Header_Cemerlang_Media

Problematika Remaja

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Zafira Islam Farihaqi Ahd Ruhiyat
(Santriwati MA Mahad Madrasah Ummat, Founder of @theboc.id dan Kontributor tetap CemerlangMedia.Com)

“Remaja muslimah selalu identik dengan kata sopan, mulia, pemalu, dan lainya. Masa remaja adalah masa pengalihan dari kanak-kanak menuju pubertas, di mana kebanyakan para remaja mengalami perubahan baik secara fisik maupun secara psikis. Remaja menjadi generasi dan harapan bagi kaum muslimin saat ini. Namun, di zaman sekarang remaja seketika bisa menjelma menjadi seperti hewan bahkan melebihi hewan. Naudzubilahh.”

CemerlangMedia.Com — Jika kita membicarakan tentang remaja memang tidak ada habisnya. Karena seperti yang kita lihat sekarang, para remaja yang hanya bisa membuat malu keluarga, agama ataupun sekolah.

Pacaran, gadis tapi sudah tak lagi perawan, hamil di luar nikah. Mungkin itu sudah biasa kita dengar pada masalah remaja. Mereka sudah tak lagi memikirkan bagaimana nasib mereka di masa depan dan di akhirat kelak. Masa depan mereka yang awalnya cerah, seketika buram karena faktor lingkungan, keluarga, bahkan dari pendidikan atau yang lainya.

Ada Apa dengan Cokelat?

Siapa yang tidak tahu dengan makanan yang manis ini? Buah Cokelat yang bisa diolah menjadi berbagai macam makanan. Namun sayangnya, cokelat menjadi sangat identic untuk hari kasih sayang yang tepat pada tanggal 14 Februari. Satu event yang sering dirayakan bukan hanya remaja, tetapi dewasa pun sering merayakannya.

Belum lagi angka aborsi yang makin lama makin tinggi. Banyak remaja wanita yang masih gadis namun sudah tak lagi perawan. Hamil di luar nikah sudah menjadi masalah yang biasa. Perzinahan di mana-mana, L687 pun merajalela. Seperti inikah nasib dunia tanpa tegaknya syariat Khil4f4h di muka bumi? Naudzubillah…

Banyak para remaja yang memutuskan untuk hijrah. Namun, sangat disayangkan ia hijrah hanya setengah-setengah. Pernah dengar quotes “Jangan Lihat Manusia dari Covernya”. Apa maksudnya? Maksudnya ialah banyak remaja muslimah yang sudah memutuskan untuk menggunakan pakaian syari tapi dari segi berpakaian sangat bertolak belakang dengan berperilaku. Menggunakan pakaian syari tapi masih joget-joget, masih bergaul dengan lawan jenis dan masih melakukan maksiat lainnya. Ghiroh yang tinggi tidak disertai dengan belajar dan mengkaji Islam.

Banyak sekali problematika yang berkaitan dengan remaja. Entah problematika yang melibatkan dirinya sendiri atau dengan orang lain.

Hingga bisa disimpulkan ada beberapa faktor yang menyebabkan ini.
Pertama, pendidikan orang tua. Orang tua mana sih yang ingin anaknya sengsara? Tak ada, karena hati yang paling baik, mulia dan peduli, hanyalah hati nurani seorang ibu dan ayah. Tak ada yang peduli dengan masa depan anaknya kecuali diri sendiri dan orang tua.

Fondasi yang kuat dalam merencanakan anak agar memiliki akidah Islam hanyalah orang tua. Ibu sebagai madrasatul uula wal aula (Sekolah pertama dan utama) bagi anak-anaknya. Ibu yang mengajarkan anak berbicara, makan sendiri, dan juga bisa menancapkan akidah kuat sejak kecil pada anaknya.

Ayah, merupakan first love bagi anak perempuan, yang bisa menjadi leader of life dan contoh bagi anak-anaknya. Maka dari itu, peran orang tua sangat penting dalam kehidupan anaknya.

Namun tak bisa dipungkiri bahwa telah banyak orang tua yang melepas tanggung jawabnya begitu saja terhadap anak-anaknya. Ayah dan ibu bekerja, pergi pagi saat anak masih tertidur, lalu pulang malam saat anak sudah tetidur. Lalu saat weekend pergi meeting atau hangout bersama temannya. Lalu kapan family time? Tidak sedikit pula anak-anak yang dititipkan kepada neneknya, babysitter atau pembantunya.

Padahal kasih sayang antara ibu dengan pembantu ataupun babysitter sangat jauh bahkan bisa bertolak belakang. Oleh karena itu, maka seorang ibu memiliki peran penting dalam mendidik anak-anaknya. “Anak saleh lahir dari orang tua yang saleh.”

Kedua, dengan siapa mereka bergaul? Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. bersabda, “Seseorang tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dia jadikan sebagai teman dekat.”

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri-sendiri, kita membutuhkan bantuan dari orang lain. Kita tak selamanya bisa sendiri selagi kita hidup, ada yang akan menemani baik dalam suka maupun duka.

Namun hidup di zaman yang mengadopsi sekularisme sebagai sistem kehidupan, harus pintar dalam memilih teman. Kita boleh mewarnai tapi jangan sampai kita yang terwarnai.

Hindari circle pertemanan yang dapat menjadikan kamu Toxic Productivity.

Ketiga, peran negara. Negara berperan penting dalam menanggapi problematika remaja. Pemimpin negara yang memiliki amanah terhadap rakyatnya seharusnya bisa mendidik dan membentuk akidah para remaja untuk berkiblat ke arah Islam.

Penjara saja tidak cukup bagi manusia. Harus ada sistem yang dapat membuat jera. Seperti sistem Islam, ketika sistem Islam diterapkan dengan kafah di muka bumi maka yakinlah masalah akan berangsur-angsur selesai.

Ingat! Islam itu bukan prasmanan, yang enak diambil, yang tidak enak dibuang. Jadi, yuk kita ikuti kajian intensif yang dilakukan satu pekan sekali agar lebih memantapkan akidah islamiyah kita! [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an