Duka Aceh Pasca Bencana

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Hilangnya rasa takut kepada Allah Swt. adalah akar krisis kepemimpinan saat ini. Kondisi ini tidak akan terjadi jika Islam dijadikan sebagai pedoman.

CemerlangMedia.Com — Memasuki sebulan lebih pasca banjir bandang di Aceh dan yang terdampak bencana. Di kawasan Kota Lintang Bawah, Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, lumpur yang masih tebal setinggi lutut, membuat warga kesulitan untuk mendapatkan bantuan air bersih karena akses tertutup. Jika hujan tidak turun, mereka terpaksa menggunakan air sungai keruh dan berlumpur untuk kebutuhan sehari-hari (06-01-2026).

Krisis air tidak hanya menghambat warga untuk membersihkan bangunan, tetapi juga mengancam kesehatan karena warga kesulitan untuk membersihkan diri. Dilansir dari Antara, 10 kabupaten di Aceh telah memperpanjang status tanggap darurat sampai 8 Januari 2026. Status ini diberlakukan ketika bencana sudah dianggap mengganggu kehidupan masyarakat sehingga memerlukan penanganan segera dan memadai.

Tidak ditetapkannya musibah ini sebagai bencana nasional menjadi penyebab penanganan tidak cepat, distribusi lamban, dan pemulihan tersendat. Sebab, semua anggaran dibebankan kepada daerah, baik APBD provinsi dan kabupaten/kota. Kalaupun ada permintaan ke pusat, ada birokrasi yang harus dilewati. Namun jika ditetapkan sebagai bencana nasional, pemerintah pusat akan langsung mengambil alih dan menggelontorkan APBN secara penuh.

Bencana ini bukan hanya meninggalkan luka akibat kehilangan harta benda serta jiwa manusia, tetapi ada luka hati dalam diri para korban karena tidak adanya empati dari oknum pejabat negeri ini. Krisis ini makin diperparah dengan pernyataan dari para politisi yang “asbun”, contohnya bahwa kayu gelondongan yang terbawa arus bukan dari hasil penebangan liar, kondisi bencana tidak semencekam yang diberitakan media sosial. Ketika masyarakat berlomba melakukan donasi demi membantu yang terdampak bencana, mereka menyatakan bahwa penggalangan dana harus dengan izin pihak terkait.

Bencana ini mempertontonkan secara nyata krisis kepemimpinan penguasa negeri. Pemerintah tidak peka dan tidak cepat tanggap terhadap penderitaan rakyatnya. Kehilangan harta benda, mata pencaharian, distribusi bantuan yang tidak merata, membuat beban rakyat makin berat. Mereka dipaksa bertahan hidup akibat absennya peran negara yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam melindungi rakyatnya. Inilah gambaran kehidupan dalam sekularisme yang para pemimpinnya nirempati. Hilangnya rasa takut kepada Allah Swt. adalah akar krisis kepemimpinan saat ini. Kondisi ini tidak akan terjadi jika Islam dijadikan sebagai pedoman.

Pemimpin dalam Islam (khalifah) adalah raa’in (penggembala) yang wajib mengurus, menjaga, dan menjamin kenyamanan serta keamanan bagi rakyatnya di atas kepentingan pribadi. Pemimpin juga sebagai junnah (perisai) umat dari segala penderitaan karena Islam sangat memuliakan nyawa manusia. Lambannya penanganan dan hilangnya kepedulian pemimpin dalam bencana, jelas berdampak pada keselamatan rakyatnya.

Rasulullah saw. berkata, “Bahwa hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah Swt. dibanding terbunuhnya satu nyawa manusia.” (HR Tirmidzi).

Saatnya Islam kembali hadir dan memberikan rahmat bagi seluruh alam semesta. Wallahu a’lam bisshawab

Mia
Bekasi [CM/Na]

Views: 16

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *