Media: Senjata Kapitalisme Menormalisasi Penindasan dan Melemahkan Umat Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Vivi Nurwida

CemerlangMedia.Com — Ketika Allah menegaskan bahwa umat Islam adalah khairu ummah, umat terbaik yang dihadirkan untuk manusia, seharusnya umat ini tampil sebagai mercusuar kebenaran dan penjaga keadilan. Islam adalah agama yang sempurna, paripurna, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Namun, fakta hari ini menunjukkan sesuatu yang janggal. Banyak kaum muslim hanya mengambil Islam sebagian, sekadar sebagai identitas atau ritual. Sementara cara pandang, standar baik-buruk, dan jalan hidupnya, justru diambil dari ideologi lain.

Salah satu pintu terbesar yang membuat umat kehilangan jati diri adalah melalui media. Di era ketika informasi bergerak lebih cepat dari cahaya, media bukan lagi sekadar alat penyampai berita, tetapi mesin pembentuk cara berpikir manusia. Ia dapat mengangkat sesuatu yang salah menjadi seolah benar, yang zalim menjadi tampak manusiawi, dan yang batil seakan-akan pilihan paling rasional.

Fenomena semacam ini bukan hal baru. Pada masa Rasulullah saw., fitnah haditsul ifki (berita dusta) yang menimpa Bunda Aisyah ra. saja sudah mampu mengguncang masyarakat Madinah hanya melalui penyebaran dari mulut ke mulut. Betapa dahsyatnya efek informasi. Kini, ketika kita hidup dalam dunia yang didominasi media digital, kekuatan informasi berlipat seribu kali.

Dominasi Media dalam Tatanan Kapitalisme Global

Sejak runtuhnya Uni Soviet pada 1991, kapitalisme menjadi satu-satunya ideologi yang mendominasi tatanan dunia. Amerika Serikat memimpin peradaban sekuler-liberal yang memisahkan agama dari kehidupan. Ketika agama dianggap hanya urusan pribadi, seluruh tatanan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan, hingga budayadibangun berdasarkan hawa nafsu dan akal manusia yang terbatas.

Di bawah ideologi ini, kebebasan dijadikan semboyan. Kebebasan berpendapat, beragama, berperilaku dan hak milik yang melahirkan penyimpangan dan kerusakan generasi. Ketimpangan ekonomi pun meningkat tajam. Beberapa gelintir orang menguasai kekayaan yang sama besar dengan miliaran manusia di lapisan terbawah. Semua itu adalah konsekuensi dari sistem yang memberi ruang tak terbatas bagi keserakahan.

Akan tetapi, ada satu hal penting yang sering luput kita sadari. Kapitalisme tidak hanya mengatur harta, politik, atau perilaku, tetapi juga mengatur cara berpikir dan alat yang paling efektif untuk itu adalah media.

Media: Jalan Sunyi Penjajahan Pemikiran

Kapitalisme memerlukan media untuk menyebarkan ide, standar hidup, budaya, dan gaya berpikirnya ke seluruh dunia. Ia tidak ingin terlihat sebagai penjajah, maka digunakanlah media untuk membentuk persepsi bahwa gaya hidupnya adalah modern, universal, dan paling masuk akal.

Melalui media, anak muda muslim belajar mengenal dunia: apa yang “keren”, apa yang dianggap maju, siapa yang pantas dikagumi, apa yang harus ditiru, dan apa yang harus dijauhi. Lambat laun, tanpa mereka sadari, media telah menyuntikkan nilai liberalisme, individualisme, feminisme, hingga normalisasi berbagai penyimpangan moral.

Pakaian, tontonan, gaya interaksi, bahkan cita-cita hidup generasi hari ini sangat dipengaruhi oleh arus media global. Tubuh memang tetap muslim, tetapi jiwanya terkikis sedikit demi sedikit.

