Header_Cemerlang_Media

Bukan Kepala Keluarga

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Irsad Syamsul Ainun
(Creative Designer CemerlangMedia.Com, Aktivis Muslimah Papua)

CemerlangMedia.Com — Berkerja menjadi salah satu ajang bergengsi bagi setiap individu. Apa pun statusnya, hal pertama yang akan ditanyakan selain dari pada gelar adalah ‘Apa kerjanya?’. Terkadang pekerjaan ini menjadi salah satu topik hangat untuk diperbincangkan baik kalangan anak muda, apalagi mama muda alias orang tua-tua atau bahasa terkerennya mereka yang lebih tua dari diri.

Jangan bayangkan dunia kerja akan menjadi hal paling sedap dipandang mata karena banyak pekerjaan yang terkadang melalaikan pelakunya daripada kewajiban sebagai seorang hamba yang memerlukan dan membutuhkan Tuhannya untuk meminta dan bermunajat. Pekerjaan pula yang terkadang dijadikan tuhan oleh para abdinya.

Ngomongin soal pekerjaan, tentunya dua pelaku utamanya yang tak lain adalah perempuan dan laki-laki. Tak kenal usia, mau dewasa, anak-anak, tua dan muda pokoknya kerja, kerja dan kerja. Sampai ada topik pembahasan tak kerja maka tak akan dapat makanan apalagi dapat hidup enak.

Sampai teringat pula dengan dua sosok manusia yang tak kalah kerennya mengungkapkan soal rezeki yang tak lain antara guru dan muridnya. Siapa mereka? Ya, mereka tak lain adalah Imam Malik dan muridnya Imam Syafi’i.

Dua tokoh fenomenal tersebut memiliki pandangan yang berbeda mengenai konsep rezeki. Namun, keduanya tidak saling menyalahkan apalagi sampai ngotot dengan argumen untuk menonjolkan diri. Nanti cari tahu ya, seperti apa kisah mereka berdua.

Well, back to pekerja. Jangan selalu menjadi orang yang apa-apa selalu disamaratakan. Apalagi sampai berpikir bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki kebebasan mutlak untuk selalu bekerja tanpa kenal lelah. Sebab, kedua makhluk ini telah digariskan dengan tugas dan fungsi masing-masing. Namun, di era yang serba modern ini, kata sebagian orang bahkan saya sendiri, tak ada hal yang tak disamaratakan. Buktinya, jika laki-laki bisa angkat besi, kenapa tidak dengan perempuan? Oh no, ini bukan seni yang enak dan sedap dipandang mata apalagi sampai kepada laki-laki tampil dengan gaya feminim. Memakai pakaian layaknya seorang wanita. Ini tentu bukanlah pemandangan pelangi bakda hujan karena pelangi buatan makhluk selalu mencemaskan plus mengkhawatirkan.

Kembali lagi kepada pekerjaan. Di era yang serba touch screen ini, kedua makhluk yang bernama perempuan dan laki-laki sungguh diprioritaskan bagaimana agar mampu bersaing di medan kerja. Walau secara kodrati dua sosok ini memiliki tugas masing-masing, tetapi dalam sistem kapitalisme sekularisme dua sosok ini menjadi makhluk yang sama rata.

Yang sejatinya Sang Khalik saja memetakan dua makhluk ini dengan tugas masing-masing tanpa menzalimi atau pun menghakimi salah satunya. Apalagi sampai mengatakan bahwa derajat laki-laki jauh lebih tinggi dibanding perempuan atau sebaliknya.

Oleh karena keduanya sama-sama memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kata takwa dan manisnya surga. Tidak perlu saling menjatuhkan. Laki-laki dengan sifatnya sebagai qawwam bukan raja diktator, ya. Dan perempuan sebagai madrasatul ulla, dan ummu warabatul bayit, juga tak kalah dengan status laki-laki yang dapat mendapatkan gelar syahid sebagai penumpas kezaliman di medan perang.

Pernah dikisahkan bahwa ada seorang syahabiyyah yang berkeluh kesah kepada suri teladan kita Muhammad saw. tentang statusnya sebagai wanita yang tak dapat meraih gelar syahid karena harus berdiam diri di rumah. Dengan tugasnya yang menyiapkan perbekalan suami, mengurus anak, hingga sampai memenuhi kebutuhan syahwat suami.

Namun, apa yang menjadi penenang bagi syahabiyyah tadi? Kata sang Rasul, “Tenang saja. Engkau akan tetap mendapatkan gelar syahid hanya karena tugasmu di rumah.” Kira-kira bahasa ini jika dianomali ke dalam bahasa anak zaman now, seperti ini “Ente di rumah pun nggak bakal menjadi penghalang untuk menjadi syahidah, sebab Ente pun mulia bukan karena Ente mampu berjihad di luar rumah, tetapi bagaimana Ente meraih kemuliaan sebagai wanita muslimah yang menjalankan rutinitas rumah karena Allah kemudian ikhlas, maka gelar syahid pun pantas untuk disematkan di akhir namamu.”

Sayangnya, di zaman ini perempuan dituntut bagaimana menghasilkan rupiah sehingga tak sedikit kalangannya yang berjubel dengan dunia kerja, tetapu lupa dengan tugas utamanya. Mereka dipandang baik ketika bekerja di luar rumah, baik itu pekerja kantoran atau pun yang lainnya.

Tidak salah jika harus bekerja, toh hukum kerja bagi perempuan adalah mubah. Akan tetapi, menempatkan wanita untuk sejajar dengan kaum qawwam adalah kesalahan besar. Sebab, baik laki-laki maupun perempuan telah digariskan dengan tugas masing-masing. Bukan untuk bersaing siapa yang paling banyak menghasilkan rupiah atau menjadi yang berotot karena melewati ujian angkat besi.

Maka mengembalikan fitrah keibuan, dan juga fitrah qawwam bagi kalangan laki-laki adalah tugas yang harus digaungkan di tengah-tengah umat. Sebab, perempuan bukan tulang punggung, dan laki-laki bukan tulang lunak.

Namun, perempuan adalah rahim peradaban. Laki-laki, dia adalah kepala madrasah yang akan menentukan visi misi perjalanan hidup. Jadilah diri dengan tugas dan peran tanpa harus adu jotos soal otot. Apalagi sampai mengukur standar sukses bagi perempuan adalah kariernya di luar rumah. Ini bukanlah standar baku dari Sang Khalik.
Wallahu a’lam bissshawab [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an