Board of Peace, Pengkhianatan Para Pemimpin Muslim

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Solusi hakiki untuk Palestina tidak lain adalah jihad dan Khil4f4h. Konteks jihad bukan hanya sekadar perang fisik, tetapi perjuangan total untuk membebaskan tanah kaum muslim dari Zionis Yahudi. Namun, jihad tidak akan efektif tanpa institusi yang menyatukan umat. Di sinilah peran Khil4f4h menjadi krusial.

CemerlangMedia.Com — Dalam kunjungan kerjanya di Davos Swiss, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan keputusan Indonesia untuk bergabung menjadi bagian dari Board of Peace (misi perdamaian) yang digagas oleh Presiden AS Donald Trump. Prabowo memiliki rasa optimisme yang kuat bahwa ini merupakan kesempatan bersejarah untuk menciptakan perdamaian di Gaza, Palestina.

Ada lebih lebih dari 25 negara yang bergabung dalam BoP, termasuk tujuh negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, seperti Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Di sisi lain, ada juga negara yang mengindikasi maupun terang-terangan menolak bergabung. Alasannya karena struktur BoP tidak melibatkan Palestina ke dalam jajarannya dan dinilai tidak setara karena dominasi Donald Trump dalam pembentukannya (22-01-2026).

Setelah serangan demi serangan roket diluncurkan untuk menghancurkan semua bangunan dan menewaskan ribuan warga Gaza, Trump berencana untuk membangun kembali jalur Gaza menjadi pusat wisata mewah dan properti eksklusif. Dia menyebutnya dengan “Rivera Timur Tengah” (sebuah wisata pantai di Prancis dan Italia). Biaya pembangunan, didapat dari negara-negara yang tergabung dalam Board of Peace.

Membership BoP gratis di tiga tahun pertama. Namun jika ingin mendapatkan kursi permanen di dewan direksi, dikenakan biaya US$ 1 Miliar (setara Rp17 triliun). Lebih menyedihkan lagi, di saat ekonomi dalam negeri sedang tidak baik, Menteri Keuangan Purbaya mengatakan bahwa Indonesia akan memakai dana dari APBN untuk membership BoP.

Demi mewujudkan ambisinya, Trump akan mengusir paksa penduduk Palestina dari rumahnya sendiri tanpa prospek untuk kembali. Lalu menunjuk Mesir dan Yordania, termasuk Indonesia untuk membuka pintu selebar-lebarnya menerima kedatangan warga Palestina.

Sikap jumawa dan semena-mena Amerika disebahkan karena negara tersebut sadar bahwa tidak ada yang berani menentang. Diamnya para pemimpin negeri muslim terhadap genosida di Palestina seolah menunjukkan kepada siapa mereka berpihak. Oleh karena itu, wajar jika ada pernyataan bahwa ini adalah pengkhianatan para pemimpin muslim. Bagaimana mungkin berbicara perdamaian dengan penjajah sebenarnya.

Ketika Amerika dan sekutunya terus mendukung kebiadaban Zionis, para pemimpin negeri muslim hanya mampu mengutuk dan mengecam saja tanpa action/aksi nyata dengan alasan nasionalisme. Semestinya, negara-negara muslim yang memiliki kekuatan militer dan persenjataan terkuat, seperti Mesir, Turki, dan Saudi, mengirimkan pasukannya untuk membantu mengusir Zionis dari seluruh wilayah Palestina.

Sebab, muslim itu ibarat satu tubuh. Jika ada satu sakit, maka semua merasakannya. Tetapi faktanya mereka hanya diam, menutup mata dan telinganya. Eksistensi Zionis Yahudi tidak lepas dari pembiaran para pemimpin muslim. Sampai kapan kondisi ini akan berlangsung? Tanpa kekuatan, mungkin saja Palestina akan direbut Amerika.

Secara syariat, pembiaran musuh-musuh Islam menguasai Palestina adalah keharaman. Sebab, tanah itu milik kaum muslim yang dibebaskan Khalifah Umar bin Khaththab ra.. Siapa pun yang merampasnya, mereka adalah penjajah dan wajib diusir. Allah Swt. berfirman, “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa untuk menolong meraka.” (TQS al-Hajj: 39).

Akan tetapi, para pemimpin negeri muslim lebih rela menjadi budak AS demi sebuah kekuasaan, Mereka tidak peduli jika kekuasaannya harus dibangun di atas darah rakyat muslim dan mengingkari syariat Allah. Mereka lupa bahwa Allah Swt. akan meminta pertanggungjawaban atas pengkhianatan terhadap dien dan umat muslim, sebagaimana firman-Nya,
“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (TQS Ibrahim: 42).

Solusi hakiki untuk Palestina tidak lain adalah jihad dan Khil4f4h. Konteks jihad bukan hanya sekadar perang fisik, tetapi perjuangan total untuk membebaskan tanah kaum muslim dari Zionis Yahudi. Namun, jihad tidak akan efektif tanpa institusi yang menyatukan umat. Di sinilah peran Khil4f4h menjadi krusial.

Khil4f4h adalah sistem politik Islam yang akan mengkoordinasikan kekuatan militer, diplomatik, dan ekonomi umat Islam secara global, serta mampu mengarahkan potensi umat untuk membebaskan Palestina. Dengan Khil4f4h, umat Islam akan bersatu melawan penjajah dan mengatasi kelemahan negara-negara muslim yang tersekat-sekat dan tunduk pada tekanan Barat. Khil4f4h juga yang akan mengerahkan pasukannya untuk melindungi tanah suci milik kaum muslim. Tanpa institusi ini, pembebasan Palestina mustahil terwujud.

Mia Kusmiati [CM/Na]

Views: 24

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *