Header_Cemerlang_Media

Jahiliah Kabangetan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Irsad Syamsul Ainun (Aktivis Muslimah Papua)
(Tim Redaksi CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Setiap kali ada pembicara di setiap event-event keagamaan, tak pernah absen kalimat, “Patut disyukuri berkat perjuangan Muhammad saw. yang telah membawa umat ini dari zaman jahiliah, menuju zaman yang terang benderang sebagaimana yang tengah dirasakan umat saat ini.”

Banyak individu di antara umat saat ini memahami kalimat tersebut sebagai bentuk abstrak dari makna manusia saat ini dapat mengenyam pendidikan dengan bebas, cerdas secara intelektual, memiliki penghasilan jutaan, dapat menikmati berbagai fasilitas dan kemewahan yang ada di berbagai belahan bumi, juga tentang kebebasan memilih, bahkan kebebasan dalam bergaul, dan juga beragama.

Ah, bestie memang bisa saja. Mengantongi kata jahiliah hanya pada yang terlihat oleh mata, namun tersembunyi di antara kemaksiatan yang beredar, daan menggerogoti hampir seluruh kalangan. Baik anak-anak, remaja, orang tua bahkan tokoh-tokoh berpengaruh pun terkadang lebih besar keberpihakannya pada persoalan yang menjauhkan akidah dan syariah dari kehidupan manusia.

Jika kita telisik lebih jauh, ternyata jahiliah bukan hanya berbicara tentang ketidakbebasan dan juga kebodohan seperti yang kita tahu selama ini. Memang benar, dahulu manusia lain terlihat begitu hina di atas penguasa yang kaya raya, wanita terlecehkan, bahkan tak kalah sengitnya, wanita hanya mampu dijadikan sebagai pemuas nafsu para tuan. Anak-anak perempuan pun tak ubahnya ibarat daging busuk yang harus dilenyapkan karena dianggap tak bermakna. Sedangkan kaum Adam bisa hidup seenaknya. Kelahirannya akan disambut dengan sumringah kebahagiaan.

Sepertinya kelahiran ini menjadi tanda kemenangan yang menjanjikan. Allahu Rahman!! Betapa jahiliahnya kehidupan kala itu. Namun, satu hal yang juga tak bisa dipungkiri bahwa di zaman jahiliah kala itu, banyak tokoh yang pemikirannya cemerlang, salah satu di antaranya adalah Umar bin Khattab. Yang memiliki jiwa kharismatik. Pun dengan kepemimpinannya, sampai ia digelari Al Faruq ketika memeluk Islam nan mulia.

Dan dari sana kita harusnya sadar bahwa sifat kejahiliaan sesungguhnya tidak hanya sekadar diukur oleh kecerdasan intelektual namun jauh daripada hukum syarak dan ketetapan aturan yang telah diturunkan oleh Pemilik Semesta melalui kekasih-Nya Rasulullah saw..

Bisa dibayangkan, betapa kebobrokan di zaman sebelum Islam yang dikenal dengan zaman jahiliah penuh dengan nafsu. Penguasa seenak hati memperlakukan manusia tanpa rasa kemanusiaan, asusila di mana-mana, kemaksiatan tumbuh subur ibarat jamur di musim hujan. Lalu, Islam datang dengan tidak membedakan kedudukan si kaya dan si miskin, si budak dan tuannya, juga tak kalah penting wanita bisa mengenyam status mulia. Bahkan akibat kemuliaan itu, ia digelari ummu warabbatul bait, madrasatul ula, dan tak kalah penting kedudukannya disebutkan tiga kali sebelum ayah. Masyaallah! Lalu, apa lagi yang harus diragukan dengan kehadiran Islam yang damai ini?

Apa yang harus diragukan dengan kehadiran Islam? Bukankah telah terbukti selama kurang lebih 14 abad lamanya ia mampu menjaga kehormatan, keselamatan, dan ketentraman jiwa setiap yang bernaung di bawahnya? Di bawah panji-panji para khalifahnya, ia telah melahirkan pemuda yang tumbuh dengan ambisi meraih rida Illahi untuk kebahagian hakiki di yaumul akhir kelak.

Lihat … Lihat … Lihatlah …! Wahai anak muda zaman now, katanya sekarang bukan lagi zaman jahiliah, tapi kejahilan yang kau buat melebihi jahiliah sebelum zaman ini. Setiap generasi dikerdilkan oleh pencapaian-pencapaian dunia yang sifatnya fana, kesuksesan diukur berdasarkan materi, kebahagiaan pun demikian. Sedangkan kesenangan dibeli dengan tak lagi menghiraukan halal haramnya. Wanita-wanita zaman ini dituntut untuk terjun dan sibuk dengan dunia luar, lalu anak-anak terabaikan. Para lelaki, disibukkan dengan mencari pasangan yang sukses secara finansial, juga tak kalah dengan standar penampilan yang di atas rata-rata. Apa kabar dengan standar agama sebagai tolok ukur utama yang telah diingatkan oleh Rasulullah, sang teladan umat ini?

So, sebagai pemuda muslim seharusnya kita mampu menyadari betapa peradaban hari ini bukanlah peradaban gemilang, melainkan rancangan kebebasan yang menjauhkan agama dari kehidupan. Dan ini berarti bahwa jahiliah hari ini lebih memilukan dibanding jahiliah dahulu.

Bangkitlah wahai pemuda, bangkit! Tumbangkan segala bentuk peradaban barat yang telah mencabik-cabik persatuan umat muslim hari ini, kokohkan langkah untuk terus berjuang untuk mengembalikan peradaban mulia yakni Islam rahmatan lil alamin.

Wallahu a’lam bissawab [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an