Penulis: Dafiya
SDN 2 Samuda Kota
CemerlangMedia.Com — Matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung walet. Dafiya, ibu, dan ayahnya duduk di teras rumah mereka. Tiba-tiba hujan lebat turun dan petir menggelegar.
“Ayo, masuk ke dalam rumah, hujan lebat akan segera turun!” kata ibu Dafiya dengan suara lembut.
“Iya, Ibu. Ayo, kita ke dalam rumah!” kata Dafiya menjawab panggilan ibunya.
“Ayo, jangan lama-lama!” kata ayah Dafiya.
Hujan lebat dan suara petir menggelegar.
Kehidupan keluarga ini harmonis, meskipun Anang, ayah Dafiya lebih banyak bekerja dan lembur. Ia sering kali meninggalkan makan malam bersama keluarganya. Sementara Askiah, ibu Dafiya seorang ibu rumah tangga yang sangat banyak pekerjaannya.
Suatu hari, Dafiya pulang terlambat dari sekolahnya. Ibunya pun bertanya. “Kenapa kamu pulang terlambat, Dafiya?”
“Aku cuma… ingin… bermain bersama teman-teman di sekolah, Ibu,” kata Dafiya dengan terlihat cemas
“Dafiya, kalau waktunya pulang sekolah, kamu harus pulang terlebih dahulu. Jangan bermain sama teman,” kata ibunya dengan suara lembut.
Dafiya langsung tersenyum kembali ketika mendengar kata ibunya. ”Iya, Ibu, aku mengerti. Aku harus pulang dulu ke rumah. Ibu Dafiya ikut tersenyum.
Dafiya langsung berganti baju, lalu makan. Selesai makan, ia belajar. Dafiya akan mengubah dirinya seperti dahulu waktu masih kelas 1 sampai kelas 4
Saat itu, Dafiya mendapatkan peringkat pertama, tetapi di kelas 5 ini, Dafiya seperti tidak belajar. Pada semester satu, ia mendapatkan peringkat ketiga. Dafiya sangat kecewa ketika mendapatkan peringkat ketiga.
“Aku akan belajar agar dapat mengembalikan peringkat pertama itu. Aku tidak boleh malas belajar pada ulangan semester dua,” janji Dafiya dengan semangat.
“Dafiya, kamu bisa mengembalikan peringkat pertama itu, tetapi kamu harus belajar terus,” kata ibunya.
Mendengar kata itu, Dafiya langsung semangat belajar. “Iya, Ibu, aku tau. Aku akan belajar yang rajin agar peringkat pertama itu bisa aku dapatkan kembali.” Askiah langsung tersenyum mendengar perkataan Dafiya.
Suatu sore, ayah Dafiya pulang bekerja. Ayahnya langsung mandi. Selesai mandi ayahnya melihat Dafiya belajar. “Dafiya, kamu jangan memaksakan diri untuk belajar. Kamu juga harus bisa membagi waktu.”
“Iya, Ayah, aku tau,” kata Dafiya menjawab ayahnya.
Meskipun jarang di rumah, tetapi ayah Dafiya perhatian dan selalu mendukung semangat Dafiya agar giat belajar untuk mendapatkan peringkat pertamanya lagi. Orang tua Dafiya memberikan semangat untuk anak mereka.
Mereka tahu, kalau kebahagiaan itu bukan dari kesempurnaan, tetapi dari kebersamaan mereka yang saling mendukung satu sama lain. Saat malam tiba, mereka duduk bersama di teras. Saling memahami satu sama lain dan merasa dekat. Mereka siap melangkah bersama menuju cahaya. [CM/Na]
Views: 64






















