Merdeka di Atas Tumpukan Utang

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Yuli Ummu Raihan
(Aktivis Muslimah Tangerang)

CemerlangMedia.Com — Gegap gempita menyambut hari kemerdekaan ke-78 RI sudah mulai terasa. Dari menghias lingkungan, memasang spanduk, umbul-umbul, hingga bermacam acara dan perlombaan. Lagu-lagu kemerdekaan pun makin banyak terdengar. Sepanjang jalan berkibar bendera merah putih beragam ukuran.

Tahun ini 78 tahun sudah Indonesia merdeka, umur yang seharusnya telah berada dalam kondisi yang sejahtera. Puluhan tahun kita telah merdeka, seharusnya telah mampu menjadi negara yang berdaulat dan bebas dari berbagai tekanan. Kita seharusnya telah merdeka dari kepentingan dan pengaruh pihak asing dan tidak lagi bergantung pada mereka.

Namun, fakta hari ini sangatlah jauh dari harapan itu. Hari ini, secara fisik mungkin negara kita tidak lagi dijajah oleh asing. Namun, dari sisi politis, kebijakan, aturan, dan lainnya, kita belum benar-benar merdeka.

Salah satu bukti saat ini kalau kita belum seutuhnya merdeka adalah utang. Hari ini, Indonesia terjerat utang yang sangat luar biasa. Kementerian Keuangan pada April lalu melaporkan posisi utang pemerintah Indonesia saat ini adalah Rp7. 849,89 triliun yang kalau dibagi dengan jumlah penduduknya, maka setiap warga Indonesia menanggung utang sebesar Rp28 juta.

Bahkan anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Nasdem Fauzi Amro menyebutkan bahwa sebenarnya utang Indonesia sudah mencapai Rp20.750 triliun (CNBCIndonesia.com, 13-6-2023).

Dengan utang sebanyak ini Jusuf Kalla menyebutkan, Indonesia harus membayar utang senilai Rp1.000 triliun per tahun (Kompas TV)

Utang Indonesia ini terdiri dari penerbitan surat utang negara dan kredit. Utang Indonesia sempat membengkak akibat pandemi Covid-19 yang terjadi akhir 2019 lalu. Meski tahun ini utang Indonesia mengalami penurunan, pemerintah tetap harus melakukan kewajiban, yaitu membayar pokok cicilan dan bunga utang. Apabila utang ini tidak dikelola dengan baik dan segera dilunasi, maka ini akan menjadi bom waktu yang akan siap meledak kapan saja.

Dengan utang sebanyak itu masihkah kita lantang mengatakan kita telah merdeka? Masihkah kita tenggelam dalam euforia perayaan semu?

Kita setiap tahun terlena dengan perayaan yang sifatnya hura-hura. Lomba panjat pinang memperebutkan hadiah kecil dengan saling menginjak satu sama lainnya. Lomba tarik tambang yang berakhir dengan saling menjatuhkan lawan. Lomba makan kerupuk, balap karung, dan perlombaan khas tujuh belas Agustus.

Sementara asing dan aseng juga sedang berlomba memperebutkan tambang emas dan tambang-tambang berharga lainnya.

Kenikmatan Segelintir Orang

Mirisnya, nikmat kemerdekaan dan ekonomi hanya dirasakan segelintir kecil orang. Hasil laporan dari Global Wealth Report 2018 yang dirilis Credit Suisse menyebutkan 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 46,6% total kekayaan penduduk di Indonesia. 10% orang terkaya menguasai 75,3% total kekayaan penduduk. Artinya, kemerdekaan hanya dinikmati sebagian kecil penduduk saja. Sementara penduduk yang lain tetap harus berjuang bahkan hanya untuk sekadar bertahan hidup.

Bahkan World Bank melaporkan bahwa 40 persen warga Indonesia masuk kategori miskin. Dihitung berdasarkan perdapatan per kapita per bulan sebesar Rp967.950. Jika ditotal, maka ada 108 juta warga miskin di Indonesia.

Tingginya angka kemiskinan ini tentu berimbas pada banyak hal. Di antaranya banyaknya anak yang putus sekolah, balita yang stunting, gizi buruk, pengangguran, kriminal, dan terjebak dalam gurita pinjaman online (pinjol) hingga triliunan rupiah.

Meskipun nilai utang kita makin besar, Kemenkeu mengaku bahwa pemerintah telah melakukan pengelolaan utang secara baik dengan risiko yang terkendali di antaranya melalui komposisi yang optimal, baik terkait mata uang, suku bunga, dan jatuh tempo (Kemenkeu dalam buku APBN Kita)

Cara Mensyukuri Kemerdekaan

Membuka fakta bahwa kemerdekaan kita belum sepenuhnya dirasakan oleh semua rakyat bukan berarti kita tidak bersyukur. Tentu kita sangat mensyukuri kemerdekaan ini, kita tidak lagi dijajah dan bertaruh jiwa dan raga. Namun, mensyukuri kemerdekaan tidaklah cukup hanya euforia sesaat.

Allah berfirman dalam QS Ibrahim ayat 7, “(Ingatlah) saat Tuhan kalian memaklumkan, “Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya akan menambah nikmat kalian. Namun, jika kalian mengingkari (nikmat-Ku) maka azab-Ku sangat berat.”

Menurut Imam Al-Ghazali makna syukur yang hakiki adalah dengan ketaatan kepada Allah. Taat berarti menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Pertanyaannya, apakah hari ini kita telah taat kepada-Nya? Atau justru kita telah jauh dari aturan-Nya? Apakah nikmat kemerdekaan ini telah kita gunakan untuk menerapkan aturan Allah?

Faktanya hari ini kita hidup tidak lagi menggunakan aturan Allah. Sebagai contoh, Allah telah mengharamkan riba, tetapi hari ini negeri ini hidup dalam jeratan riba. Padahal riba itu sama saja dengan mengajak Allah berperang. Mana mungkin manusia bisa menang?

Banyaknya utang seharusnya membuat kita sadar bahwa negeri ini telah salah kelola. Allah telah menganugerahkan kita negeri yang kaya raya, boleh dibilang Indonesia adalah surganya dunia. Segala kenikmatan telah Allah berikan, salah satunya kemerdekaan. Namun, sayangnya, karena aturan yang kita terapkan hari ini bukan lagi aturan Ilahi, maka wajar kesejahteraan sangat jauh kita raih.

Mari kita renungkan firman Allah dalam QS An-Nahl ayat 112 yang artinya, “Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tenteram. Rezekinya datang kepada mereka melimpah-ruah dari segenap tempat. Namun, penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah karena itu Allah menampakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan karena dosa-dosa yang selalu mereka perbuat.”

Kehidupan kita yang makin hari kian sulit, utang yang makin meningkat, ekonomi yang kian terpuruk, kemaksiatan yang makin merajalela, mungkin karena kita telah ingkar kepada Allah. Sudah saatnya kita isi kemerdekaan dengan membebaskan diri dari segala penghambaan kepada selain Allah. Sudah saatnya kita merdeka dari segala belenggu dunia yang menjauhkan kita dari ketaatan kepada-Nya.
Wallahua’lam bisshawab. [CM/NA]

Views: 27

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *