Header_Cemerlang_Media

Brandu, Infeksi Kemiskinan yang Meradang

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Nilma Fitri, S. Si.
(Kontributor Tetap CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Endemi bakteri antraks yang mematikan telah menyerang warga Padukuhan Jati, Kelurahan Candirejo Kapanewon Semanu Gunungkidul, DIY. Tiga orang meninggal dunia, dengan salah seorang di antaranya positif virus antraks, dan 2 lainnya dilaporkan terpapar gejala antraks. Dari hasil uji yang dilakukan Kementerian Kesehatan, terdapat 85 warga lain menunjukkan seropositif antraks. Tercatat 12 ekor hewan ternak yang mati —enam sapi dan enam kambing— telah disembelih warga dalam tradisi brandu atau purak sebagai indikasi penyebab endemi di daerah tersebut (kompas.com, 8-7-2023).

Brandu adalah tradisi turun-temurun dan mengakar sejak nenek moyang dengan membeli ternak mati demi mengurangi beban peternak. Tradisi ini bertujuan untuk saling tolong-menolong dan meringankan kerugian akibat ternak yang mati. Entah itu disebabkan oleh penyakit atau juga karena sebab lain. Menurut Kepala Dukuh (Dusun) Jati, Sugeng, sapi yang mati akan disembelih dan dijual dengan harga lebih murah dari pasaran. Seluruh warga dusun jati yang mayoritas nonmuslim, juga ada beberapa warga muslim diwajibkan membeli, walaupun tidak ada paksaan untuk mengonsumsi (republika.co.id, 7-7-2023).

Seperti diakui oleh Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nuryani Zainudin bahwa wilayah Gunungkidul memang termasuk wilayah endemi antraks. Apabila tidak ditangani secara baik maka kasusnya akan terus berulang. Pemerintah daerah setempat juga provinsi telah banyak melakukan penanganan untuk mengatasi antraks ini. Mulai dari vaksinasi, disinfeksi, sosialisasi bahayanya mengonsumsi hewan mati karena sakit, hingga sosialisasi “biosecurity” kandang hewan ternak demi menekan laju penyebaran wabah antraks, tetapi endemi antraks tak kunjung berakhir hingga saat ini.

Menyelisik Endemi Antraks

Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto menilai penanganan wabah antraks di Wilayah Gunungkidul tidak bisa hanya ditelisik dari sisi kesehatan saja, tetapi perlu juga adanya perhatian dari sisi ekonomi dan edukasi masyarakat. Oleh karena itu, tradisi brandu yang masih lestari merupakan bentuk ketimpangan ekonomi serta kurangnya edukasi masyarakat. Jika masyarakat mampu dan menyadari akan dampak bahaya antraks, mereka pasti akan membeli daging yang lebih sehat dan meninggalkan tradisi brandu (tirto.id, 10-7-2023).

Diketahui juga, hasil survei BPS (Badan Pusat Statistik) per September 2022 menunjukkan persentase penduduk miskin Provinsi DIY mencapai 11,49% atau sekitar 463.630 jiwa (yogyakarta.bps.go.id), dan mendudukkan Provinsi DIY sebagai daerah termiskin di Pulau Jawa. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY Benny Suharsono mengakui bahwa masalah kemiskinan adalah pekerjaan yang masih harus ditangani oleh pemerintah daerah.

Dikutip dari gunungkidul.sorot.co (14-2-2023) ada tujuh kapanewon yang masuk dalam kemiskinan ekstrem di Wilayah Gunungkidul. Walaupun dari hasil pencatatan BPS pada 2022 angka kemiskinan di Gunungkidul turun dari 17,69 persen menjadi 15,86 persen, tetapi kondisi ini masih tetap tertinggi se-DIY.

Lambannya Penanganan

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Imran Pambudi menyatakan karena sudah ada kematian semestinya sudah memenuhi penetapan status KLB dan ini adalah kewenangan daerah untuk bisa menyatakannya (tirto.id, 6-7-2023). Akan tetapi, faktanya hingga saat ini pemerintah tak kunjung juga menetapkan endemi ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Wabah antraks sebenarnya berasal dari sifat spora bakteri antraks yang sangat resisten dalam keadaan apapun dan mampu bertahan hingga puluhan tahun di dalam atau permukaan tanah. Kemudian masuk ke dalam tubuh ternak melalui makanannya hingga menyebabkan infeksi. Tradisi brandu yang mengonsumsi ternak mati karena antraks inilah yang membuka peluang potensi kontaminasi antraks pada manusia.

Tradisi brandu dikatakan juga sebagai jalan meringankan kesusahan hidup malah menjadi bumerang bagi masyarakat Gunungkidul hingga mengorbankan nyawa. Kemiskinan yang meradang di tengah-tengah masyarakat memaksa mereka enggan meninggalkan kebiasaan. Mahalnya daging di pasaran tergantikan dengan potongan daging dari ternak mati bercampur bumbu tolong-menolong menggugah hati nurani. Alhasil, endemi pun tak dapat dihindari. Begitulah gambaran dampak kemiskinan masyarakat di Gunungkidul yang semestinya menjadi perhatian khusus negara.

Padahal sejak 2003 Provinsi DIY telah ditetapkan sebagai daerah endemi antraks dan terus berulang hingga saat ini, di 2023. Kondisi ini belum juga menunjukkan hasil penanganan yang signifikan karena permasalahan yang ditangani masih kurang serius demi menyelamatkan masyarakat Gunungkidul dari wabah antraks. Brandu masih menjadi tradisi, wabah pun sering terjadi adalah bukti lambannya penanganan negara mengatasi endemi antraks di Gunungkidul.

Islam Solusi Tuntas Permasalahan

Sebagai satu-satunya aturan yang dibuat oleh Pencipta manusia, Islam bukan hanya sekadar agama yang mengatur peribadahan saja. Akan tetapi, Islam merupakan sebuah ideologi yang memiliki pandangan hidup dan aturan lengkap untuk mengatasi semua permasalahan yang dihadapi manusia termasuk wabah antraks. Lalu, bagaimana Islam mencermati endemi antraks ini?

Pertama, endemi antraks adalah permasalahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dan kenyataan pahit yang menimpa rakyat. Dalam pandangan Islam, setiap permasalahan rakyat adalah tanggung jawab negara untuk memberikan solusinya karena negara berkewajiban melindungi dan memberikan jaminan kesejahteraan untuk rakyat. Rakyat adalah amanah kepemimpinan, maka permasalahan yang dihadapi rakyat, wajib mendapat pengurusan maksimal oleh negara. Sabda Nabi saw., “Pemimpin (khalifah) itu pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR al-Bukhari dan Ahmad)

Kemiskinan yang terus merundung masyarakat, juga termasuk tanggung jawab negara yang wajib diselesaikan. Apalagi bila berdampak pada kemaksiatan yang berkelanjutan, seperti halnya tradisi brandu yang tetap eksis sampai sekarang. Ancaman Islam pun sangat keras bagi penguasa yang menelantarkan kebutuhan rakyatnya, sabda Rasulullah saw., “Tidak seorang pemimpin pun yang menutup pintunya dari orang yang membutuhkan, orang yang kekurangan dan orang miskin, kecuali Allah akan menutup pintu langit dari kekurangan, kebutuhan, dan kemiskinannya.” (HR at-Tirmidzi)

Kedua, menyoal tradisi brandu yang mengonsumsi bangkai binatang, Islam telah jelas memberi label haram bagi bangkai untuk dikonsumsi manusia. Allah Swt. berfirman, yang artinya: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala….” (TQS Al-Ma’idah[5]: 3)

Ketika Allah mengharamkan sesuatu atas manusia, pastilah apa yang diharamkan itu akan memberikan dampak buruk bagi manusia. Begitu juga dengan bangkai, hewan mati dengan sendirinya dapat disebabkan karena terserang penyakit berbahaya atau racun mematikan. Maka akibatnya apabila dikonsumsi, manusia akan dapat terpapar penyakit dan racun berbahaya tersebut, seperti halnya wabah antraks. Inilah dampak laku manusia yang melanggar apa yang telah Allah haramkan. Wabah antraks pun menyebar setelah memakan hewan yang mati bahkan sampai pernah dikubur kemudian mereka konsumsi kembali.

Ketiga, Islam telah mengatur tolong-menolong (ta’awun) hanya untuk hal-hal yang halal bukan yang haram. Tradisi brandu yang ditujukan untuk meringankan beban peternak hewan yang mati kemudian mengonsumsinya tidak tepat dilakukan. Allah Swt. berfirman, yang artinya: “… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (TQS Al-Ma’idah: 2)

Dalam tradisi brandu, tolong-menolong yang dilakukan termasuk ke dalam perbuatan dosa dan pastinya tidak akan membuahkan pahala, karena mengonsumsi bangkai bagi manusia adalah haram. Berbeda halnya jika bangkai yang dibeli digunakan untuk makanan hewan, maka tidaklah mengapa. Akan tetapi, perlu diwaspadai apabila bangkai hewan yang mengandung penyakit berbahaya dijadikan makanan hewan lain, maka tidak menutup kemungkinan penyakit tersebut akan ikut masuk ke tubuh hewan yang mengonsumsinya sehingga menyebabkan penularan penyakit ke hewan lain.

Begitulah Allah telah memberikan aturan yang harus senantiasa ditaati manusia demi meraih kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat. Sudah semestinya umat Islam menyadari bahwa hanya hukum Islamlah satu-satunya hukum dari Allah sebagai pengatur seluruh aspek kehidupan dan solusi atas setiap permasalahan. Allah Swt. berfirman, “Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir, zalim, dan fasik.” (TQS Al-Ma’idah: 44, 45, 47) [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an