Lebih mengerikan lagi, media modern mampu membalikkan posisi korban dan pelaku. Di banyak konflik dunia, penindasan yang dilakukan negara-negara kapitalisme justru ditampilkan sebagai tindakan “membela kemanusiaan”, sementara umat Islam yang dibantai digambarkan sebagai ancaman ekstremisme.

Normalisasi Penindasan: Ketika Media Mengendalikan Narasi

John Naisbitt pernah menulis bahwa kekuatan terbesar di era modern bukan lagi uang, tetapi informasi. Oleh karena itu, siapa yang menguasai media, dialah yang menguasai cara masyarakat berpikir.

Salah satu fungsi terbesar media dalam tatanan kapitalisme adalah menormalkan penindasan. Caranya adalah:
Pertama, mengalihkan fokus dari akar masalah. Ketika negara-negara kapitalis menjarah sumber daya negeri-negeri muslim, media lebih sibuk memberitakan konflik internal, radikalisme, atau isu-isu sosial minor. Akar penjajahan ekonomi dan politik dikubur dalam-dalam.

Kedua, menciptakan musuh imajiner. Islam digambarkan sebagai ancaman melalui istilah “radikal”, “garis keras”, “fundamentalis.” Stigma ini bukan sekadar kata; ia membentuk ketakutan sosial. Akibatnya, umat Islam sendiri khawatir menampilkan identitasnya, bahkan takut mengkaji Islam secara kafah.

Ketiga, membuat umat menerima nilai Barat sebagai standar. Melalui pemberitaan, film, influencer, hingga kurikulum, media terus-menerus menampilkan liberalisme sebagai “kebijaksanaan modern”. Hak asasi manusia versi Barat, pluralisme agama, feminisme, dan demokrasi dipromosikan sebagai satu-satunya jalan. Pelan, tetapi pasti, umat Islam diarahkan untuk mencintai nilai-nilai asing, dan pada saat yang sama, menjauh dari aturan Allah.

Islam menjadi Target Utama

Mengapa Islam menjadi target utama? Karena Islam adalah satu-satunya ideologi yang mampu menandingi kapitalisme. Lembaga think tank Barat sendiri pernah menyebut bahwa new caliphate—tatanan Islam yang menyeluruh akan menjadi ancaman besar bagi dominasi global mereka.

Oleh karena itu, yang dilakukan bukan menyerang secara militer. Akan tetapi, mencegah lahirnya generasi yang paham Islam secara ideologis dan itu dilakukan lewat media.

Medan Perang Opini

Hari ini, medan pertempuran bukan lagi di parit-parit peperangan. Medannya ada di gawai yang menggantung di tangan setiap anak muda. Pertempuran melawan narasi batil berlangsung setiap detik dalam bentuk berita, konten hiburan, meme, film, dan percakapan media sosial.

Oleh karena itu, kaum muslim tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus hadir sebagai pengisi suara, membawa narasi Islam yang lurus, menyampaikan kebenaran, menjelaskan keadilan Islam dalam bahasa yang teduh, cerdas, dan argumentatif.

Namun, untuk bisa melawan arus besar media kapitalis, mereka harus dibekali tsaqafah Islam yang kuat. Tidak cukup hanya semangat. Dibutuhkan pemahaman mendalam tentang Islam sebagai ideologi, bukan sekadar agama ritual.

Penutup

Kita adalah umat terbaik, tetapi bagaimana mungkin bisa menjadi yang terbaik jika hanya mengambil Islam sebagian? Bagaimana mungkin bisa memikul amanah sebagai saksi bagi manusia jika cara berpikir kita dibentuk oleh ideologi lain?

Media telah menjadi alat paling ampuh kapitalisme untuk merusak jati diri umat, menormalkan penindasan, dan memadamkan cahaya Islam. Maka kewajiban kita adalah menghidupkan kembali narasi Islam yang murni, menunjukkan bahwa hanya Islam yang membawa kemuliaan bagi manusia dan dunia.Hasbunallah wa ni’mal wakil. Ni’mal maula wa ni’mannashir.

Wallahu a‘lam bisshawab.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 23

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *