Header_Cemerlang_Media

Nasib Pemuda dalam Pusaran Kapitalisme

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Rahmiani Tiflen, S.Kep.
(The Voice of Muslimah Papua Barat)

CemerlangMedia.Com — Hati ibu mana yang tidak teriris ketika mengetahui fakta bahwa anak gadis yang telah ia besarkan dengan penuh kasih sayang, tetapi akhirnya harus ternoda akibat salah pergaulan sehingga akhirnya berakhir dengan kehamilan di luar nikah dengan risiko berat yakni Kehamilan Ektopik Terganggu (KET). Tentunya ini menjadi PR besar kita bersama sebagai sesama manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.. Sebab bagi seseorang yang beriman tentunya setiap permasalahan yang menimpa umat merupakan problematika yang harus disikapi berdasarkan tuntunan hidup, serta merupakan kewajiban kita dalam melakukan perbaikan di tengah-tengah masyarakat.

Fenomena Gunung Es

Sebagaimana dilansir dari beberapa media daring di antaranya www.republika.com (23-05-23) dan urbandepok.com (30-01-23) memaparkan berita terkait kasus yang menimpa seorang gadis berusia 16 tahun yang mengalami Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) akibat dari hubungan seksual aktif yang dilakukannya bersama sang pacar. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Amira Abdat, SpOG. Bahwa kehamilan di luar rahim atau kehamilan ektopik termasuk kondisi yang berbahaya karena berisiko menyebabkan tuba falopi pecah dan memicu komplikasi sehingga bisa berujung kematian.

Meski data terkait angka pergaulan bebas yang terjadi di kalangan pemuda khususnya Kabupaten Fakfak belum terdata secara detail, tetapi fenomena gaul bebas hari ini boleh jadi terlihat seperti fenomena gunung es, yang tampak di permukaan hanya sekelumit, tetapi pada kenyataannya banyak yang tidak ter-blow up. Bukankah pacaran, hura-hura, miras, rokok, party, hedon, merupakan trend yang sering dilakukan oleh para pemuda hari ini? Bahkan dalam circle pertemanan di kalangan remaja ada istilah belum gaul kalau belum punya pacar, atau ada yang beranggapan punya pacar itu bisa meningkatkan semangat belajar.

Padahal sesungguhnya hubungan antara laki-laki dan perempuan terlebih dalam arus sekularisme kapitalis, di mana nilai-nilai agama dinihilkan dari kehidupan, tentunya akan berakibat fatal. Sebab secara naluriah kedua jenis tersebut (laki-laki dan perempuan) memiliki ketertarikan fisik yang apabila tidak dikelola dengan benar berdasarkan tuntunan syariat tentunya rentan sekali terjerumus pada pergaulan bebas sehingga berujung zina.

Adapun kasus yang menimpa remaja di atas, hanya satu dari sekian banyak persoalan remaja yang harus berakhir dengan kehamilan di luar nikah sebagai akibat dari pergaulan bebas.

Penyebab Gaul Bebas

Miris memang mencermati kondisi pemuda kita hari ini, yang tentunya menyebabkan kekhawatiran tersendiri bagi para orang tua. Apa yang kurang dari penerapan nilai-nilai moral dan akhlak yang selama ini telah ditanamkan orang tua maupun pihak pendidik? Mengapa para pemuda hari ini masih terjebak dalam pergaulan bebas, hura-hura, hedonisme, FOMO (fear of missing out), dsb?

Ternyata semua permasalahan tersebut diakibatkan paham sekularisme yang bercokol dalam kehidupan kita, yaitu pemisahan agama dari kehidupan yang berdampak pula dalam sistem pendidikan hingga pergaulan kita hari ini. Terbukti dalam peta jalan pendidikan (2020-2035) frasa agama sama sekali dihilangkan, sementara frasa budaya ditulis berdampingan dengan Pancasila.

Adapun draf peta jalan pendidikan 2035 berbunyi ”visi pembangunan Indonesia 2035 adalah membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang sejahtera, dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila.”

Meski mendapat banyak respon negatif dari berbagai kalangan baik para tokoh ormas Islam, MUI, Komisi Pendidikan di parlemen pusat, hingga politikus parpol, tetapi hingga kini peta jalan pendidikan telah bergulir di dunia pendidikan yang melahirkan kurikulum merdeka belajar. Akhirnya penanaman akhlakul karimah sebagai pengejawantahan dari akidah tauhid serta gambaran generasi cemerlang tidak mungkin dapat dicapai. Justru sebaliknya, dengan dijauhkannya agama dari kehidupan manusia akan menyebabkan kerusakan baik dari sisi moral, attitude, karakter, hingga peradaban.

Di tataran bermasyarakat kita hari ini pun sama, di mana dalam muamalah dan tata cara berinteraksi antar lawan jenis menjadi serba bebas (liberal). Atas nama HAM, seseorang tidak boleh ditegur meski berdua-duaan dengan yang bukan mahramnya. Maka tak heran ketika melihat pergaulan muda-mudi kini, pemandangan pacaran (khalwat), campur baur (ikhtilat) di tempat umum sekalipun seolah menjadi hal yang lumrah. Katanya “namanya juga anak muda,” tak ada lagi rasa risih. Akibatnya terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan sehingga berujung perzinaan dan hamil di luar nikah. Kalau sudah begini, bukankah masa depan pemudi juga yang dipertaruhkan? Padahal peran perempuan sangatlah penting dalam menentukan tonggak peradaban manusia. Namun, apa jadinya jika para pemudi hari ini rusak akibat gaul bebas?

Sementara itu para pemuda yang diharapkan menjadi pemimpin dunia nantinya, justru menjadi pribadi yang akhlak less, trouble maker, dan minim akan tanggung jawab. Ya, pacaran adalah cara jitu dan pelarian bagi seseorang yang minim komitmen, tetapi ingin bersenang-senang tanpa terikat hubungan yang sah. Lagi pula, sanksi apa yang diberikan jika seseorang merusak kehormatan orang lain? Jika pun ada, hukuman tersebut sama sekali tidak memberi efek jera sehingga penjahat kelamin bebas melenggang begitu saja. Ironisnya, masyarakat menganggap ”sudah zamannya seperti ini!”

Cara Islam Mengatasi Pergaulan Bebas

Berbeda dengan Islam yang tak hanya sebagai agama, tetapi Islam pun merupakan mabda (ideologi) yang memiliki seperangkat konsep serta tata cara pelaksanaannya. Dalam sistem Islam, negara memiliki tiga pilar pembetuk peradaban, yaitu ketakwaan individu, masyarakat yang senantiasa melakukan perbaikan di tengah-tengah masyarakat (amar makruf nahi mungkar), dan adanya sebuah institusi yang menerapkan syariat Islam secara komprehensif. Adapun tatacara pelaksanaan tersebut dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut;

Pertama, dimulai dari penanaman akidah Islam dalam keluarga. Sebab pembentukan karakter bertakwa seharusnya dimulai dalam keluarga terlebih dahulu sebagaimana dimaksud dalam QS At-Tahrim: 6. Keluarga pun bertugas sebagai pembentuk kepribadian anak agar sesuai dengan tuntunan syariat sehingga anak sadar bahwa ia adalah makhluk ciptaan Allah Swt. yang senantiasa terikat dengan seluruh hukum-hukum-Nya seperti dijelaskan dalam QS Adz-Dzariyat: 56. Setidaknya anak telah memiliki landasan berpikir terkait akidah yang benar, yang pada akhirnya hal tersebut dapat menjadi semacam rem bagi dirinya ketika berinteraksi di tengah-tengah masyarakat.

Kedua, Islam pun telah menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan mendasar (hajatul asasiyyah) yang harus dijamin ketersediaannya di tengah-tengah masyarakat. Nabi Shalallahu alaihi wassalam bersabda, ”Imam adalah pemimpin, dia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR Al-Bukhari). Oleh karena itu, negara wajib memberikan pendidikan gratis dan berkualitas hingga pendidikan tinggi bagi seluruh rakyat. Adapun tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk individu yang berkepribadian Islam serta mampu membekali anak didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan urusan hidupnya. Kemudian pada ranah pendidikan tinggi, sistem pendidikan Islam akan menciptakan para ilmuwan andal di bidangnya masing-masing seperti hakim, ahli fikih, saintis, insinyur, dsb.. Keberhasilan tersebut telah terbukti berjaya selama rentang waktu empat belas abad lamanya dan menjadi mercusuar dunia.

