Memulai Perdana untuk Sesuatu yang Terlarang, Fatal!

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

CemerlangMedia.Com — Apa yang dikatakan Menteri Agama Nasaruddin Umar memang benar, bahwa semua persoalan bangsa, mulai dari pembangunan hingga pertumbuhan ekonomi, tidak akan ada artinya tanpa kerukunan beragama. Kalimat itu ia sampaikan sesaat sebelum membuka jalan sehat lintas agama di Gedung Kementerian Agama, Jakarta, pada Ahad pagi (kompas.com, 23-11-2025).

Nasaruddin menambahkan contoh beberapa negara kaya yang justru tidak dapat menikmati kesejahteraan karena konflik internal. Dalam kesempatan itu pula, Nasaruddin mengatakan Kementerian Agama akan menggelar perayaan Natal bersama. Meski kali pertama, tetapi tidak ada kata terlambat. Bahkan, Nasaruddin menambahkan, inilah bentuk konsistensi Kemenag untuk menjunjung toleransi.

Perdana untuk Hal Terlarang, Fatal!

Bahwa pembangunan hingga pertumbuhan ekonomi butuh kerukunan antar umat beragama itu benar. Namun jika dibalut dalam bingkai moderasi beragama, yang mengatakan semua agama sama, tidak boleh merasa paling benar dengan agamanya, bahkan mendorong toleransi menjadi aktivitas tasyabuh (menyerupai) agama selain Islam, itu sangat fatal!

Semestinya, seorang muslim wajib paham aturan syariatnya, terlepas dari pekerjaannya sebagai menteri agama yang membawahi semua agama, tetapi standar akidah tidak boleh berubah. Apa yang dimaksud toleransi adalah apa yang termaktub dalam firman Allah Swt.. Yang artinya,”…Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (TQS Al Kafiruun: 6).

Akidah Islam adalah syarat utama iman seorang yang memeluk agama Islam, membedakan dirinya dengan orang beragama selain Islam atau kafir. Kata kafir berasal dari Al-Qur’an, istilah yang disebutkan secara langsung oleh Allah Swt. untuk orang-orang yang menolak beriman kepada Allah. Jika demikian maksudnya, lantas mengapa masih saja ada orang mengaku Islam, malah mencoba melakukan aktivitas terlarang secara akidah?

Menjelang Natal, yang notabene perayaan ibadah agama selain Islam, tetapi justru nuansanya begitu marak di sekitar lingkungan muslim, mulai hiasan di pusat perbelanjaan, kampus, rumah sakit, kantor pelayanan publik dan lainnya. Bahkan, para pekerjanya mengenakan pakaian yang identik dengan Natal, alasannya perintah atasan. Hingga berbagai lembaga pemerintahan latah merayakan Natal bersama, apa kepentingannya?

Apakah dengan memperingati perayaan agama lain, kerukunan tercipta, pembangunan ekonomi meningkat, kesejahteraan dan keadilan merata? Sayangnya, seratus persen tidak! Yang terjadi, kaum muslim terjebak dalam perdebatan nir guna tentang toleransi dan keberagaman beragama. Sementara persoalan akar sama sekali tak tersentuh.

Toleransi ala Kemenag Mantra Sesat Moderasi Beragama

Toleransi ala menag jelas mantra sesat moderasi beragama. Yang asasnya pemisahan agama dari kehidupan atau sekuler. Bahkan, toleransi yang senantiasa digembar-gemborkan untuk terus dipelihara bermuatan liberalisme hingga berpotensi mengajak kaum muslim murtad dari agamanya. Inilah yang dikehendaki oleh musuh-musuh Islam agar kebodohan tetap lestari dan penjajahan abadi.

Hal utama yang harus disadari oleh kaum muslimin, kita hidup di dalam aturan kapitalisme yang mengunggulkan kapital atau modal. Setiap apa yang diupayakan sekaligus menjadi tujuan adalah memperoleh materi atau keuntungan. Dengan narasi seolah-olah melakukan ibadah bersama meski secara akidah berbeda, kaum muslim digiring untuk ragu terhadap kebenaran agama sendiri. Nyatanya, rakyat tetap menanggung beban biaya hidup yang tinggi.

Setiap solusi dari persoalannya disandarkan pada keputusan manusia, halal haram tidak dihiraukan. Ekonomi harus tumbuh meski melalui muamalah haram. Pergaulan sosial dibangun atas dasar kebebasan berperilaku, media sosial dipenuhi dengan tayangan pemantik perilaku hedonis, konsumtif hingga individualis. Bagaimana bisa tenang dalam artian tidak ada konflik? Apalagi jika sudah menyangkut urusan perut. Segala cara bisa dihalalkan, apalagi peran negara sangat minim.

Saatnya Pulihkan Makna Toleransi yang Hakiki

Sepanjang sejarah Islam memimpin peradaban dunia, sejak Rasulullah saw. menegakkan negara Islam di Madinah, dilanjut Khulafaur Rasyidin para sahabat, kemudian berlanjut Khilafah Bani Umayyah, Bani Abbasiyah hingga berakhir di Khilafah Utsmaniyah, dua pertiga dunia menjadi kekuasaannya, jelas keadaan masyarakatnya sangatlah heterogen.

Tidak hanya Islam, tetapi Yahudi, Nasrani, Majusi, Atheis berkumpul. Tidak hanya bangsa Arab, tetapi bangsa-bangsa yang lain ada, bekerja sama, tunduk pada satu aturan saja, yaitu Islam. Jadi, sungguh terlambat jika hari ini kaum muslim baru diajari dengan makna toleransi. Berabad-abad lamanya mereka sudah menjadi pelaku toleransi hakiki, bukan makna hari ini yang dibelokkan oleh para pembenci Islam.

Negara Khil4f4h menetapkan jizyah (pungutan) kepada para kafir zimmy (non muslim yang tunduk syariat) setahun sekali, pada mereka yang baligh saja, untuk menunjukkan bukti ketundukan. Dengan begitu, darah dan harta mereka dijamin oleh negara sebagaimana penjaminan terhadap muslim. Bahkan jika mereka uzur, akan dibebaskan dari jizyah dan mendapatkan santunan dari baitulmal.

Kita juga bisa menilai bagaimana objektifnya pendapat seorang orientalis dan sejarahwan Kristen, Thomas Walker Arnold, yang memuji kerukunan beragama dalam negara Khil4f4h. Ia menulis buku berjudul The Preaching of Islam: A History of Propagation Of The Muslim Faith, yang menceritakan banyak fakta kehidupan beragama dalam negara Khil4f4h.

“Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khil4f4h Turki Utsmani selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani, telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa).” (The Preaching of Islam: A History of Propagation Of The Muslim Faith, 1896, hlm. 134)

Mestinya, inilah saatnya berbenah, memahami Islam lebih baik lagi, bukan berdasar asumsi atau arahan penjajah. Untuk itu, butuh berkumpul dengan jemaah ideologis agar kerangka berpikir benar bisa terbangun dan sekaligus memantik api perjuangan penerapan syariat secara kâfah. Wallahua’lam bissawab.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 21

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *