Header_Cemerlang_Media

Penemuan Dibajak untuk Kepentingan Sepihak?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Anita Ummu Taqillah
(Pegiat Literasi Islam)

CemerlangMedia.Com — Kekayaan negeri ini tidak hanya tentang banyaknya sumber daya alam yang melimpah ruah. Melainkan juga kaya akan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, cerdas, dan berprestasi. Sebut saja salah satunya BJ Habibie yang sangat kita kenal mampu membuat pesawat. Namun, sayang, ilmu dan karya Habibie seolah tak berarti di negeri ini.

Selain Habibie, banyak pula para penemu teknologi maupun sains yang sempat bermunculan. Namun, lagi-lagi, karyanya tenggelam sebelum menghasilkan manfaat bagi umat. Penemuan mereka seolah dibajak sehingga tak mampu berpijak. Sebagaimana akhir-akhir ini, beberapa penemu mendapat kesulitan mengembangkan karyanya.

Dilansir CNN Indonesia (9-7-2023), Nikuba yang diklaim sebagai alat pengubah air menjadi bahan bakar, kembali viral setelah mendapat atensi dari mancanegara. Namun, sayangnya, hasil tangan pria asal Cirebon Jawa Barat yang bernama Aryanto Misel ini tidak berjalan mulus di Indonesia. Pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan pakar otomotif lain meragukan kinerja alat itu.

BRIN mengaku bahwa pihaknya sudah mengetahui tentang Nikuba sejak 2022 lalu. Bahkan pernah mengirim tim untuk melihat alat tersebut dan menyatakan perlu adanya riset lanjutan. Namun, nyatanya hal ini kembali viral justru karena menjadi perbincangan mancanegara. Artinya, belum ada tindak lanjut dari negeri ini?

Tidak hanya penemu Nikuba, para penemu lain juga bermunculan sejak dulu. Pada 2017 lalu Surono Danu salah satunya, yang desanya mendadak terkenal dengan bibit padi lokal unggulan. Yaitu Desa Nambah Dadi, Kecamatan Terbagi Besar, Kabupaten Lampung. Surono-lah sosok yang menemukan bibit tersebut (Liputan6.com, 9-7-2017).

Di bidang kesehatan, mengutip dari ANTARA pada Kamis (24/9), tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Brawijaya (UB) Malang menemukan obat oles alternatif untuk pengobatan kanker mulut. Obat alternatif itu terbuat dari bahan baku berupa ekstrak daun kemangi (Merdeka.com, 2021).

Selain beberapa penemuan tersebut, masih banyak lagi penemuan-penemuan anak negeri bermunculan. Namun, bagai ditelan bumi, penemuan-penemuan tersebut tidak ada kabar kelanjutannya. Sebab, setiap penemuan sejatinya harus diadakan riset lanjutan dan tentu hal ini butuh dukungan banyak pihak, terutama negara.

Untuk kasus Nikuba, Anggota Komisi VII DPR RI Abdul Kadir Karding meminta pemerintah memberi dukungan kepada Nikuba. Sebab seharusnya inovasi yang berdampak pada kemajuan teknologi di Indonesia seharusnya diapresiasi negara. Abdul Kadir juga menyampaikan bahwa pemerintah harus proaktif merangkul serta mendukung pengembangan kemampuan dan inovasi anak bangsa agar memotivasi lahirnya karya-karya luar biasa puta putri bangsa (CnnIndonesia, 7-7-2023).

Jika BRIN meragukan karya anak bangsa, Nikuba salah satunya, maka seharusnya kritik dari Anggota DPR di atas segera ditindaklanjuti. Bukan membiarkan luar negeri melirik dan tertarik dengan hasil inovasi anak bangsa sendiri. Sebab, jika dibiarkan dan ternyata negara luar berani membeli mahal, maka perkembangan teknologi yang seharusnya bisa bermanfaat untuk masyarakat akan hilang begitu saja. Apalagi saat ini harga BBM di negeri ini terus melangit.

Pembiaran Nikuba dilirik asing membuktikan bahwa negara seolah abai dan tidak menghargai karya anak bangsa. Hal itu seolah menunjukkan bahwa negara terkesan mendukung para pengusaha atau oligarki tetap menguasai sumber daya alam dan membiarkan penemuan-penemuan anak bangsa tidak berkembang karena akan mengancam pengusaha yang telah menguasai negeri ini.

Selain itu, jika penemuan anak bangsa berkembang pesat, maka akan banyak masyarakat yang beralih ke penemuan tersebut. Jika itu terjadi maka pemasukan bagi pengusaha akan jauh berkurang dan terancam rugi. Namun, membiarkan penemuan anak banyak dilirik asing juga membuktikan jika negara lebih rela karya anak bangsa dibajak asing daripada dimanfaatkan oleh masyarakat sendiri.

Inilah cengkeraman nyata sistem kapitalisme di negeri ini. Yang tentu sangat berbeda dengan sistem Islam. Sebab dalam Islam, penemuan karya anak bangsa merupakan harta karun yang harus didukung dan difasilitasi riset-risetnya. Baik dari segi fasilitas, biaya, dan hal lain yang menjadikan karya dan inovasi tersebut berhasil dan bermanfaat bagi masyarakat juga negara.

Di masa Islam berjaya, banyak ilmuwan yang lahir dengan karya-karyanya yang luar biasa. Sebut saja Ibnu Sina di bidang kesehatan, Al Khawarizmi di bidang matematika, Al Haitsam di bidang optik, dan masih banyak yang lainnya. Bahkan karya dan temuan mereka masih dipakai pada bidangnya masing-masing hingga saat ini. Masyaallah, sungguh luar biasa penghargaan Islam terhadap para penemu.
Wallahu a’lam bisshawwab. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an