Potensi Gen-Z sangat besar. Energi, kreativitas, dan keberanian mereka bisa menjadi bahan bakar perubahan. Namun, perubahan sejati hanya mungkin jika diarahkan dengan tsaqafah Islam. Islam bukan hanya menawarkan kritik, tetapi juga solusi menyeluruh untuk menata kehidupan dengan keadilan.
CemerlangMedia.Com — Generasi Z (Gen-Z) kini tampil sebagai wajah baru dalam dinamika sosial-politik Indonesia. Survei menyebutkan, lebih dari 27% penduduk Indonesia berasal dari kelompok ini—generasi yang tumbuh di era digital, dekat dengan internet, media sosial, dan teknologi komunikasi.
Belakangan, suara Gen-Z makin lantang terdengar. Ada yang ikut turun ke jalan dalam aksi unjuk rasa, ada pula yang menyampaikan keresahan melalui media sosial, baik berupa meme, video, maupun poster. Semua itu adalah bentuk respons spontan mereka terhadap problem sosial-politik negeri ini. Menariknya, ekspresi itu disampaikan dengan gaya khas, segar, kreatif, dan relatif damai, tanpa harus merusak fasilitas umum.
Meski demikian, sejumlah pakar mengingatkan bahwa generasi muda masih rawan terprovokasi. Prof. Rose Mini Agus Salim, psikolog Universitas Indonesia menilai, unjuk rasa bisa menjadi sarana belajar menyampaikan aspirasi. Namun ia mengingatkan, kendali emosi dan kontrol diri Gen-Z belum sepenuhnya matang (2-9-2025).
Dalam perspektif kapitalisme, Gen-Z sering dilabeli sebagai “digital natives”—generasi yang akrab dengan gawai, internet, dan komunikasi instan. Mereka tumbuh dengan media sosial, seperti YouTube, Instagram, dan TikTok yang membentuk gaya hidup serba cepat dan ekspresif.
Kajian demografi modern bahkan mengklasifikasikan generasi berdasarkan tahun kelahiran. Baby Boomers (1946–1964), Generasi X (1965–1980), Generasi Y/Milenial (1981–1996), Generasi Z (1997–2012/2015)
Kategorisasi ini populer sejak 1990-an di Barat sebagai alat analisis sosial dan tren pasar. Gen-Z digambarkan sebagai generasi kreatif, ekspresif, tetapi rapuh secara emosional. Mereka kritis, tetapi sering diarahkan hanya pada isu permukaan.
Keresahan mereka diekspresikan dalam bentuk visual, meme, atau aksi daring, tanpa diarahkan untuk menggali akar struktural dari ketidakadilan yang mereka hadapi. Oleh karena itu, tidak heran apabila banyak pemuda menjadi apolitis —berani mengkritik, tetapi enggan menyentuh inti persoalan.
Islam memandang pemuda bukan sekadar berdasarkan generasi kelahiran, melainkan pada perannya sebagai motor perubahan dan garda terdepan kebangkitan umat. Setiap manusia membawa naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’). Oleh karenanya, ketika berhadapan dengan kezaliman, fitrah pemuda akan menolak, menuntut adanya perubahan nyata, bukan sekadar ruang ekspresi.
Islam pun hadir sebagai panduan hidup, mengarahkan energi muda pada perjuangan substantif. Pemuda bukan hanya diajak berkreasi, tetapi juga diajarkan muhasabah lil hukkam, yakni mengoreksi penguasa zalim. Allah Swt. berfirman dalam QS An-Nahl: 125,
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”
Rasulullah saw. juga bersabda,
“Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa zalim, lalu ia memerintahkannya pada kebaikan dan melarangnya dari kemungkaran, kemudian ia dibunuh.” (HR al-Hakim).
Sejarah Islam sarat dengan kisah pemuda yang menjadi pionir perubahan. Di masa Rasulullah saw. muncul sosok-sosok inspiratif. Ali bin Abi Thalib, masuk Islam sejak usia belia, bahkan berani menggantikan posisi Nabi di ranjang ketika Quraisy hendak membunuh beliau.
Mush‘ab bin Umair, pemuda kaya raya yang meninggalkan kemewahan demi Islam, menjadi duta dakwah pertama ke Madinah. Zubair bin Awwam, sahabat yang sejak muda ikut berbagai pertempuran besar, dijuluki Hawari Rasulullah (penolong setia Nabi).
Usamah bin Zaid, di usia 18 tahun dipercaya Rasulullah memimpin pasukan melawan Bizantium yang di dalamnya terdapat sahabat senior. Abdullah bin Abbas, sepupu Nabi yang sejak muda mendalami ilmu hingga dikenal sebagai hibrul ummah (lautan ilmu umat).
Setelah masa Nabi, lahir pula pemuda-pemuda agung. Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel di usia 21 tahun, sebagaimana dipuji dalam sabda Nabi, “Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.”
Umar bin Abdul Aziz, yang naik menjadi khalifah di usia 36 tahun. Dalam dua setengah tahun pemerintahannya, ia berhasil membawa kesejahteraan hingga hampir tidak ada lagi rakyat yang mau menerima zakat.
Potensi Gen-Z sangat besar. Energi, kreativitas, dan keberanian mereka bisa menjadi bahan bakar perubahan. Namun, perubahan sejati hanya mungkin jika diarahkan dengan tsaqafah Islam. Islam bukan hanya menawarkan kritik, tetapi juga solusi menyeluruh untuk menata kehidupan dengan keadilan.
Jika generasi muda hari ini bersedia mengikatkan diri dengan Islam secara kafah, maka kebangkitan yang hakiki bukanlah mimpi. Dari tangan pemuda, sejarah Islam pernah mencatat kejayaan. Dari tangan pemuda pula, kebangkitan peradaban Islam di masa depan bisa terwujud. Wallahu a’lam bisshawab.
Nafisusilmi [CM/Na]
Views: 62






















