Fungsi Pendidikan Keliru, Membentuk Peradaban Semu

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

CemerlangMedia.Com — Sejak Indonesia merdeka, perjalanan pendidikan di negeri ini telah mengalami banyak perubahan kurikulum. Tercatat, sebanyak 12 kali perubahan kurikulum pendidikan dari Kurikulum Rentjana Pelajaran 1947 hingga Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka inilah yang direncanakan akan menjadi Kurikulum Pendidikan Nasional 2024 untuk seluruh sekolah di Indonesia.

Adapun Kurikulum Merdeka dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel, sekaligus berfokus pada materi esensial, pengembangan karakter, dan kompetensi peserta didik. Tentu saja, perubahan kurikulum akan menyedot anggaran pendidikan yang besar karena mengharuskan adanya berbagai kajian dan sosialisasi (20-05-2024).

Faktanya, kualitas pendidikan di Indonesia masih belum maju, meskipun melewati beragam pembenahan visi, misi, dan tujuan kurikulum pendidikan. Maraknya kritik dan permasalahan yang muncul dari kebijakan pemerintah menunjukkan adanya potensi kegagalan pada sistem pendidikan.

Berbagai konflik kekerasan, baik kekerasan fisik, psikis, maupun kekerasan seksual masih kerap terjadi di lingkungan pendidikan. Pemerataan pembangunan, infrastruktur yang tidak layak, kurikulum yang terus berganti, rendahnya mutu tenaga pendidik, gaji guru honorer yang menunggak pun masih menjadi sumber masalah yang sampai saat ini belum teratasi. Sekolah yang selama ini sebagai ladang memperoleh pendidikan, nyatanya belum mampu mencetak generasi yang berdaya saing.

Kualitas pendidikan yang rendah hanya akan melahirkan sumber daya manusia yang lemah. Indonesia akan makin jauh mengejar ketertinggalan dan tergerus kemajuan zaman. Negeri ini akan mudah terperdaya karena tidak mau berpikir kritis. Akhirnya, sumber daya dan kekayaan alam Indonesia dengan mudahnya dikeruk oleh asing.

Tidak bisa dimungkiri, persoalan dunia pendidikan tidak terlepas dari sistem politik yang diterapkan di negeri ini. Bagi sebuah negara, pendidikan dimanfaatkan sebagai dasar pembangunan negara, termasuk media untuk menanamkan nilai-nilai dan ideologi negara.

Paradigma pendidikan kapitalis membentuk manusia-manusia berpaham materialistis dan individualistis. Dunia pendidikan didesain hanya untuk menciptakan elite-elite muda yang mampu mendominasi perekonomian masyarakat, sedangkan sistem politik sekuler akan membentuk peradaban yang semu.

Konsekuensinya, konsep pendidikan yang diterapkan sekadar berfokus pada kepentingan pasar bebas, mengesampingkan pendidikan sebagai kebutuhan dasar manusia untuk mengasah potensi diri, intelektualitas, dan membangun peradaban cemerlang. Akibatnya, dekadensi moral akhir-akhir ini makin menyeruak. Hampir setiap hari tidak luput pemberitaan tentang pembvnvhan, kekerasan seksual, kenakalan remaja, kasus pornografi, pornoaksi yang menjadi bukti lemahnya fungsi kurikulum pendidikan negeri ini.

Tentu sangat berbahaya, mencetak generasi yang unggul secara sains dan teknologi demi tuntutan pasar bebas, tetapi lemah dari sisi keterikatan pada ajaran agama (Islam). Generasi seperti ini akan mengancam negeri dengan berbagai perilakunya yang tidak lagi memperhatikan standar Islam, berupa halal dan haram. Untuk itu, perlu perubahan sistem secara menyeluruh. Bukan hanya pada bidang pendidikan saja, melainkan tata kelola sistem pemerintahan yang melahirkan kebijakan di dalamnya.

Dalam sistem Islam, kurikulum pendidikan memiliki standar yang baku, yakni bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah. Transformasi pendidikan pada masa Rasulullah saw. hingga khalifah setelahnya sangat luar biasa. Tujuan inti dari sistem pendidikan Islam tidak hanya membangun generasi yang menguasai ilmu-ilmu umum, seperti matematika, sains, teknologi, kedokteran, teknik, pertanian, dan sebagainya, tetapi juga mampu mencetak generasi yang berkepribadian Islam.

Adapun metode pembentukan dan pengembangan kepribadian Islam dilakukan dengan cara menanamkan akidah Islam yang menghunjam kuat di dalam diri. Umat akan senantiasa menegakkan cara berpikir dan perilakunya di atas akidah dan syariat Islam. Output pendidikan Islam akan menghasilkan peserta didik yang mengembangkan kepribadian dengan mengisi pemikiran melalui tsaqafah Islam dan mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan. Inilah yang akan mencegah terjadinya dekadensi moral dan kerusakan generasi muda.

Tentu saja, kurikulum pendidikan seperti ini tidak akan lepas dari penerapan sistem pemerintahan di dalamnya. Sebab, negaralah yang memiliki tanggung jawab penuh atas penyelenggaraan pendidikan rakyatnya. Untuk itu, penerapan sistem Islam secara menyeluruh menjadi urgensi dunia pendidikan saat ini. Wallahu a’lam bisshawab.

Galuh Metharia
Sleman, DIY [CM/NA]

Views: 33

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *