Penulis: Ummi Fatih
“Dan hendaklah di antara kalian ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali-Imran: 104).
CemerlangMedia.Com — Apa kamu sudah tahu kalau manusia punya sifat banyak salah dan lupa yang merugikan, lo? Buktinya, dalam catatan sejarah saja, telah terdapat banyak fakta bahwa sifat-sifat tersebut membawa dampak keburukan, tetapi manusia sepertinya masih enggan mengambil hikmah.
Dalam hal keimanan, misalnya, manusia masih sering melupakan Tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta. Ketika manusia menyembah berhala, kemudian Allah Swt. murka dan mengirimkan berbagai macam azab-Nya di dunia, ternyata manusia masih berani kembali mengulanginya.
Kamu coba bayangkan saja, di zaman kehidupan Nabi Nuh yang sudah 500 tahun berdakwah bagi Kaum ‘Ad. Sebagian besar dari mereka justru masih memilih menyembah berhala. Tidak heran jika Allah Swt. pun mengirimkan azab banjir bandang besar untuk menenggelamkan mereka. Dia hanya menyelamatkan sekitar 80-an orang beriman dalam sebuah kapal besar agar mereka tidak punah. Hal itu bisa dilihat dalam dalil-Nya,
“Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam kapal, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).” (QS Al-A’raf: 64).
Selanjutnya, meskipun kisah azab besar itu sudah terkenal, tetapi manusia masih nekat menyembah berhala lagi, seperti Kaum Tsamud yang didakwahi oleh Nabi Saleh. Waduh, kenapa mereka belum ada kapoknya, ya?
Hanya gara-gara batu berhala yang mereka cintai, kedurhakaan mereka kepada Allah Swt. makin menjadi-jadi. Mereka berani membunuh mukjizat —untanya Nabi Saleh dan menyusun rencana pembunuhan terhadap beliau. Oleh karena itu, Allah Swt. pun memberikan azab ledakan gempa yang menghancurkan manusia dan meruntuhkan rumah mereka.
Lebih parah lagi, di zaman Nabi Luth, poin utama masalahnya bukan hanya tentang berhala. Namun, manusia sudah punya hobi baru berupa homos*ksual alias kecintaan dengan sesama jenis. Akibatnya, azab yang lebih besar juga Allah Swt. berikan terhadap mereka. Dalam surah Al-Hijr ayat 73-74 Allah Swt. berfirman,
“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jungkirbalikkan (negeri itu) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.”
Parahnya, berbagai peristiwa azab yang menakutkan itu tidak dipakai oleh manusia sebagai kacamata hikmah kehidupan menuju akhir zaman. Mereka lebih asyik di jalan kesesatan sekuler, mengaku beriman dan bukan nyembah berhala agar tidak disebut kafir, tetapi justru menjadi kaum munafik alias ‘Islam KTP’.
Namun, apa sadar kalau kaum munafik lebih berbahaya daripada kaum kafir? Kalau si kaum kafir sudah jujur karena menunjukkan penolakannya secara terbuka terhadap Allah Swt., baik dalam perbuatan dan hatinya. Sebaliknya, kaum munafik justru lebih banyak berdusta.
Kaum munafik terlihat menyatakan keimanan di bibir dan kepalanya juga selalu mengangguk-angguk membenarkan Islam, sementara hatinya malah penuh dengan kebencian dan tanpa ketaatan sejati. Waduh, amat busuk sekali golongan munafik, ini.
Oleh karena itu, sikap tegas yang harus dilakukan terhadap dua golongan ini adalah sama, yakni berjihad melawan mereka. Allah Swt sudah mengumumkannya dalam Al-Qur’an,
“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka, ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (QS At-Taubah: 73).
Namun demikian, di tengah gaya hidup sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan, marilah kita koreksi diri sendiri. Apakah kita sudah termasuk orang beriman sejati atau justru menjadi sosok munafik tanpa sadar? Saat kamu sudah setuju kalau Allah Swt. mengatakan bahwa mendekati zina adalah haram. Akan tetapi, saat kamu sedang jatuh cinta, lalu pacaran lebih kamu pilih untuk menangani gejolak nafsu asmara. Apa itu bukan munafik?
Begitu pula saat kamu sudah memilih rajin ibadah tanpa maksiat supaya nanti bisa masuk surga di akhirat. Namun, kenapa kamu masih diam dengan alasan malu, tidak mampu, takut, atau sungkan untuk mengingatkan bestie yang sedang asyik main judi online? Sementara kamu juga sudah tahu bahwa Allah Swt. mengharamkannya.
Waspadalah! Virus munafik itu menyebar luas. Untuk urusan seluruh umat Islam di dunia yang berkaitan dengan perang panas saat ini, barang kali kamu juga sudah rajin mendoakan kemerdekaan bagi saudara seiman kita di Palestina. Akan tetapi, semua itu masih bernilai kemunafikan jika kamu lebih memilih duduk dan beribadah tenang di rumah tanpa ketegasan untuk maju memberi pertolongan. Ingat, Guys! Allah Swt. sudah berfirman,
“Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu)” “Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya,” niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk.” (QS At-Taubah: 86).
Nah, sadar, kan kamu sekarang sifat salah manusia itu terjadi karena mereka egois. Rela memilih hal-hal yang salah asalkan sesuai dengan keinginannya sendiri. Lalu, sifat lupanya juga sama, mereka lebih mengutamakan keinginan nafsunya sehingga berani melupakan kebenaran. Akhirnya, kerusakan dan kerugian pun terjadi karena manusia sendiri.
Untuk keinginan melihat Tuhan, manusia memilih menyembah dan bersujud pada berhala yang sudah jelas tidak berkualitas untuk dimuliakan. Akhirnya, kehidupan jadi berantakan, mereka rela sujud di bawah kobaran panas matahari yang membuat badannya sakit dan dosanya tambah melangit.
Sementara itu, Allah Swt. yang hanya menyuruh sujud di bawah keteduhan atap rumah atau masjid tidak dipedulikan karena mereka merasa matanya tidak bisa melihat wujud-Nya di dunia ini. Sadarkah kamu bahwa mata manusia tidak akan pernah bisa melihat Allah Swt. karena Dia adalah Maha Pencipta, bukan ciptaan seperti berhala buatan manusia tadi.
Lantas, kalau para nabi suci sudah tidak mungkin diturunkan lagi oleh Allah Swt. untuk menasihati kaum-kaum yang berbuat kemungkaran seperti dahulu kala, maka kewajiban dakwah masih harus terus kita lakukan, terutama bersama kelompok dakwah ideologis. Ini bertujuan agar kita lebih mengenali Islam, lalu ikhlas melaksanakan dan tidak keberatan untuk menyebarkan kebenaran Islam, melawan virus sekuler munafik yang dianut masyarakat dan diterapkan di seluruh dunia.
Akhirnya, kita semua bisa beruntung selamanya. Di dunia jadi pahlawan, di akhirat pun dapat medali kemuliaan. Tuh, bahagia, kan?
“Dan hendaklah di antara kalian ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali-Imran: 104). [CM/Na]
Views: 37






