Sistem pendidikan Islam terbukti menciptakan generasi cemerlang yang tidak hanya mampu mengejawantahkan keilmuan dunia, tetapi direalisasikan sehingga meraih rida Allah Swt., sebab tidak ada dikotomi antara ilmu pengetahuan dan agama. Walhasil, sistem Pendidikan Islam pun melahirkan para ilmuwan andal dan bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan mempergunakan seluruh potensi yang dimilikinya demi kemaslahatan umat manusia.

Ketiga, selanjutnya dalam sistem pergaulannya. Islam mengatur tata cara berinteraksi dalam masyarakat. Seperti yang tertuang dalam kitab Sistem Pergaulan dalam Islam karya Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, diterangkan bahwa adanya ketertarikan fisik atau rasa kecenderungan antara lawan jenis termasuk sesuatu yang naluriah dan alami. Akan tetapi, rasa itu jika tidak di-manage dengan baik maka dapat menimbulkan malapetaka, seperti pergaulan bebas (pacaran) yang berujung pada perzinaan dan rusaknya nasab akibat kehamilan yang tidak diinginkan. Untuk itu, Allah Ta’ala menetapkan aturan kepada manusia agar dapat menjaga pandangan serta memelihara kemaluan sebagaimana dimaksud dalam QS An-Nur: 30.

Sementara bagi anak gadis yang telah baligh (dewasa) ada pengaturan terkait penggunaan jilbab syar’i (QS Al-Ahzab: 59 dan QS An-Nur: 31). Adapun interaksi antara keduanya (laki-laki dan perempuan) wajib terpisah dan hanya diperbolehkan bertemu pada hal-hal tertentu, seperti dalam urusan pendidikan, kesehatan, jual beli, dsb.. Dalam Islam hubungan laki-laki dan perempuan adalah dalam rangka tolong-menolong.

Islam juga mengatur bahwa tidak ada hubungan apa pun yang dapat mempersatukan laki-laki dan perempuan untuk memenuhi naluri seksual mereka kecuali dilakukan dalam sebuah hubungan pernikahan yang sah. ”Islam telah menjadikan kerja sama antara pria dan wanita dalam berbagai aspek kehidupan serta interaksi antar sesama manusia sebagai perkara yang pasti di dalam seluruh muamalat. Sebab semuanya adalah hamba Allah Ta’ala dan semuanya saling menjamin untuk mencapai kebaikan serta menjalankan ketakwaan dan pengabdian kepada-Nya.” (Sistem Pergaulan dalam Islam, hal; 36)

Keempat, pamungkas adalah sebuah sistem sanksi yang diterapkan dalam Islam dan sangat tegas, yakni bagi pelaku zina yang belum pernah menikah, maka akan diberi hukuman cambuk sebanyak seratus kali kemudian diasingkan selama satu tahun (QS An-Nur: 2 dan HR Al-Bukhari).

Sedangkan bagi yang sudah pernah menikah, maka ia akan dirajam sampai mati seperti tersebut dalam hadis Nabi yang diriwayatkan saat Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berada di masjid, datanglah seorang pria menghadap beliau dan melapor, “Ya Rasulullah, aku telah berzina.” Mendengar pengakuan itu Rasulullah saw. berpaling dari dia sehingga pria itu mengulangi pengakuannya sampai empat kali. Kemudian Rasulullah bertanya, “Apakah engkau gila?” Pria itu menjawab, “Tidak.” Rasulullah bertanya lagi, “Apakah kamu orang muhshan?” Pria itu menjawab, “Ya.” Lalu Rasulullah saw. memerintahkan kepada para sahabat, “Bawalah dia pergi dan rajamlah.” (HR Al-Bukhari). Adapun sanksi hanya dapat ditegakkan oleh khalifah dalam sistem kekhilafahan.

Penutup

Demikianlah cara Islam menjaga keberlangsungan kehidupan, menjaga nasab dan keturunan sehingga manusia terhindar dari perilaku hewani, menjunjung tinggi harkat dan martabat seorang wanita sehingga dengan penerapannya mendatangkan keberkahan dari Allah Ta’ala.

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf: 96). Wallahu a’lam bisshawwab. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an