Header_Cemerlang_Media

UU KIA Ketok Palu, Akan Sejahterakah Anak dan Ibu?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Neti Ernawati
(Aktivis Dakwah Muslimah)

CemerlangMedia.Com — Menilik berita pada Rapat Paripurna DPR yang sudah mengesahkan Undang-Undang Kesejahteraan Ibu dan Anak (UU KIA) pada fase seribu hari pertama kehidupan (detiknews, 08-04-2024), beberapa pihak memberikan respon positif, di antaranya adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tuti Elfita, selaku Ketua Departemen Kajian Perempuan, Anak, dan Keluarga BPKK DPP mengatakan bahwa partainya menekankan pengesahan UU KIA berkaitan dengan kegiatan penyelenggaraan kesejahteraan ibu dan anak adalah bagian integral dari keluarga.

Sementara ayah memiliki peran aktif dalam hal perlindungan, pendampingan, serta dukungan kepada keluarga untuk mencapai kesejahteraan yang optimal. Oleh karena itu, PKS mengapresiasi penambahan kata ayah di UU KIA dalam kewajibannya terhadap keluarga (liputan6.com, 09-06-2024).

Tanggapan positif juga diberikan oleh Kementerian Ketenagakerjaan. Indah Anggoro Putri selaku Dirjen PHI dan Jamsos Kemnaker menyebutkan, UU KIA dipastikan akan meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan bagi pekerja. Pengesahan UU KIA menjadi undang-undang merupakan wujud nyata komitmen DPR dan Pemerintah untuk menyejahterakan ibu dan anak menuju Indonesia Emas. Kemnaker juga memastikan bahwa UU KIA tidak ada pertentangan dengan aturan-aturan ketenagakerjaan lainnya seperti UU Ketenagakerjaan maupun UU Cipta Kerja (detiknews, 07-04-2024).

Menyasar Masa Cuti dan Tunjangan Gaji

Ada beberapa poin penting yang disasar UU KIA, di antaranya adalah ibu bekerja yang melahirkan. Mereka akan mendapatkan masa cuti hingga 6 bulan tanpa pemberhentian kerja dan tetap mendapat gaji penuh pada 4 bulan pertama dan mendapat gaji sebesar 75% pada bulan berikutnya selama masa cuti.

Pertanyaannya, seberapa mampu UU KIA ini meningkatkan kesejahteraan anak dan ibu? Apakah kebutuhan anak dan ibu hanya sebatas pada waktu pengasuhan 6 bulan pertama kehidupan anak dan pemberian gaji selama masa cuti? Selain dari sisi yang katanya agar ibu tetap mampu memberdayakan diri melanjutkan karir.

Seperti kita ketahui, ibu adalah kehidupan pertama anak. Ibu yang memperkenalkan anak, mulai dari tidak bisa apa-apa sampai dia mampu menghadapi dunia. Dalam Islam dikenal istilah al-umm wa rabbatul bayit, yaitu ibu memiliki peran sebagai madrasah pertama bagi anak, meliputi pengasuhan dan pendidikannya agar tercipta generasi pengisi peradaban.

Proses pengasuhan dan pendidikan ini dilakukan seorang ibu kepada anaknya secara terus-menerus hingga usia anak mencapai mumayiz atau dianggap mampu membedakan hal yang berbahaya dan hal yang baik bagi dirinya. Biasanya dicapai oleh anak pada usia 7 tahun.

Namun, peran pengasuhan ibu tidak berhenti sampai di situ, masih tetap diperlukan hingga anak mencapai usia balig atau dewasa. Atas dasar kebutuhan masa asuh yang lama tersebut, sudah jelas bahwa UU KIA belum mampu mengcover kesejahteraan anak dan ibu di bidang pengasuhan.

Selain itu, pemberian gaji selama cuti melahirkan hanyalah solusi parsial. Yang diperlukan ibu bukanlah gaji cuti selama 6 bulan, tetapi perlindungan agar ibu mampu memberikan pengasuhan secara total untuk menciptakan generasi cemerlang, mengembalikan peranan ibu sesuai fitrahnya, yakni sebagai ibu dan pengatur keluarga. Bukan mengasuh selama 6 bulan, kemudian kembali berdikari mengejar karir.

Masalah Mendasar Tidak Tercapainya Kesejahteraan Anak dan Ibu

Permasalahan nafkah sejatinya adalah tanggung jawab laki-laki. Namun, sistem ekonomi kapitalisme telah mengubah tatanan tersebut. Saat kebutuhan makin sulit, mau tidak mau kaum perempuan dipaksa mengambil peran untuk memenuhi tuntutan hidup.

Di sisi lain, sistem kapitalisme tanpa henti menggaungkan opini kesetaraan bahwa perempuan memiliki kedudukan dan hak yang sama untuk mengambil peranan dan karir seperti laki-laki. Perempuan dianggap makin berdaya bila mampu hidup mandiri.

Inilah dampak sesungguhnya dari pemahaman sekuler, yaitu pemahaman yang memisahkan antara agama dan kehidupan. Secara agama, kita tahu fitrah seorang ibu adalah pendidik generasinya. Namun secara kehidupan, posisi ibu dibenturkan dengan tuntutan berdikari dalam pemenuhan kebutuhan.

Dua posisi ini tidak dapat dilakukan secara bersamaan dengan total. Pasti akan ada tugas yang tidak dapat dilaksanakan secara maksimal atau malah menjadi kurang memuaskan.

Sistem Ekonomi Islam Menjamin Kesejahteraan

Islam sebagai agama ideologi memiliki sistem ekonomi yang mampu menjamin tercapainya kesejahteraan rakyat, termasuk perempuan, tanpa meletakkan kewajiban mencari nafkah pada perempuan. Dalam mendukung peran laki-laki sebagai pencari nafkah keluarga, negara dengan sistem ekonomi Islam akan hadir untuk memastikan setiap laki-laki mendapatkan pekerjaan dan upah yang layak agar mampu memenuhi kebutuhan dasar kehidupan keluarganya. Oleh karenanya, perempuan tidak perlu khawatir dengan keadaan ekonomi keluarga sehingga dapat terus fokus pada peran sesuai fitrahnya.

Sistem ekonomi Islam juga akan membuat negara hadir dalam pemenuhan kebutuhan dasar publik, yaitu meliputi pendidikan, kesehatan, dan keamanan yang dapat diperoleh masyarakat secara gratis. Dengan begitu, perempuan akan makin mudah melaksanakan perannya dengan baik, tanpa dituntut mengambil peran untuk bekerja. Kalau pun nantinya ada perempuan yang bekerja, dalam tatanan sistem ekonomi Islam, adalah untuk memanfaatkan ilmu yang dimiliki dengan regulasi waktu yang ditentukan agar tidak mengganggu perannya di rumah.

Islamlah satu-satunya solusi kesejahteraan anak dan ibu. Hanya Islam yang dengan tulus memperhatikan kesejahteraan anak dan ibu demi berjalannya posisi strategis dan politis peran keibuan dalam membangun generasi cemerlang. Islam memuliakan perempuan dengan segala peran fitrahnya, bukan dari berapa banyak uang yang dihasilkannya. Begitulah kemuliaan perempuan di bawah naungan syariat Islam yang diterapkan dalam Daulah Khil4f4h. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an