Naluri keibuan dapat berkembang dan berjalan secara sempurna ketika diatur oleh Islam. Demikian pula untuk meraih predikat ibu bahagia dan sehat, membutuhkan sistem kehidupan yang mendukungnya, yaitu sistem Islam.
CemerlangMedia.Com — Ibu adalah sosok malaikat tak bersayap. Ungkapan yang pas bagi seorang ibu, kasih sayang pada anaknya akan terus mengiringi tumbuh kembang sang anak. Akan tetapi, apabila seorang ibu telah kehilangan naluri keibuannya, anak akan menjadi korban.
Hal ini terjadi di Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Seorang ibu berinisial EN (34) bvnvh diri setelah diduga me****** kedua anaknya yang berusia 9 tahun dan 11 bulan. Dalam surat wasiatnya, ia mengungkapkan keluh kesah penderitaan dan kekesalan terhadap suaminya, diduga terkait tekanan ekonomi dan utang keluarga (09-09-2025).
Kasus filisida tidak lepas dari beban berat yang harus ditanggung dalam kehidupan. Berbagai problematika kehidupan keluarga memperburuk keadaan mental keluarga. Tertekan atau stres yang dialami jika terjadi berkelanjutan tentu akan mengganggu aktivitas serta hubungan harmonis yang terjadi antar keluarga. Apalagi dalam situasi saat ini, ekonomi makin terimpit akibat sistem ekonomi kapitalisme yang membelenggu. Buktinya, berbagai krisis mewarnai kehidupan masyarakat.
Tidak dapat dimungkiri, kebijakan negeri yang notabene kapitalisme sekuler menitikberatkan setiap individu dituntut memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri. Ketika kebutuhan dalam keluarga tidak mampu terpenuhi, muncullah pertikaian antara suami dan istri. Dari sini kesehatan mental keluarga terancam, bahkan berpikir jernih pun tidak mampu. Oleh karenanya, amatlah penting menjaga kesehatan mental, selain kesehatan fisik.
Ini adalah alarm gagalnya sistem kapitalisme memberikan jaminan kesejahteraan bagi rakyat, terutama para ibu. Negara angkat tangan dalam mengurusi rakyat, seperti memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan. Tidak sampai di situ, asas sekularisme telah mengikis fitrah keibuan, memporak-porandakan bangunan keluarga, serta mengikis ketakwaan seorang ibu.
Seluruh masalah akan menemukan jalan keluarnya jika diterapkannya sistem Islam, termasuk kasus filisida, tidak akan terjadi. Sebab, sistem Islam mengatur fungsi ibu dengan sempurna dan dibantu oleh peran suami, kepedulian dari masyarakat, dan keterlibatan negara dalam pelaksanaannya.
Firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya,
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para Ibu dengan cara makruf.” (TQS Al-Baqarah: 233).
Kemudian jika suami tidak mampu menjalankan kewajiban sebagai pencari nafkah, semisal karena kondisi kesehatan atau telah meninggal dunia, maka urusan nafkah seorang ibu dibebankan kepada walinya, seperti ayah, paman, dan saudara laki-lakinya dari jalur ayah. Namun, apabila walinya tidak ada juga, maka tanggung jawab untuk menafkahi ibu diambil alih oleh negara. Negara menanggung nafkah ibu yang pendanaannya dari baitulmal (kas negara).
Sistem ekonomi Islam mengatur agar seluruh rakyat tidak kekurangan sehingga mental masyarakat tidak terganggu karena kebutuhan hidup terpenuhi. Naluri keibuan pun dapat berkembang dan berjalan secara sempurna. Dengan demikian, dalam meraih predikat ibu bahagia dan sehat membutuhkan sistem kehidupan yang mendukungnya. Sistem seperti ini hanya ada di dalam Islam. Wallahu a’lam bisshawab
Heny Era
Bekasi, Jawa Barat [CM/Na]
Views: 69






















