Negara yang menerapkan aturan Islam akan melahirkan pemuda-pemuda pemberani, cerdas, kritis, serta memperjuangkan Islam. Karakteristik mereka dibentuk melalui pendidikan berbasis akidah Islam sehingga kesadaran politik mereka terarah untuk mencari rida Allah, bukan sekadar luapan emosi sehingga berlaku anarkis.
CemerlangMedia.Com — Sangatlah disayangkan, potensi pemuda yang begitu besar untuk menyuarakan keadilan dengan suara lantangnya mengkritisi kebenaran malah dibungkam. Menurut Komisioner KPAI, penetapan 295 tersangka berusia anak-anak dalam kerusuhan pada akhir Agustus 2025, tidak memenuhi standar perlakuan terhadap anak sesuai UU Peradilan Anak karena pada saat penyelidikan, mereka tidak diperlakukan manusiawi dan juga diancam akan dikeluarkan dari sekolahnya (26-9-2025).
Kasus ini membuktikan bahwa generasi muda hari ini atau Gen Z tidak tinggal diam. Mereka mulai sadar politik dan menuntut perubahan atas ketidakadilan yang terjadi selama ini. Namun, kesadaran politik itu justru dikriminalisasi dengan label anarkisme. Hal ini seolah menunjukkan bahwa perlakuan terhadap Gen Z adalah bentuk pembungkaman suara kebenaran agar generasi muda tidak kritis terhadap penguasa.
Sistem demokrasi kapitalisme yang diterapkan tidak melihat benar salahnya berdasarkan kebenaran hakiki. Sistem ini juga hanya berpihak kepada yang mempunyai modal besar dan berkuasa saja. Suara mereka lebih didengar ketimbang pemuda yang menyuarakan kebenaran. Sistem ini hanya memberi ruang pada suara yang sejalan, sepemikiran, satu tujuan, dan satu kepentingan golongan tertentu, sementara yang mengancam akan dijegal atau dikriminalisasi.
Negara sebagai pengurus rakyat seharusnya memberikan ruang bagi pemuda untuk melejitkan potensi dan keberanian mereka agar bisa terarah. Potensi pemuda saat ini dengan suara lantangnya mengkritisi kebenaran, janganlah dibungkam begitu saja. Begitupun dengan semangat juangnya yang bergelora, haruslah tetap dijaga sepanjang masa karena pemuda merupakan bagian kemajuan bangsa dan peradaban dunia.
Berbeda dengan Islam. Islam memandang bahwa suara kritis pemuda sangatlah penting. Suara kritisnya akan menjadi koreksi bagi penguasa serta mampu mengubah perilaku mereka tatkala melakukan kesalahan, tentunya berdasarkan syariat Islam. Islam justru mewajibkan amar makruf nahi mungkar, termasuk mengoreksi penguasa ketika berbuat zalim, bukan malah membungkam suara kritis.
Negara yang menerapkan aturan Islam akan melahirkan pemuda-pemuda pemberani, cerdas, kritis, serta memperjuangkan Islam. Karakteristik mereka dibentuk melalui pendidikan berbasis akidah Islam sehingga kesadaran politik mereka terarah untuk mencari rida Allah, bukan sekadar luapan emosi sehingga berlaku anarkis.
Pemuda berjiwa pemberani, bersuara lantang, dan telah memiliki kesadaran politik haruslah memiliki tujuan yang jelas dan arah perjuangan yang benar. Oleh karenanya, kesadaran politik yang dibangun dalam memandang suatu persoalan bukan hanya mencari solusi dipermukaan saja, tetapi memahami persoalan dari akarnya. Alhasil, dengan cara pandang seperti ini akan mampu mewujudkan perubahan hakiki, yaitu perubahan berdasarkan rida Ilahi menuju Islam kafah.
Untuk itu, perlu disadari bersama bahwa solusi tuntas atas pembungkaman suara lantang pemuda adalah dengan mencampakkan sistem buruk buatan manusia yang berdasarkan akal semata, lalu kembali kepada sistem Islam buatan Sang Pencipta. Sistem ini haruslah diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan dalam bingkai negara.
Zakiah Ummu Faaza
Bogor, Jawa Barat [CM/Na]
Views: 22






















