk anak-anaknya. Ini merupakan konsep pendidikan akidah di dalam keluarga yang jika dijalankan oleh suami istri, tentunya akan melahirkan pernikahan yang menyenangkan serta generasi saleh dan salihah yang akan melanjutkan estafet perjuangan. Doa mereka akan menjadi investasi dunia dan akhirat untuk orang tuanya.

Inilah konsep kehidupan suami istri di dalam rumah tangga, sebagaimana yang ditetapkan oleh syariat. Terlihat jelas orientasi kehidupan keluarga yang dibangun berorientasi akhirat. Suami istri harus paham betul hak dan kewajibannya dalam keluarga sehingga mereka bisa menikmati kesenangan dunia.

Menikmati kehidupan rumah tangga yang ideal dengan kondisi pernikahan yang ideal seperti ini, tentunya istilah marriage is scary tidak akan mungkin pernah terlahir. Namun, untuk mewujudkan keluarga yang demikian, sejatinya membutuhkan dukungan sistem.

Sistem Islam diposisikan sebagai raain dan junnah untuk membangun kebijakan dalam rangka menyiapkan pernikahan yang menyenangkan, sepasang insan yang saling memahami dan melengkapi, serta melahirkan generasi cemerlang pembangun peradaban mulia. Negara Islam akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang menjamin kesejahteraan masyarakat serta menjamin setiap suami bekerja sehingga mampu menafkahi keluarganya.

Negara Islam juga akan menerapkan sistem pendidikan Islam yang akan membantu pendidikan generasi sehingga membantu orang tua mencetak generasi cemerlang yang bertakwa. Negara Islam juga akan menerapkan sistem pergaulan Islam yang akan menjaga pergaulan di antara masyarakat tetap bersih, suci, dan benar sehingga tidak akan lahir istilah marriage is scary. Sebaliknya, yang akan terwujud adalah marriage is fun.
Wallahu a’lam bisshawab [CM/NA]

Views: 256

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *